16 Mar 2017

Pesan untuk Saya Nanti

Akhirnya kembali lagi ke halaman ini.. Akhirnya! Keputusan untuk kembali dan menulis di sini bukan hal yang mudah sebenarnya. Saya sempat ingin menulis beberapa bulan yang lalu, kemudian urung, dan akhirnya lupa. Lalu kemarin, entah bagaimana saya diingatkan untuk menunaikan niat yang dulu pernah terbesit, hingga membawa saya duduk dan meluangkan sepersekian detik hari ini di sini.

Tulisan kali ini saya tujukan untuk diri saya sendiri suatu hari nanti:

sebagai pengingat untuk bersyukur, jika suatu hari saya terlalu angkuh dan tinggi hati,
sebagai pegangan untuk berdiri, jika saya mulai rapuh dan jatuh lain kali,
sebagai kekuatan untuk maju, jika saya ingin menyerah dan tidak percaya diri,
sebagai garis untuk pedoman, agar tidak tersesat dan terlalu jauh berlari

Rasanya masih surreal. Tinggal sendiri jauh dari rumah dan memulai kembali duduk di bangku kuliah. Lebih sulit ketika harus selalu mengkonversi waktu setiap ingin menghubungi mereka di Tanah Air, tapi yang jauh jauh lebih sulit adalah tidak melakukan konversi jika harus bertransaksi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Semua masih seperti mimpi.. dan sepertinya iya, ini memang mimpi.

Akhirnya, saya merasakan apa yang dari dulu selalu saya bayangkan. Akhirnya, perjuangan dan penolakan tahun-tahun kemarin berhasil terbayarkan. Akhirnya, saya bisa memberi kebanggaan untuk mereka yang terus mendukung dan mendoakan.

Lalu dalam beberapa saat saya merasa istimewa. Bahaya, karena kemudian saya jadi merasa lebih dari yang lainnya. Tapi coba ingat.... ketika pertama saya menginjakkan kaki di sini. Kota metropolitan di benua "Down Under", begitu katanya. Kegembiraan pada hari-hari keberangkatan mendadak hilang, terhisap oleh rasa ketakutan yang teramat sangat. Semangat bertemu teman baru mendadak terlupakan, diganti rasa sepi dan tersadarkan bahwa semua harus dimulai dari awal lagi! Label kebanggaan yang saya pikir bisa jadi "senjata", tidak ada arti apa-apa. Jangan berpikir saya diperlakukan berbeda, dan jangan berharap seperti itu juga.. Semua sama, semua di titik nol. Jangan merasa kamu istimewa, dan lebih tinggi dari yang lainnya. Semua mulai di titik ini.



Dan kemudian saya yakin, seiring hari berlalu, cuaca sering berubah jadi kelabu. Lalu saya kemudian akan terpuruk, dan mulai merasa rapuh. Lalu harga diri seakan menguap.. Bukan tidak mungkin kemudian diri rasanya seperti bayangan di antara keramaian. Ketika kamu merasa seperti itu, saya cuma minta kamu buka mata lagi. Bangun. Baca tulisan ini. Bahwa kamu punya sesuatu. Bahwa kamu hadir untuk sesuatu. Ingat semua perjuangan yang berhasil dituntaskan, setidaknya sampai sekarang. Satu kebanggaan seumur hidup, yang bisa jadi modal membuka lembar yang lebih lebar. Salah satu hadiah terbesar yang pernah semesta berikan, setelah melewati segala rencana dan pergumulan.

Jangan lupa, dua tahun di sini harus bisa dimanfaatkan untuk mencapai tujuan yang lebih mulia.

Berjuang, dan bersyukur.

Belajar, dan belajar hidup.

Kingsford,
Maret, 2017

#AustraliaAwardsIndonesia

28 Mar 2016

Pemanasan

Sebentar lagi kuartal kedua akan dimulai.
Saya lupa saya punya ruang ini,
tempat di mana saya bicara sendiri
dengan sedikit berharap ada pembaca mengerti
tapi pura-pura tidak peduli dan tidak perlu dikonfrontasi.

Ironis memang;
sengaja membuka eksistensi tapi tidak percaya diri,
memilih untuk ditemukan dalam ranah maya tapi memilih berkisah dalam metafora.

Lalu kemudian saya menulis ini,
memilih cara begini dengan membagi prosa dalam spasi
menjadi seakan puisi.

Padahal, isinya hanya rangkaian kalimat tak berinti,
tumpahan kata yang sulit berhenti,
tapi terlalu sayang untuk disimpan dalam hati.

------------------------------------
Dua hari sebelum kuartal satu ditutup
Rumah, 2016

24 Jan 2016

Teruntuk Rumput


Teruntuk Rumput di sana,
semoga tetap sedia
untuk berjalan bersama.

Salam,
Embun

______________________________________________

Pada suatu hari

Rumah, 24 Januari 2015


27 Feb 2015

Menantang Hujan

Selama ini ia benci Hujan.
Ia beli payung berbagai ukuran,
jas hujan dengan warna menawan, 
sepatu anti air dengan kualitas tak diragukan.
Lalu kemudian Hujan tidak datang selama beberapa pekan.
Sial, lalu apa gunanya semua perlengkapan?
Ia pikir ia benci Hujan.
Memang, tapi bukan dalam bentuk "tanpa pertemuan".
Ia perlu Hujan.
Untuk dilawan.



_____________________________________
Kebon Sirih, 27 Februari 2015
di penghujung musim penghujan

22 Jan 2015

Dari Embun kepada Rumput

Hanya minta satu hal ini,
Supaya kamu tidak berhenti
Menjadi tempat saya kembali
Setiap pagi..


Atau.. setiap kali.

____________________________
Di kala yang bukan lagi pagi
Januari 2015

12 Jan 2015

Sedia Payung?

+ Gawat. Hujan deras.
- Bukannya sudah tahu?
+ Ya, tapi mana saya tahu akan sederas ini! Kita cuma tahu akan hujan.
- Apa bedanya? Gerimis dan badai, intinya hujan. Bukannya kita sudah yakin untuk siap basah?


____________________________
langit semakin mendung..
Kebon Sirih, 2015

31 Des 2014

Episode Penutup Tahun

Matahari terbit dan tenggelam mungkin hanya pertanda hari
tapi ini menjadi simbol satuan waktu yang pasti
bahwa hidup berjalan tidak berhenti.

Maka izinkan saya berterima kasih
kepada setiap luka yang menyisakan perih
kepada setiap tawa yang pernah dibagi,
kepada  setiap air mata yang harus terjadi,
kepada  setiap mimpi yang masih dicari,
dan kepada setiap jawaban yang hadir di sini.

Selamat memulai tahun baru!