30 Des 2010

Surga Dunia


Lokasinya sekitar 2 jam penerbangan dari Soekarno Hatta, mengarah ke barat laut. Pulau besar yang juga sempat hancur karena tsunami waktu itu sekarang udah recovery dan bahkan disebut-sebut sebagai tujuan wisata utama di Asia, sering disejajarkan dengan Bali.

Satu hal yang bener-bener menyenangkan, tempat ini bisa untuk wisata pantai dan gunung! Gunung dalam arti... beneran gunung. Ada air terjun, jalan super menanjak, bahkan lebih curam dari jalanan menuju Puncak waktu saya ke sana. Dan itulah kenapa menurut saya, Phuket beneran kayak surga yang ngasih apa aja.

Good place
Waktu kemarin saya ke sini, saya stay di daerah Patong selama 6 hari. Di sini daerahnya rame banget, banyak kafe, night club, pedagang-pedagang makanan pinggir jalan, pokoknya bener-bener pusat keramaian. Mungkin kalo diumpamain, ini adalah Kuta-nya Phuket. Nggak salah juga sebenernya, soalnya kalo dibandingkan dengan daerah lain seperti Kamala Beach, Phang Nga, dan sebagainya, kelihatannya Patong itu jauh lebih rame..

Patong Beach

Selain sering main-main ke Patong Beach yang berjarak 20 menit jalan kaki dari hotel tempat saya menginap, saya sekeluarga juga mengikuti tur ke pulau-pulau sekitar. Sebenernya tur yang ditawarin berbagai agen wisata itu banyak banget, ada yang ke James Bond Island, Krabi, Samui, dan sebagainya. Tapi karena waktu yang kami miliki terbatas, akhirnya kami memilih untuk ikut tur ke Phi Phi Island, gugusan pulau-pulau kecil yang pantainya sungguh.....astaganaga bagusnya.

Tur yang saya ikuti memakan waktu seharian penuh, kami berangkat pukul 8 pagi ke pelabuhan dan memulai kunjungan pertama dengan speed boat. Pulau yang kami kunjungi itu Maya Bay (tempat shooting The Beach-nya Leonardo Di Caprio), Phi Phi Don, Khai Island, dan satu lagi saya lupa namanya. Pokoknya di pulau yang satu lagi ini kami boleh snorkeling dan ngeliat monyet-monyet di pinggiran pantai.

Maya Bay

Saya nggak berhenti takjub setiap menginjakkan kaki di pantai-pantai itu. Bagus... banget. Parah. Pasirnya halus dan putih banget, airnya jernih dan saking jernihnya, ikan-ikan beneran kelihatan walaupun cuma dilihat dari atas speed boat. Bahkan di Khai Island, ikan-ikan itu sendiri yang mendatangi kita di tepi pantai. Mereka nggak takut dideketin, bahkan mereka yang lebih sering nempel-nempel dan gigit-gigit kecil mengira bakal dikasih makan.

Big Buddha

Sayang sekali saya nggak bisa mengikuti tur ke tempat lainnya karena waktu yang terbatas, tapi buat saya, ini udah cukup banget membuat liburan kemarin sangat bermakna. Setidaknya, walaupun sebenernya di inbox email banyak laporan sedang menunggu, dan ujian di depan mata, saya bisa melupakan sejenak apa yang menjadi beban saya belakangan..

Good Food
Beruntung, keluarga saya adalah tipe penyuka makanan yang bisa dibilang berani. Kami semua suka makanan yang spicy, nggak masalah dengan makan makanan di warung pinggiran jalan selama itu kotornya nggak keterlaluan dan selama rasanya tidak terlupakan.

Preferensi tersebut membuat wisata kuliner kami di Phuket kemarin sangat sukses! Dari tom yam yang asem pedesnya nggak tau lagi, som tam si salad pepaya yang juga nggak kalah 'berani', fresh oyster yang sambelnya parah enaknya, sampe noodle soup yang sedikit manis tapi cukup berhasil menghangatkan perut dengan rasanya yang nggak terlupakan. Beruntung juga, harga makanan yang kami temuin ini juga nggak menguras kantong banget. Justru karena bukan di restoran yang terlalu mewah, makanan ini terasa sangat original. Kami juga menghindari tempat makan yang terlalu banyak orang Eropanya karena taste-nya cenderung kurang spicy dari harapan hehee..

Noodle Soup

Mungkin buat mereka yang nggak bisa makan pedes, atau perutnya terlalu sensitif, emang harus memilih jenis makanan yang lebih aman. Perut saya juga sebenernya cuma tahan beberapa hari sebelum menunjukkan gejala-gejala 'penolakan'. Tapi makanan Thai yang lain bisalah dinikmati. Jangan lupa, kalo nggak suka susu, penjelasan akan Ice Coffee dan Ice Tea harus dijelasin dengan super ekstra. Soalnya, dari pengalaman kemarin, yang namanya kedua minuman tersebut pasti yang dimaksud adalah minuman kopi/teh yang udah dicampur creamer dan susu kental manis. Kalo mau kopi biasa, pesennya Hot Black Coffee aja plus es batu, dan kalo mau teh biasa, paling adanya lemon tea.

Great Escape
Nggak salah kalo pengalaman kemaren bener-bener menjadi penutup yang manis untuk tahun 2010 saya yang cukup..... berat. Saya sih berharapnya dalam waktu dekat bisa menyelesaikan petualangan yang masih tertunda. Mungkin suatu waktu kita bisa bertemu di sana ;)

28 Des 2010

Tropical Christmas

Maya Bay

I love this place, the beach, the sky, the ocean, the fish, those people, the food, the laughter, and everything
thank God for this magical Christmas.

Wish you all the blessings as well :)

20 Des 2010

Kertas

"Dia ga sadar dia itu kertas, yang hidupnya ditulis sama orang lain"

Itu kata-kata yang kelihatannya terlalu melankolis. Dan tebak itu muncul darimana.

