6 Sep 2013

Dalam Secangkir Kopi

Wah, kita berjumpa lagi. Saya tidak menyangka kamu masih ingat jalan ke sini. Apalagi, kamu pun datang lagi padahal tidak pernah berjanji untuk kembali. Meskipun begitu, di kursi yang selalu kamu duduki sudah tersedia secangkir kopi. Dengan air panas suhu tinggi, langsung saya tuang ke cangkir putih. Kopi tubruk, gula dipisah, sendok di kiri. Selalu, seperti yang selalu kamu buat sendiri.

Kamu ingin tahu mengapa kopi itu bisa tersaji? Hmm.. Saya membuatnya setiap hari. Sejujurnya ini sudah menjadi rutinitas yang tidak saya sadari. Menghabiskan waktu meracik minuman favoritmu, berharap kamu akan datang dengan senyummu yang berseri. Namun saya sepertinya memang terlalu banyak berimajinasi. Entah berapa puluh cangkir kopi yang harus berakhir basi. Saya tidak menyalahkan ketidakhadiranmu, pun sedikit kecewa muncul dalam hati. Makanya saya sangat bahagia hari ini. Kedatanganmu menjadi bukti, keyakinan dan kenyataaan itu memang rantai misteri!

Ah, sudah, jangan merasa tidak enak hati. Lupakan keluh kesah saya tadi. Pertemuan ini kan tidak setiap hari, bahkan tidak setahun sekali. Jangan biarkan momen ini lenyap lalu saya sesali. Santai saja seperti biasanya, seperti kawan lama yang berbincang tentang mimpi-mimpi. Atau mau membahas kesialan kecilmu hari ini? Bebas, kamu memilih. Seperti biasa pula, saya akan antusias mendengarkan ceritamu yang tidak berhenti. Tidak berhenti sampai di cangkirmu hanya tersisa ampas kopi.

Ceritamu memang akan selalu tepat dalam durasi. Berdasarkan yang dulu-dulu, saya sudah mempersiapkan diri sewaktu-waktu kamu sudah akan pergi. Saya tidak akan minta kamu menambah lagi. Jika ceritamu masih berlanjut, biarlah esok, lusa, atau ratusan hari nanti dilanjutkan kembali. Dan saat itulah, saya akan menikmati hari di mana kehadiranmu saya nanti-nanti.

Saya senang hari ini kamu datang sendiri. Masalahnya, jika kamu membawa kawan, kamu menjadi tidak lama di sini. Yah, biasanya kawanmu lah yang tidak sabar ingin pergi. Saya hanya sedikit penasaran, apakan memang ia tidak suka kopi? Atau tidak suka dengan saya yang membuat kopi? Semoga saja bukan karena cemburu hati. Tapi kalau memang begitu, mau bagaimana lagi. Mungkin pada saat seperti itu sebaiknya kamu tidak datang ke sini.

Yang jelas, pintu ini akan selalu terbuka jika kamu ingin berkunjung lagi suatu hari. Tidak perlu khawatir, tanpa memberitahu saya pun kopimu akan selalu tersaji. Dengan detail yang pasti, ia akan siap menemani.

Saya akan selalu menunggu kehadiranmu di sini, di satu sudut yang dikosongkan untuk tempat kita berbincang bersama secangkir kopi. Membahas mimpi, merekam memori.

Saya  pun berharap kamu tidak berpindah mencari tempat lain meminum kopi pengganti.

5 Jul 2013

Belajar dari yang Muda

Seperti yang saya pernah tulis di sini, inspirasi bisa datang dari mana saja. Pada tulisan kali ini saya ingin bercerita tentang sosok-sosok lainnya yang begitu berkesan untuk saya, yang baru saya temui sekitar sebulan yang lalu.

Pada akhir bulan Juni, saya berkesempatan untuk menjadi observer suatu program acara kampus. Program yang diberi tajuk "Young Scholar Indonesia" ini adalah kontribusi Prasetiya Mulya untuk memberi peluang bagi para pemuda-pemudi bangsa berkualitas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di sini, para peserta yang sudah lolos seleksi (yang tidak mudah, menurut saya) akan berkompetisi dalam games-games untuk memperoleh beasiswa bersekolah di sekolah bisnis terkemuka di Indonesia ini (bisa buka video promonya di link ini). Sebelas finalis pun terpilih setelah melalui berbagai tahapan dari psikotes, esai, presentasi, sampai wawancara.

