Langsung ke konten utama

Halo

Saya sebenernya nggak ngerti, ini jahat atau sombong. Atau autis atau antisosial. Yang jelas begini keadaannya.

Dulu, saya tipe orang yang 'rang-ring-rang-ring' di mana setiap telpon rumah bunyi, pasti buat saya. Bukan berarti HP saya juga nggak bunyi lho. Pokoknya ada aja telepon, nggak dari pacar nanyain kabar, dari sahabat minta cerita, bahkan dari temen kelas yang sekedar nanya ulangan.

Yang jelas selalu ada teman bicara di telepon berjam-jam ngomongin hal dari yang penting bikin berantem sampe nggak penting cuma untuk ngabisin bonus pulsa.

Dulu, saya tipe orang yang 'tring-tring' suara MSN messenger ataupun Skype saling berlomba dan adaaaaa aja chat yang masuk. Nggak dari pacar yang nanyain kabar (kalo lagi nggak telepon), sahabat dekat yang ga ada pulsa, atau sekedar teman yang berlokasi jauh untuk bertukar kabar,

Pokoknya selalu ada alasan untuk memindahkan windows dari Ms.Word ke MSN Messenger.

Dan sekarang saya kehilangan semua itu.
Mgkn ada yg bilang teknologi canggih mengalahkan segalanya.
Mungkin SMS tergantikan BBM.
Atau katanya telepon digantikan Skype.

Tapi sekarang?

Ah...

Tanya aja siapa yang paling ansos di kalangan temen-temen deket saya. Mungkin jawabannya saya..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemanasan

Sebentar lagi kuartal kedua akan dimulai. Saya lupa saya punya ruang ini, tempat di mana saya bicara sendiri dengan sedikit berharap ada pembaca mengerti tapi pura-pura tidak peduli dan tidak perlu dikonfrontasi. Ironis memang; sengaja membuka eksistensi tapi tidak percaya diri, memilih untuk ditemukan dalam ranah maya tapi memilih berkisah dalam metafora. Lalu kemudian saya menulis ini, memilih cara begini dengan membagi prosa dalam spasi menjadi seakan puisi. Padahal, isinya hanya rangkaian kalimat tak berinti, tumpahan kata yang sulit berhenti, tapi terlalu sayang untuk disimpan dalam hati. ------------------------------------ Dua hari sebelum kuartal satu ditutup Rumah, 2016

Pesan untuk Saya Nanti

Akhirnya kembali lagi ke halaman ini.. Akhirnya! Keputusan untuk kembali dan menulis di sini bukan hal yang mudah sebenarnya. Saya sempat ingin menulis beberapa bulan yang lalu, kemudian urung, dan akhirnya lupa. Lalu kemarin, entah bagaimana saya diingatkan untuk menunaikan niat yang dulu pernah terbesit, hingga membawa saya duduk dan meluangkan sepersekian detik hari ini di sini. Tulisan kali ini saya tujukan untuk diri saya sendiri suatu hari nanti: sebagai pengingat untuk bersyukur, jika suatu hari saya terlalu angkuh dan tinggi hati, sebagai pegangan untuk berdiri, jika saya mulai rapuh dan jatuh lain kali, sebagai kekuatan untuk maju, jika saya ingin menyerah dan tidak percaya diri, sebagai garis untuk pedoman, agar tidak tersesat dan terlalu jauh berlari Rasanya masih surreal. Tinggal sendiri jauh dari rumah dan memulai kembali duduk di bangku kuliah. Lebih sulit ketika harus selalu mengkonversi waktu setiap ingin menghubungi mereka di Tanah Air, tapi yang jauh ...

Menantang Hujan

Selama ini ia benci Hujan. Ia beli payung berbagai ukuran, jas hujan dengan warna menawan,  sepatu anti air dengan kualitas tak diragukan. Lalu kemudian Hujan tidak datang selama beberapa pekan. Sial, lalu apa gunanya semua perlengkapan? Ia pikir ia benci Hujan. Memang, tapi bukan dalam bentuk "tanpa pertemuan". Ia perlu Hujan. Untuk dilawan. _____________________________________ Kebon Sirih, 27 Februari 2015 di penghujung musim penghujan