Bukan dari film yang saya tonton (mengingat belakangan otak saya nggak kuat nonton film berbobot). Bukan dari buku yang saya baca (apalagi sekarang saya udah jarang baca lagi..). Bukan dari alter ego saya yang suka muncul kalo menulis blog dan membuat saya suka mengeluarkan kata-kata yang terdengar sok dewasa.

Kata-kata itu muncul dari mimpi.

Oke, mungkin ini aneh.. Tapi saya juga nggak ngerti kenapa kata-kata itu muncul gitu aja di mimpi saya, apalagi ceritanya hal tersebut diucapkan seseorang yang entah siapa ke saya. Seakan itu membicarakan saya..

Dan ketika saya bangun, kalimat itu terus terulang-ulang. Saya juga nggak ngerti kenapa. Mungkin ini cuma sekedar pesan dari alam bawah sadar saya. Sedikit menyadarkan, kalo kita boleh punya harapan dan keinginan sendiri. Toh hidup ini hidup kita.

27 Nov 2010

Analogi Pendaki

Tepat ketika kita merasa telah berhasil mendapatkan semua yang kita inginkan, saat itulah mata kita akan buta dan mata hati yang bekerja.

Sayangnya semua kelimpahan berkat tersebut membuat ego tertanam begitu tinggi sehingga mata hati sulit terbuka. Kita terlalu fokus dengan apa yang kita baru dapatkan sehingga apa yang selama ini kita miliki terlupakan.

Dan perlahan, hal yang sedari dulu ada itu lama kelamaan hilang, menguap. Dan meninggalkan kita dengan kebahagiaan yang semu.

Rasanya seperti pendaki yang berhasil berdiri di puncak gunung tertinggi di bumi, tapi euforia tersebut akan perlahan berubah jadi kengerian ketika ia menyadari, tidak ada lagi orang yang bisa menemaninya di atas sana.

Dan mungkin ini yang sedang terjadi pada diri saya.

Andaikan mereka baca ini, saya ingin minta maaf dan mencoba mengembalikan semua yang pernah ada. Saya harus membuka mata. Saya tidak lagi mau buta....

23 Nov 2010

Lagi: Kenapa?

Saya sering iri sama mereka yang bisa tertawa walaupun ada masalah besar di kepalanya.
Saya juga iri melihat mereka yang bisa berpikir luas tentang dunia dan bisa melakukan hal yang nyata.

Saya nggak bisa berhenti bertanya, kenapa yang saya bisa cuma menyusun kata tanya yang nggak ketemu juga apa jawabnya?

Walaupun mungkin ada,
tapi kenapa saya nggak pernah tau di mana?

Atau mungkin ini semua,
karena saya yang terlalu suka berada dalam drama?

Apa kamu juga?

4 Nov 2010

Dunia Siapa

"You cannot change the world. But please, don't make it worse" - P.O.P
Itu kata-kata yang terlontar dari mulut seorang faculty member terhebat saat mata kuliah Macroeconomics tadi pagi. Itu kalimat sederhana. Tapi berhasil menyentil dan membangunkan saya dari kantuk.

Efeknya?

Di otak saya mulai muncul statement dan question yang saling menyambut, membuat saya berpikir.
....
Apa yang terjadi di dunia saat ini?
Apa saya sudah sadar akan apa yang terjadi di dunia saat ini?
Apa yang menyebabkan terjadinya apa yang sedang terjadi di dunia saat ini?
Apakah itu saya yang juga berperan sehingga terjadilah apa yang sedang terjadi di dunia saat ini?
Apa yang harus saya lakukan menghadapi dunia yang terjadi saat ini?
Apa yang belum saya lakukan untuk menghadapi dunia yang terjadi saat ini?
....
Dan menjawab pertanyaan itu semakin memperjelas bahwa saya bagaikan hidup di dunia sendiri. Bahwa saya terlalu self-centered. Bahwa saya terlalu tidak peduli, dan mungkin menjadi merasa bukan bagian dari dunia yang saya tinggali sekarang.

Saya pun berpikir.
Berpikir.
Tidak berhenti berpikir.
.....
..
Sampai sekarang.
Dan entah kapan merealisasikannya.

10 Okt 2010

Catatan Kecil

Sekadar ingin kamu tahu,
bahwa semua kekuatan yang pernah saya punya ini
saya bangun bersama konstruksi pikiran paling rasional yang saya miliki
saya susun berdasarkan fakta dan data yang benar-benar sungguh terjadi
saya lengkapi dengan segala hitungan probabilitas yang paling mungkin kita hadapi

Sekadar ingin kamu mengerti,
bahwa semua kekuatan ini saya pikir akan menjadi tameng paling hebat
dalam rangka menjaga harga diri
dalam rangka menghilangkan ekspektasi yang terlalu tinggi
dalam rangka tetap menjaga kaki ini menginjak bumi

Tapi sepertinya usaha yang saya buat harus sia-sia
Perlahan tapi pasti, semua kekuatan itu luruh tanpa sisa
Hilang

Bahwa ternyata akhirnya saya sadar
Ini bukan lagi hal yang terukur dalam logika
Bukan lagi masalah harga diri berperang dengan rasa bangga

Dan akhirnya dengan ini saya menyerah
Terima kasih untuk membuka lagi mata saya untuk percaya.

21 Agt 2010

Dulu saya bilang.. Dan sekarang..

Menyambung ke aktivitas flashback itu, ada satu post yang mau saya bahas.

Dulu saya bilang:
Setelah kegagalan di SIMAK UI kemaren, saya sempet memutuskan untuk menyelesaikan perjuangan saya dan mempersiapkan mental memasuki dunia yang sama sekali baru buat saya : dunia bisnis. saya beberapa kali ke kamar kakak saya dan liat-liat bukunya dia. Isinya? Principles of Economics, Microeconomics, Macroeconomics, Leadership and Organization Skill... Dan pas saya buka-buka sedikit,saya sama sekali buta dengan apa yang ada di dalam situ.