Prestasi para peserta membuat saya berkaca ke diri sendiri dan bertanya: "apa yang saya lakukan di seumuran mereka waktu itu?". Para finalis yang umurnya sekitar 16-18 tahun benar-benar luar biasa. Bayangkan, ada finalis yang sudah menjadi best agent untuk salah satu perusahaan asuransi se-provinsi. Ada juga finalis yang sudah memiliki bisnis EO untuk acara sweet 17 dan pensi sekolah-sekolah di Bandung! Nggak semua orang bisa termotivasi untuk melakukan hal seperti itu sejak masih di bangku sekolah.

Selain itu, saya semakin terkagum-kagum dengan karakter para peserta seiring observasi yang saya lakukan. Kemampuan pikir mereka begitu dewasa, yang bahkan saya nggak yakin dulu saya akan berpikir seperti mereka pada usia yang sama. Tentunya emosi yang bergejolak khas remaja juga masih ada, tapi keberanian dan daya juang yang mereka punya itu nggak semua orang bisa memilikinya. Mereka berani keluar dari comfort zone, masuk ke lingkungan baru (bahkan salah satu dari mereka ada yang baru pertama kali ke ibukota!), dan mengeksplor seluruh kemampuan diri yang ada meskipun harus mengorbankan beberapa hal. Mereka berani mengungkapkan pemikiran mereka, tau apa yang harus mereka lakukan, dan memiliki tekad untuk mewujudkannya.

Di sisi lain, saya juga melihat mereka sebagai suatu komunitas yang unik. Mereka semua memiliki kualitas yang sama dalam bentuk yang berbeda. Nggak bisa dilihat siapa lebih baik dari siapa, nggak bisa dibandingkan karena talenta mereka pun beragam. Seperti yang saya kutip dari seorang juri "kita seperti membandingkan singa dengan koala". Begitulah, kalau mengutip Albert Einstein, "everybody is genius. But, if you judge a fish by its ability to climb a tree, it'll spend its whole life believing that it is stupid."

Mungkin para finalis YSI ini beruntung bisa mengeksplor diri mereka lebih dalam di usia yang sangat muda. Mereka juga beruntung bisa bertemu dengan berbagai sosok hebat selama program acara dan melalui semuanya bersama teman yang seirama.

Tapi saya pun tidak kalah beruntung, bisa berkesempatan bertemu mereka dan belajar banyak hal yang tidak saya sadari sebelumnya :)

----------
Kalau ingin mengetahui lebih dalam tentang program ini, silakan buka link ini atau bisa mengikuti tayangan program YSI ini di Kompas TV setiap hari Minggu pukul 10.30 (mulai 30 Jun) :)

9 Jun 2013

Tentang Waktu

Saya sering lupa, bahwa waktu yang saya punya ini sementara. Saya terlalu sibuk meninggikan diri untuk mengejar ambisi. Ingin menjadi ini, ingin memiliki itu, entah kenapa rasa ketidakpuasan itu selalu saja muncul. Selesai pencapaian yang satu, tetap ada perasaan "kurang" dan akhirnya selalu "meminta" untuk yang berikutnya. Saya bertingkah seakan-akan selalu ada kesempatan baru yang menunggu.

Saya sering lupa, bahwa waktu yang saya punya ini sementara. Saya terlalu optimis menyusun rencana untuk hari yang belum ada. Apa lagi ini namanya, kalau tidak boleh saya sebut "angkuh"? Saya membuat suatu garis waktu yang sangat panjang tentang kehidupan saya mendatang. Tahap per tahap, poin per poin, sebisa mungkin semuanya dibuat apik dan mendetil sedemikian rupa. Tidak jarang, tentu ada beberapa rencana alternatif sebagai aplikasi manajemen ekspektasi diri sendiri. Tujuannya tentu meminimalisasi risiko kekecewaan akan tidak berhasilnya suatu harapan.

Saya sering lupa, bahwa waktu yang saya punya ini sementara. Saya terlalu posesif dengan waktu saya sehingga lupa membaginya dengan orang di sekitar saya. Entah berapa banyak teman saya kecewakan dan berapa cerita yang terlewatkan, rasanya saya tidak bisa menghitungnya. Predikat "sibuk" yang awalnya dimaknai positif pun pada akhirnya terasa seperti sindiran. Pemakluman yang saya minta dari mereka seperti pembenaran diri. Padahal, harusnya hal tersebut bukan lagi suatu negosiasi melainkan ujian menentukan prioritas hidup sendiri.

Saya sering lupa, bahwa waktu yang saya punya ini sementara. Padahal, ia lah yang punya kuasa. Ketika ia meminta saya pulang, saat itulah segala ambisi saya tidak lagi ada gunanya. Saat itulah, semua rencana manusia harus diserahkan. Saat itulah, orang di sekitar yang saya kecewakan harus merelakan.