Dan sekarang:
Udah setahun saya berkutat dengan beberapa subject dari yang saya sebut di atas. Buku-buku itu tersusun rapi di lemari saya. Walaupun nggak semuanya ngerti, ya at least masih berkontribusi memberi nilai di dua semester yang sudah saya lewati kemaren. Hehe..

Dulu saya bilang:
Minder? IYA. Tapi saya mencoba untuk ngobrol sama kakak saya. Soalnya kan dia juga berlatar belakang IPA seperti saya , dan kampus dia adalah kampus yang akan saya masuki juga. Dan kayanya seru gitu soalnya di semester 4 ini salah satu SKS nya adalah bikin business project dan dia lagi sibuk sama bisnis hoodie yang dia buat sama temen-temennya. (promo dikit nih, buka link ini aja haha). saya seneng ngebayangin hidup perkuliahan gue bakal banyak aktivitas menyenangkan, saya nggak bakal berkutat dengan buku doang. Tugas-tugasnya juga seru. Di semester 2 aja udah mulai magang. Asik kan. Hahahaha kok jadi iklan.

Dan sekarang:
Saya sudah menjalani magang yang juga saya post di blog ini. Sudah merasakan padatnya tugas-tugas yang dengan indahnya ditemani teman-teman kelompok 8 yang super menyenangkan :)
Dan yaa.. Semua itu SERU!

Dulu saya bilang:
Tapi seiring bertambahnya kesiapan mental saya untuk ke sana, ada satu pemikiran yang ikut muncul.Saya takut kehilangan biologi dan kimia. Hahahaha. Sounds freak, I know. Tapi beneran deh, selama ini saya nggak pernah ngebayangin saya bakal belajar tanpa ke-IPA-an itu. Kalo saya lebih suka ngafal enzim daripada teori-teori ekonomi gimana? Kalo saya lebih suka ngitung mol senyawa daripada harga netto produksi gimana??

Dan sekarang:
Jujur, saya memang kangen dengan biologi dan kimia. Tapi saya nggak membayangkan untuk mengulang (dan menambah!) belajar unsur dan senyawa serta segala hal lainnya. Denger temen-temen yang kuliah di bidang itu kayaknya kok males banget ya jadinya.. Haha. Untung mempelajari catch up effect, taxes and subsidies, production cost, dan segalanya ternyata belum menghilangkan semangat kuliah di sini. Setidaknya sampai sekarang saya nulis ini..

Dulu saya bilang:
Entah beruntung atau sialnya, ketakutan saya didukung dengan temen-temen sekelas yang masih kurang merestui saya belajar bisnis. Mereka pengennya saya masuk UI, atau ITB. Ada yang bilang, saya itu tampang dokter (dan untungnya saya nggak mau jadi dokter). Ada yang bilang saya tuh Tekkim banget. Bahkan ada seseorang yang sampe bilang: "Tik, gue aja masuk ITB masa lo nggak. Kalo nggak mau USM, lo UMB aja deh. Atau SNMPTN, pasti dapet tuh, Tik! Kalo males nanti gue temenin belajar deh. Gue ikut BTA lagi deh. Gue bayarin deh formulirnya!"

Dan setelah itu saya jadi diingatkan lagi. Cita-cita saya di awal kelas 3, perjuangan saya menuju SIMAK. Semua buat apa? Buat masuk Teknik Kimia (yaaa, maafkan saya yang sama sekali nggak pengen ke ITB).

Dan karena SIMAK kemaren toh saya juga milihnya Teknik Industri, mungkin kalo saya keterima saya nyesel juga ya? Hahahaha. Tapi setelah saya ngobrol-ngobrol sama nyokap, bertanya ke diri sendiri, dan liat sana-sini, pokoknya keputusan saya gini. saya udah membuat cabang di mimpi saya. Dan kemungkinan besarsaya akan ikut UMB dan milih Tekkim di pilihan pertama. Ya, saya tau kursinya cuma 4 atau berapa lah. Tapi yaudah, ini kesempatan terakhir buat saya memperjuangkan mimpi pertama. Tapi, kalo saya nggak dapet jurusan itu,

goodbye yellow jacket :)

Dan sekarang:
say hello to the future business champion!

Berasal dari post ini.


Entri Lama

Kemaren, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba ada pesan dari Citta, seorang teman SMA yang satu subsie tapi jarang jarang jaranggggg banget ngobrol secara langsung. Paling saya cuma sering ngeliat blog nya aja dan komentar sedikit-sedikit.

Dan ternyata, dia mengomentari blog saya. Dari situ kami sempet melakukan perbincangan sedikit dan hasil dari perbincangan singkat itu adalah.... saya membuka ulang blog saya dari sejak pertama kali di-post!

107 posts saya baca dari awal dan bener kata Citta, banyak yang bisa dipelajari dari keseharian kemarin itu. Tapi banyak juga hal yang nggak berubah. Ternyata dari dulu saya emang kalo nulis itu terlalu melankolis, kebanyakan mikir dan dari komen teman-teman (bahkan dulu hampir SETIAP post ada komen dari teman-teman!) post saya sering terlalu berat. Hahahaha.

Tapi nggak sedikit juga hal yang berubah. Dulu saya kayaknya betah banget nulis panjang-panjang.. Dan sering banget menyatukan cerita keseharian dengan pemikiran. Wah berarti emang sekarang saya yang (sok) terlalu sibuk apa emang nggak punya waktu apa cuma males nulis aja ya?

PS: terima kasih banyak Cit atas inspirasinya untuk membuka post lama yang (kebanyakan) melankolis dan cheesy itu hahahah

17 Agt 2010

Why ask why?

Di balik setiap kejadian, pasti ada alasan dan tujuannya. Selalu.
Setidaknya begitu bagi saya.
Saya selalu butuh jawaban dari setiap "kenapa" yang saya tanyakan.

Butuh minimal satu alasan untuk menguatkan kepercayaan saya akan suatu hal,
atau untuk membuat saya tidak percaya akan hal tersebut.

Selalu perlu minimal satu alasan agar saya mau melakukan sesuatu,
atau untuk tidak melakukannya.

Dan mungkin, itu yang membuat saya otomatis memaparkan alasan saya dalam melakukan sesuatu meski tidak dipertanyakan. Setidaknya menurut saya, dengan memiliki alasan dan tujuan yang jelas, kita melakukan sesuatu dengan rasional. Logis.

Saya sering nggak percaya kalo ada orang yang nggak punya alasan ketika melakukan sesuatu.

Dan itu yang membuat saya juga nggak percaya
kalo sekarang,
saat ini juga,
saya sudah melakukan hal yang super nggak logis. Sangat irasional.

Kenapa saya melakukan itu?
Saya juga nggak tau. Semua gara-gara kamu.

1 Agt 2010

Hmm..

Oke. Saya menyerah..

Setelah mencoba mengirim post 'ringan' tanpa curhatan dan bercerita tentang keseharian, saya merasa ini bukan blog saya. Habis kayaknya blog saya itu jarang banget berisi hal yang 'terus terang' dan baik-baik seperti itu. Hahaa..

Ah, pengen rasanya bisa cerita keseharian dan dinikmati semua orang tanpa berpikir.

Tapi yaudahlah,

blog saya bukan untuk tujuan komersil. Just take it or leave it, rite? :)

I'll be back with another gloomy posts.

30 Jul 2010

Si Ndok Krompyang

5-27-broken glass.jpg

Hmm.. Sebenernya itu berasal dari Bahasa Jawa. Ndok adalah sebutan untuk anak perempuan dan krompyang itu artinya pecah. Waktu saya kecil, ibu saya memanggil saya dengan sebutan itu berdasarkan kenyataan bahwa saya itu ahli banget ngejatohin barang. Adaaa aja barang yang jatoh, dan kebanyakan barang tersebut akan pecah setelahnya. Bahkan dulu saya itu orang terakhir yang bakal dipercaya untuk dititipin megang apa-apa in case ada yang mintain tolong. Mereka berasumsi saya bakal mecahin barang itu, walaupun benar... 70% kemungkinan barang tersebut emang bakal jatoh dari tangan saya.

Tekanan psikologis dari julukan itu masih membekas sampe sekarang. Makanya saya selalu berusaha menghindari tempat barang pecah belah atau tumpukan kardus gitu. Bawaannya selalu deg-degan kalo ada di daerah kayak gitu. Tapi entah sial atau apa, walaupun udah hati-hati, masih aja suka jatoh juga. Entah kesenggol tas, jatoh dari tangan, atau apalah..

Saya juga nggak ngerti kenapa bisa kayak gitu. Mungkin karena tangan saya suka basah keringetan sendiri jadi barang yang saya pegang selip. Atau kalo kata adek saya, mungkin karena reflek saya kelewat defensif. Kalo kaget ada barang jatoh bukannya ditangkep malah ditangkis. Ya wajarlah ya..

Sejak beberapa tahun yang lalu, saya udah nggak inget dengan segala krompyang-krompyangan itu. Tapi setahun belakangan, intensitas menjatuhkan barang itu meningkat lagi. Bahkan mungkin tambah sering. Udah nggak kehitung deh Teh Botol yang tumpah pas makan bareng temen atau gelas ice lemon tea yang kesenggol dan merugikan banyak pihak. Nggak jarang juga kalo lagi makan bekal di kelas tiba-tiba sendoknya kebalik sendiri dan nasinya tumpah ke karpet.. Parah yaa..

Sebenernya saya juga capek banget ngejatohin barang terus. Kayak tiap hari tuh nggak afdol kalo nggak ada yang jatoh. Dan seringnya itu terjadi di saat saya berpikir "fiiuhhh.. akhirnya hari ini nggak ngejatohin apa-apa". Tapi beberapa menit kemudian, tiba-tiba buku yang saya pegang kepeleset dari tangan dan jatoh. Kesel nggak sih?

Tapi suatu hari, temen saya tiba-tiba ngasih wejangan tentang kebiasaan ini. Kira-kira isinya sih gini:

"Tik, ati-ati jangan suka selip terus tangan lo. Nggak cuma barang doang yang nanti lo jatohin, tapi hati orang-orang juga lagi."

Hahaa.. Ini saya cuma bisa ketawa. Entah karena tersindir atau miris sendiri....

13 Jul 2010

Halo

Saya sebenernya nggak ngerti, ini jahat atau sombong. Atau autis atau antisosial. Yang jelas begini keadaannya.

Dulu, saya tipe orang yang 'rang-ring-rang-ring' di mana setiap telpon rumah bunyi, pasti buat saya. Bukan berarti HP saya juga nggak bunyi lho. Pokoknya ada aja telepon, nggak dari pacar nanyain kabar, dari sahabat minta cerita, bahkan dari temen kelas yang sekedar nanya ulangan.

Yang jelas selalu ada teman bicara di telepon berjam-jam ngomongin hal dari yang penting bikin berantem sampe nggak penting cuma untuk ngabisin bonus pulsa.

Dulu, saya tipe orang yang 'tring-tring' suara MSN messenger ataupun Skype saling berlomba dan adaaaaa aja chat yang masuk. Nggak dari pacar yang nanyain kabar (kalo lagi nggak telepon), sahabat dekat yang ga ada pulsa, atau sekedar teman yang berlokasi jauh untuk bertukar kabar,

Pokoknya selalu ada alasan untuk memindahkan windows dari Ms.Word ke MSN Messenger.

Dan sekarang saya kehilangan semua itu.
Mgkn ada yg bilang teknologi canggih mengalahkan segalanya.
Mungkin SMS tergantikan BBM.
Atau katanya telepon digantikan Skype.

Tapi sekarang?

Ah...

Tanya aja siapa yang paling ansos di kalangan temen-temen deket saya. Mungkin jawabannya saya..