Dan semoga, saya tidak lagi lupa, bahwa waktu yang saya punya ini sementara.

-----------------------------------------------------------------------------

didedikasikan untuk para orang hebat yang telah pulang setelah menyelesaikan karyanya di dunia

21 Mei 2013

14 Apr 2013

Tentang Kenangan


Tergambar cantik dalam tulisan singkat. Saya selalu kagum dengan tulisan beliau :)

11 Mar 2013

Bicara Saja

Bicaralah tentang apa saja
Tentang langit dan cuaca
Tentang macetnya ibukota
Tentang politik negara
atau sekadar gosip artis baru ternama

Bicaralah tentang apa saja
Tentang ramalan yang tidak kamu percaya
Tentang kitab dan para dewa
Tentang Tuhan dan pengikut-Nya
atau sekadar merapal mantra

Bicaralah tentang apa saja
Tentang mereka
Tentang dia
atau siapapun...

...tapi jangan tentang kita

1 Mar 2013

Sampai Bertemu Lagi, Babakan Sari

Di Babakan Sari saya kembali, desa yang sama dengan yang saya tulis di sini, desa yang sama yang membantu saya menjadi lebih dewasa dan belajar lebih dari yang saya kira. 

Untuk kedua kalinya saya menghabiskan 20 hari lebih dalam hidup saya di sana, dalam program yang sama, dengan peran yang berbeda sebagai tutor bukan lagi peserta. 

Tidak banyak yang berubah, selain dari mahasiswanya sendiri. Lapangan bola desa dengan tekstur tanah yang ekstrim masih demikian adanya. Anak-anak SD masih terus ramai mengerubuti pedagang makanan di pagi hari seperti semut mengerubuti gula. Bapak penjual bubur masih setia di depan balai desa. Warung favorit saya tempat membeli Teh Botol dan Indomie goreng juga masih di berada di sudut persimpangan desa, tidak berubah sedikitpun bahkan barang dagangannya.

Rasanya begitu terharu ketika warga masih mengingat saya yang mana saya sendiri pun perlu beberapa detik untuk menerka siapa namanya dan di mana saya pernah bertemu beliau. Keramahannya masih ada. Hal itu tercermin dari banyaknya undangan ngeliwet (acara makan bersama di atas daun pisang dengan nasi bumbu dan berbagai lauk) yang datang. Jamuan itu menjadi begitu mewah dan membahagiakan, terutama setelah melewati hari yang lelah emosi dan fisik.

Kenangan pun tidak hanya muncul dari interaksi saya dengan desa dan warganya. Keberadaan rekan seperjuangan pun menjadi sangat berarti dan meninggalkan kesan tersendiri. Bagaimana saya bisa lupa bahwa saya pernah tinggal dengan 16 orang di bawah satu atap? Setiap hari kami terjebak dalam antrean kamar mandi, susunan tidur, debu rumah yang tidak pernah hilang, dan suara kambing (dan aromanya) yang selalu hilir mudik mengisi siang dan malam.

Ah, saya jadi merasa terlalu mellow menuliskan ini. Belum 24 jam rasanya saya keluar dari pintu rumah itu. Namun, kini saya sudah pulang. Kembali di sini, di kota yang serba ada dan berlebihan -berlebih penduduknya, berlebih hedonismenya, berlebih individualistisnya.

Saya tidak dapat memungkiri bahwa saya senang kembali pulang. Meskipun demikian, mungkin memang masih tertinggal sedikit rasa sayang.....




***sila dikunjungi juga tulisan sahabat seperjuangan di sini :)

20 Jan 2013

Ada satu fase di mana kita cuma butuh waktu sendiri. Memilih minggir ketika semua sibuk berlarian mencari kesenangan. Memilih ke sudut ketika yang lain menyerbu ke tengah. Menghitung lambat setiap detik yang terlewat. Menikmati perubahan sudut bumi ketika ia berputar pada porosnya. Menyerapi perubahan volume udara di ruang yang tidak kosong itu.

Tenggelam dalam sepi. Bukan untuk sedih tapi untuk memahami.
Terpejam. Melatih indera peraba bekerja lebih ekstra. Memaksa indera pencium peka terhadap aroma. Mendorong indera pendengar berlatih mendengar nada yang nyaris tak bersuara.

Tenggelam dalam sepi. Bukan untuk sedih tapi untuk berpikir.
Terpejam. Melihat dalam diri tentang apa yang harus dikoreksi. Mereka-reka bentuk kehidupan apa yang ingin dimiliki. Membentuk imaji tentang bahagia yang selama ini abstrak dan tak bernyawa.

Tenggelam dalam sepi.
Bukan untuk sedih tapi untuk menyendiri.