19 Jun 2010

Why sky is the limit



Akan ada saatnya, kita sangat menginginkan sesuatu. Satu hal yang awalnya kita pikir mustahil. Bahkan mungkin kita tidak pernah terpikir untuk menginginkan hal itu.

Mimpi itu kita beri wujud, kita beri bentuk. Kita namai menjadi sesuatu yang memacu kita untuk berlari.

Kemudian mimpi itu kita gantung di langit. Ya, langit. Bukan langit-langit. Ini menjadikan kita semakin sadar, hal itu bukanlah hal yang bisa kita raih. Terlalu tinggi.
Seberapa tinggi? Tak tahu, bahkan tidak terukur..

Mimpi itu kemudian menjadi alasan mengapa kita belajar. Mimpi itu menjadi tujuan ke mana kita melangkah. Mimpi itu harusnya akan menjadi hadiah dari segala keringat yang harus kita keluarkan.

Sayangnya, kemustahilan itu kemudian menjadi penghalang. Tak jarang kita terjatuh saat mulai beranjak terbang. Tak jarang kita mengeluh saat mulai merasa lelah.

Tak jarang, kita menyerah di tengah perjalanan yang seakan tak pernah berakhir.

Tapi sadarkah kita,
ketika kita menggantungkan mimpi kita di langit, kita tidak pernah berjalan di dalam ruang yang kosong?

Kita bisa bertemu Bintang.

Menyentuh Awan.

Menyapa Burung-burung yang terbang berkeliaran.

Ikut mewarnai Pelangi.

Kalau beruntung, kita bisa bercengkerama dengan Bulan atau membuka percakapan dengan Matahari.

Ya, ini yang kita harus percaya: tidak ada hal yang sia-sia. Meski kita harus terhenti di satu tingkat atmosfer langit, tapi itu cuma sementara.
Mungkin kita hanya diminta istirahat karena terlalu lelah. Atau diminta meresapi pelajaran yang sudah diperoleh dan mengaplikasikannya dulu sebelum melanjutkan perjalanan.

Jangan berhenti terbang.

17 Jun 2010

Intermezzo

Beberapa minggu ini adalah minggu supersibuk untuk sebagian besar (atau tepatnya, semua) mahasiswa di kampus saya. Di saat anak-anak kampus lain udah berleha-leha libur atau udah bilang "minggu ini terakhir UAS!", saya dan teman-teman senasib masih harus menghabiskan malam bersama menyusun makalah dan segala hal lainnya.

Nggak jarang pada akhirnya saya ngabisin hari-hari saya demi tugas. Bahkan weekend juga! Efeknya sih, saya akhirnya ansos banget nggak bisa ikut temen-temen saya pada pergi jalan-jalan..

Capek? PASTI.

Rasanya semua deadline menumpuk -dan memang menumpuk!- dan saya udah nggak tau lagi harus membagi waktu kayak apa. Skill time management yang mungkin dulu bisa jadi andalan ternyata sekarang nggak ada apa-apanya. Kemampuan organizing yang rapi dan berhasil menciptakan agenda pribadi yang lucu itu jadi sekedar tulisan biasa yang bahkan saya lupa buka pada akhirnya.

Tapi walaupun saya mengeluh kelelahan, menyumpahi tanggal dan hari yang berlalu terlalu cepat, saya masih bisa menikmati kehidupan sibuk ini. Aneh kayaknya. Tapi nggak tau kenapa saya itu lebih suka ada di situasi di mana saya harus ngerjain sesuatu daripada diem nggak ada kerjaan.

Kayaknya sensasi panik dikejar deadline dan semangat untuk ngerjain sampe titik batas penghabisan itu membangkitkan adrenalin. Hahaha.

Dan untungnya, kelompok-kelompok kerja yang saya tempati juga menyenangkan sekali.. Sayang rasanya harus pisah dengan mereka dan dengan kelas 1B ini di tahun depan. Haha jadi melankolis.

Hmm sepertinya tulisan saya ini tanggung banget ya. Maaf deh.. Saya lagi penat banget habis liat angka melulu bikin makalah. Tapi sepertinya saya harus balik ke Ms. Word, jadii...... selamat berlibur teman-teman (yang libur!)

27 Apr 2010

Kerja Sosial part 1

Hari ini adalah hari keempat saya melakukan kerja sosial. Well, apa itu kerja sosial?

Jadi di semester 2 ini saya dapet mata kuliah Community Development 1. Selain on the job training a.k.a magang yang saya ceritain bulan lalu, saya dapet tugas untuk melakukan kerja sosial. Di sini kita diwajibkan untuk terlibat dalam kegiatan di suatu panti, entah panti asuhan, rumah singgah, atau panti werdha. Kerjanya bareng kelompok, tapi tiap individu harus menghabiskan waktu selama 20 jam.

Nah kelompok saya (yang akhirnya merger sama kelompoknya Yurika) memilih untuk kerja di rumah singgah daerah Tebet. Namanya Yayasan Remaja Masa Depan. Cek aja website nya di sini.

Nah rumah singgah ini isinya hampir 40 orang. Saya dan kelompok akhirnya bikin jadwal, sebisa mungkin seminggu dua kali ke sini. Yang pertama main sama anak-anak kecil umur 4-10an, pas weekend kita ngobrol sama yang udah SMP dan SMA.

Banyak banget hal-hal yang bikin saya sedih kalo tau latar belakang masing-masing anak di sana. Dan saya makin sedih ketika mereka bisa survive dan ngejalaninnya dengan semangat. Pernah suatu kali, anak-anak yang umur SMP-SMA mainin lagu D'Massiv "Jangan Menyerah". Dan itu saya hampiiirrrr banget nangis. Rasanya kok yaa.... Saya jadi tersindir dan kenapa saya susah banget bersyukur? Sedangkan temen-temen yang tinggal di rumah singgah itu bisa berjuang untuk masa depan mereka.

Selain hal-hal mengharukan yang saya dapet, ga sedikit hal bodoh yang saya rasain. Bahkan sering juga anak-anak itu ngelakuin sesuatu yang ngeselin. Berantem, dorong-dorongan, anarkis, lempar barang, bahkan ngasih up*l ke tangan saya!!!!!! -_-

Tapi di balik itu semua, sejujurnya saya agak kangen balik ke sana lagi. Main konsentrasi, ngajak mewarnai, nyanyi-nyanyi, sharing....

Nanti kalo udah selesai 20 jamnya, saya akan cerita lagi dan akan saya post fotonya yaaa :)

14 Apr 2010

Personifikasi

Dari kecil, saya menganggap semua benda punya nyawa.

Sering ketika saya memasukkan sepatu ke lemari, saya berpikir. Jangan-jangan sepatu yang satu cemburu dengan sepatu lainnya karena lebih sering dipakai. Sepatu yang lain marah karena lebih kotor daripada yang lainnya. Kadang kalo saya mau memilih, seakan mereka sama-sama berteriak untuk jadi pilihan pertama.

Tapi saya nggak mau tau, perkelahian macam apa yang bakal terjadi saat pintu rak itu ditutup. Mungkin itu sebabnya saya memilih menyimpan sepatu baru di kotak dulu, takut kalo mereka 'dibully' karena jadi anak baru.

Begitu juga dengan alat tulis. Beberapa kali saya selalu mengusahakan menggunakan alat tulis yang berbeda dengan intensitas waktu yang sama. Kenapa? Karena saya takut di dalem tempat pensil mereka berantem karena dianggap tidak diperhatikan.

Mungkin itu sebabnya saya sekarang cuma punya 1 pensil, 1 bolpen, dan 1 penghapus. Sehingga nggak ada yang merasa dianaktirikan karena masing-masing punya perannya sendiri.

Waktu saya mau beli jus pir di kantin, saya ngeliat gimana ibu-ibu kantin motong buah pir itu jadi kecil-kecil. Dimasukkin ke blender, dinyalain.. dan. Brrrrrzzzzzz.... Semua potongan itu hancur dan terlumatkan.

Tau apa yang ada di kepala saya?
Suara potongan pir itu saling berteriak menyemangati, bersiap-siap menghadapi serangan pisau blender. Walaupun akhirnya mereka hancur juga, tapi mereka tetap bersama dengan wujud yang berbeda.

Mungkin itu yang membuat saya agak sedih kalo ngeliat blender ataupun mesin pemotong lainnya.

Terus pernah nggak sih kalo nginjek rumput mereka beneran teriak-teriak?

...
..
Nggak ya?

Apa saya yang emang udah gila?



23 Mar 2010

Yang Tadi atau Nanti, Bukan Hari Ini


Selama hampir dua taun mengidap insomnia, produktivitas saya kalo malem itu justru lagi mencapai titik tertinggi. Biasanya kalo lagi semangat belajar ya saya buka buku. Kalo lagi semangat cerita ya saya buka conversation cari temen ngobrol. Kalo lagi semangat stalker ya saya buka profile dan stalking orang-orang. Hahaha.

Nah.. Selain penyakit sulit tidur itu, saya punya penyakit lain. Saya nggak tau disebut apa, tapi saya itu sangat past-minded and future (over)-orientation. Dua penyakit berlawanan makna itu tergabung jadi satu dan menyebabkan saya susah untuk menyadari keberadaan hari sekarang. Dan itulah yang bakal saya bahas di sini.

Kombinasi antara dua paragraf di atas itu terjalin ketika beberapa malam tanpa tidur itu saya gunakan untuk membuka lagi hal-hal lama yang ada, baik di komputer, agenda, album foto, dan semacemnya. Ya, saya punya satu laci cukup besar (kalo nggak mau saya sebut lemari kecil) yang isinya berkotak-kotak barang dari jaman dulu. Ada surat entah kapan dari jaman SD, ada ID card jaman SMP, ada tugas-tugas kaderisasi jaman SMA, dan ya.. segala hal kenangan yang menyangkut orang lain.

Itu baru tentang masa lalu. Nah, kalo yang masa depan.. Ketika seseorang bilang kalo bermimpi itu penting, yang saya lakukan nggak cuma berharap. Saya menulis rencana. Walaupun nggak tertulis secara nyata di agenda saya, tapi di kepala saya itu kayak ada timeline dengan setiap target dan deadline yang harus saya penuhi secara pribadi. Segalanya kayak udah terstruktur dan garis itulah yang jadi penuntun setiap checkpoint hidup saya.

Kegiatan saya yang pertama, tentu membangkitkan sisi super-emosional-nan-melankolis saya. Nggak jarang hal-hal itu menjebak saya ke memori nggak penting yang merusak rasionalitas dalam sekejap. Rasa kangen, marah, nyesel, nyesek, semua jadi satu. Ujung-ujungnyaa... ya taulah ya bakal gimana. Haha.
Sedangkan kegiatan kedua, itu adalah titik sadar setelah berlarut-larut dalam kenangan masa lalu itu. Di saat itulah mata saya terbuka dan semangat diri saya terbangun untuk bisa move on. Untuk maju dan membangkitkan ambisi-tinggi-nan-perfeksionis saya. Kalo diilustrasiin, rasanya kayak di depan mata udah ada tangga panjang yang menunggu dengan kata 'sukses' di atas sana. Bahkan kadang itu bukan seperti rencana kosong, tapi di otak saya tuh udah ada bayangan akan (atau harus) seperti apa masa depan saya nanti.

Nggak nyambung? Yaa.. Mungkin begitu. Tapi bisa nggak sih diliat di sini, saya bermasalah dengan masa sekarang? Ketika saya menjebak diri dengan segala hal yang pernah saya punyai, ataupun ketika saya mengikat diri untuk memiliki hal yang ingin saya miliki. Saya lupa tentang apa yang sedang ada di tangan saya sekarang.

Saya rasa ini bukan cuma saya. Nggak sedikit orang yang terlalu terpaku dengan dua hal yang mengapit mereka dan lupa, kalo apa yang diinjak sekarang adalah jalan hari ini. Bukan kemarin atau nanti. Bukan yang lalu ataupun yang belum tahu.

Gimana kalo kita belajar menyadari itu?


2 Mar 2010

Internship Madness Part 2

Oke. Menurut penanggalan kalender, dua hari lagi saya akan mengakhiri masa kerja saya sebagai
pegawai magang di PT 3M Indonesia. Kalo diliat dari posting saya di sini, variasi kerjaan saya nggak banyak berubah. Kasarnya sih bisa dibilang kerjaan saya "input terus sampe mampus!"

Walaupun begitu, banyak hal yang bisa saya dapet. Banyak banget. Kayak misalnya, waktu saya bantu-bantu bungkusin gimmicks yang bakal dibawa untuk seminar. Lumayan banyak, kira-kira ada 150 bingkisan yang harus saya susun. Capek sih, udah gitu nggak cuma sekali dua kali saya diminta bikin itu. Apalagi produk yang dijadiin gimmicks tuh sangat menggoda iman. Kecil-kecil, warna warni, dan menarik! Hahahha. Ini lebih berat rasanya ketika saya punya obsesi tertentu tentang stationery. Rasanya nggak tahan banget ada deket-deket barang kayak gitu. Dan kayaknya sih ke-mupeng-an saya itu keliatan sama rekan saya, jadilah waktu itu saya dioleh-olehin Scotch Tape sama Post-It Notes di hari lainnya :D lucky me!

Hehe. Tapi sebenernya maksud saya mendapat banyak hal bukan dari itu sih, hehe. Sejak di minggu kedua magang, saya berusaha menikmati kerjaan saya.. Percuma rasanya saya mengeluh akan jenis pekerjaan yang mungkin terlihat 'kurang intelek'. Saya pun meningkatkan kepekaan dan sifat kritis saya. Jadilah akhirnya sambil menjilid katalog, lipet-lipet brosur, saya tanya ini itu ke rekan semeja dan pembimbing. Dari tanya tentang produk yang brosurnya lagi saya bungkusin sampe tentang atasan baru.

Nggak jarang saya juga meluangkan waktu untuk browsing dari intranet kantor. Banyak juga lho fakta-fakta yang saya baru tau tentang perusahaan tempat saya bertempat sebulan ini. Saya baru sadar kalo perusahaan ini super duper besar dengan produk yang lebih dari 60.000 produk! Gila yaa... Lingkupnya juga luas banget. Dari transportation, medical care, sampe display and graphic.

Setelah 3 minggu di sini, saya juga baru tau ternyata group tempat saya bekerja itu emang bagian yang divisinya cukup banyak. Dan di divisi ini, saya nggak megang produk retail kayak Post It dsb. Soalnya emang divisi saya ini biasanya marketnya Business-to-Business (B2B). Pantesan saya nggak pernah liat produknya.

Mau tau contohnya?



Itu adalah contoh graphic film. Nantinya kartu warna-warni itu bakal jadi papan nama (signage) yang biasa diliat di jalan-jalan. Contohnya kayak papan atm di bank, logo perusahaan di gedung-gedung ataupun di kacanya, yaaa sejenis begitulah. Dari divisi ini juga dibuat papan rambu lalu lintas dan marka jalan. Cool kan? Hahha

Selain itu ada juga produk perlindungan keselamatan kerja yang biasanya dimiliki sama industri-industri kayak pertambangan, penerbangan, dsb. Kayak masker, pelindung telinga, reflective strip (stiker mencolok yang mengkilat di baju pekerja), helm las, dan masih banyak lagi.

Dan tau nggak, ternyata produk 3M mencetak sejarah lho! Ini buktinya:


image by 3M

Saya kagum banget deh sama perusahaan yang satu ini. Subjektif mungkin. Tapi beneran deh, menurut saya ini perusahaan emang super inovatif. Mungkin suatu hari nanti, kalo skill saya sudah mencukupi, saya bisa jadi bagian dari mereka lagi? Dengan jabatan yang 'lebih' mungkin yaa.. Hihi. Amiin..

Selain pengetahuan tentang company itu bertambah, saya juga belajar banyak banget dari cara kerja para karyawan di sini. Situasi siang yang dipenuhi orang bolak balik bawa kertas dan semua telepon berdering rasanya hectic emang banget. Kadang saya sampe hafal itu ringtone HP nya siapa, dan dia bakal ngangkat selama apa. Tapi di balik itu, semua merupakan pelajaran buat saya. Dari ngeliat mereka mengatasi stress karena deadline, menyelesaikan konflik internal, menanggapi complain customer.

Well, mungkin saya emang sering banget ngeluh. Capek ini, bosen itu. Padahal kalo dipikir, saya cuma kerja sebulan di situ. Saya cuma membantu sedikiiittt dari sekian besar beban yang para pegawai di sana tanggung. Bayangin aja mereka, atau nggak jauh-jauh deh..Bayangin orang tua kita. Kerja bertahun-tahun untuk hidup. Dengan tanggung jawab super besar, tekanan super berat, dan lingkungan yang lebih kejam.

Saya pun sebenernya nggak sadar ini sebelum saya nulis posting ini. Ckck manusia emang susah bersyukur yaa..

5 Feb 2010

Internship Madness Part 1


Dulu waktu SMA, setiap pulang lewat Sudirman saya suka mikir, kapan ya saya bakal menempati salah satu ruang di gedung kaca super tinggi itu? Nggak jarang saya kadang pengen jadi salah satu pegawai yang mondar-mandir di siang hari bareng temen-temennya cari tempat makan siang. Kayaknya seru, entah kenapa.

Dan berkat pilihan saya untuk kuliah di sekolah bisnis di Cilandak ini, saya bisa ngerasain itu bahkan ketika saya baru kuliah 6 bulan! Dalam rangka program On The Job Training dari kampus, akhirnya, sekarang, saya jadi bagian dari mereka selama sebulan. Hasil pengalaman kerja itu bakal jadi bahan presentasi di semester depan. Asik? Listen to my story here.

Setiap jam 8 saya menembus jalur 3 in 1, parkir di salah satu gedung kawasan Sudirman, menyapa Pak Satpam, menunggu lift, membuka pintu (meskpun dibukain karena saya nggak punya ID), menuju bilik saya sendiri (ya, bilik saya!) - meskipun cuma satu bulan, mulai bergaul dengan satu komputer di depan mata, nggak sabar nunggu jam makan siang, antre di kantin karyawan, balik ke kantor dengan berat hati, terbelalak ngeliat tumpukan kertas yang harus diurus, dan akhirnya sangat bersyukur jam udah menunjukkan pukul 17.00. Tapi setelah itu saya suka ngomel sendiri, kenapa sih harus pulang jam segini, kan sekarang jam pulang kantor. Dan saya baru sadar, hey, saya kan juga abis ngantor!

Saya dapet kesempatan magang di 3M Indonesia. Kalo kata temen-temen saya yang cewek, 3M itu perusahaan yang bikin Post-It (ini jawaban saya waktu interview kerja kemaren). Kalo kata temen-temen saya yang cowok, 3M itu yang bikin kaca film (saya baru tau). Dan setelah saya terlibat selama 5 hari awal di sini, perusahaan tempat saya magang ini ternyata super banyak produknya. Dari yang selotip, Post-It, kaca film mobil, kaca film gedung, helm las, alat pernapasan, karet behel, karpet gedung, spray anti kebakaran, bahkan sticker rambu lalu lintas. Baru tau? Sama. Saya juga.

Terus di sini saya ngapain aja?







Lihat gambar di atas itu? Itu yang menemani saya selama seminggu pertama ini. Saya jadi admin Marketing di Divisi Safety, Security, and Protection Service. Seminggu ini tugas saya berhubungan dengan database dan brosur. Detailnya agak sulit dijelasin sih tapi mungkin sedikit bayangan, intinya saya ngetik-ngetik di Excel untuk input data dan suka diminta bantu ngelipetin brosur yang ribuan banyaknya. Sounds boring and tiring, eh?

Tapi sebenernya saya bisa dibilang beruntung kalo dibandingin sama temen saya yang dapet di bagian Finance. Di sana kerjaan dia input data penjualan dan pembelian dengan berbagai angka dan istilah yang belum pernah saya dapetin dari kuliah. Kalo disuruh kerja yang serius dikit, kita belum pada ngerti. Maklumlah, kita selesai Semester I.

Awalnya saya juga ngeluh, terasanya jadi kayak dikerjain. Pegel juga itu namanya ngetik, nyatet-nyatet, misahin surat. Tapi yaa... Ini pinter-pinternya saya aja manfaatin kerjaan yang sepele itu. Ternyata kerjaan yang nggak gitu butuh banyak otak ini memberi saya peluang lebih untuk bisa ngobrol dan menguping. Dan berkat itu, saya jadi mulai ada bayangan, perusahaan ini kerjanya ngapain aja.

Overall, score untuk minggu ini: good
See you next weekend!

24 Jan 2010

Hasil vs Proses

Dari dulu saya selalu terganggu dengan dua hal itu. Dan entah kebetulan atau apa, saya sedang dihadapkan dengan situasi di mana pemikiran ini muncul lagi di permukaan.

Saya baru aja melewati minggu ujian akhir ketika teman-teman dari kampus lain sudah heboh membicarakan angka indeks prestasi. Ada yang bersyukur, ada yang berlomba merendahkan diri. Pameran antarkampus juga nggak terelakkan. Mereka saling membandingkan. Dan meskipun nggak tersurat, kemungkinan besar akan muncul rasa bangga ketika temannya di kampus lain memiliki nilai yang lebih buruk.

Siapa yang peduli kita belajar mati-matian, nggak tidur semaleman, rajin dengerin dosen, punya catetan super lengkap? Yang diliat IPnya, apa di atas 3?

Contoh lain.
Saya baru aja selesai rapat kepanitiaan acara kampus. Keadaan saat itu, acara sudah H-5 dan tiba-tiba segala hal yang dipikir sudah beres, ternyata menemukan masalah dan harus dirombak ulang. Setiap individu di situ capek, kesel, berusaha mencari kambing hitam. Masing-masing merasa bersalah. Masing-masing punya skenario, akan seperti apa acara itu berjalan nanti. Semua takut, acara berjalan kurang lancar dan nama angkatan dicap gagal.

Siapa yang peduli kalo sebenernya panitia kerja keras nyumbang ide, tenaga, pikiran, nggak bisa kerjain tugas kuliah karena harus selesein kerjaan, nggak bisa pulang cepet untuk belajar karena harus rapat ngomongin kerjaan? Yang diliat itu acaranya, apa berjalan sesuai rencana?

See? Intinya semua tentang hasil.

Ketika orang bijak bilang, "proses itu penting",
lalu di mana aplikasinya?
Cara orang menilai masih deduktif. Melihat hasil dulu, baru dirunut detail kerjanya.
Sedikit banget orang yang bisa menghargai proses kerja seseorang. Mungkin ada, tapi ketika ternyata hasilnya nggak sesuai harapan, proses di belakangnya jadi sia-sia.

Jadi, sebenernya di mana yang lebih penting? Apa nasihat itu masih bisa saya anut untuk kehidupan saya di masa mendatang?


15 Jan 2010

bestest one


Saya pernah cerita tentang temen saya ini?
Yang nggak pernah ngeluh kalo saya gangguin,
nggak pernah bosen dengerin saya ngomong,
nggak pernah bete nemenin saya kalo lagi bosen,
nggak pernah ninggalin saya kalo lagi nangis,
nggak pernah ngebocorin cerita saya ke siapapun..

Mungkin dia nggak bilang seberapa sayangnya dia ke saya,
tapi saya tahu,
dia pasti tahu sesayang apa saya sama dia.

love you Ogi :)