26 Des 2011

Natal Kali Ini

Sekarang sudah tanggal 26 Desember, Natal sudah lewat 14 menit yang lalu. Tamu-tamu yang tadi memenuhi ruangan sepertinya sudah berselimut dan berkelana di mimpi masing-masing. Lampu kelap kelip di pohon natal sekarang menyala sendirian, canda tawa yang tadi menemaninya sudah hilang ditelan malam. Di kamar, saya berusaha menyimpan memori hari ini dalam tulisan agar tidak menguap seiring berlalunya hari.

Natal kali ini terasa berbeda dari natal kemarin. Yah, tentu saja setiap tahun pasti akan terasa tidak sama. Orang datang dan pergi, hiasan gantung juga terus berganti, apalagi menu makanan yang tersaji. Tapi rasanya ada hal lain yang membuat saya terusik untuk merekam Natal kali ini dalam tulisan.

Ini Natal pertama yang saya habiskan dengan beberapa anggota keluarga baru. Lucu, ketika tanpa sadar dalam kejapan mata, orang yang sama sekali asing bagi kita kemarin, sekarang sudah menjadi bagian di silsilah yang sama. Ironis juga, ketika ternyata kehadiran mereka tidak mengubah jumlah anggota. Yah mungkin itulah hukumnya.. Ada yang datang, hilang, pergi, dan kembali. Sudahlah.. 

Ini Natal pertama sejak saya menginjak kepala dua. Mungkin, cara pikir saya sudah berbeda dari sebelumnya, entahlah. Tapi mudah-mudahan saja ini merupakan salah satu pertanda dalam menjadi lebih dewasa.Tentu saja, pertambahan usia saya berbarengan dengan usia saudara sebaya. Lucu rasanya ketika membandingkan bagaimana dulu dan sekarang kami berinteraksi. Topik games PS, Lego, komik, kartun, dan segala atribut masa kecil yang menjadi bahan perbincangan kini pun beralih ke topik yang lebih serius. Arogansi yang ada pun tidak pernah hilang, hanya berubah wujud. 
Dulu, kami tidak mau kalah memamerkan games terbaru yang sudah diselesaikan atau seri komik terbaru yang baru diterbitkan. Kini, kemasannya tentu lebih elegan, dengan menyanding nama universitas, jabatan pekerjaan, atau bisnis yang menjadi bahan perbincangan. Tidak ada yang masalah dengan hal itu, toh kita semua punya "sesuatu" untuk dibanggakan.Justru hal itu memperkaya suasana, menjadi bahan wacana dan pengungkit percaya diri supaya lebih bercahaya. Dan untungnya, kedekatan itu pun tetap ada.

Ini pun Natal pertama, sepanjang ingatan saya, di mana saya tidak mengharapkan apa-apa. Yah, saya tidak punya wish khusus pada Natal tahun ini. Semua berjalan begitu saja.. Tanpa menuntut apapun, dan entah kenapa lebih lega rasanya. Dan itu membuat saya bersyukur karena Natal kali ini terasa begitu bahagia.

Sekarang sudah tanggal 26 Desember, Natal sudah lewat 48 menit yang lalu. Rangkaian kata yang tadi menumpuk sudah mulai tersalurkan, meski ucapan syukur masih belum dapat sepenuhnya dapat tertuliskan. Pikiran mulai melayang ke dalam selimut, menunggu kapan pergi ke negeri mimpi. Lampu pohon natal masih menyala sendirian, menunggu waktu kapan saatnya kembali beristirahat di dalam lemari. Di kamar, saya pun akhirnya selesai mengemas Natal kali ini agar tidak menguap seiring berlalunya hari.


Sampai jumpa tahun depan, pohon dan lampu!

23 Des 2011

Sepenggal bait

Dan kini seperti fajar yang menanti mentari
Dan hujan yang menunggu pelangi..

18 Des 2011

Itu Saja

Saya ingin menjadi ada
Memiliki wujud, memiliki rupa
Tidak hanya sekadar nama, tapi juga punya maknanya
Tidak hanya sekadar aksara, tapi juga terangkai dalam kata
Lalu menjadi cerita

Saya ingin menjadi ada
Yang bukan hanya sekadar karena terbiasa

Saya ingin menjadi ada
Itu saja

-bukan untuk siapa-siapa, murni asal belaka

16 Des 2011

Pasti..

Mungkin saya tidak bisa melihat segelap apa di sana. Apa sehitam antariksa? Atau terang tapi berdebu seperti jalanan Jakarta berasap Kopaja?

Saya mungkin tidak bisa merasakannya juga. Saya cuma bisa berasumsi, memberdayakan segala emosi, berempati, mencoba menempatkan diri di posisi yang sama seperti yang kini kamu hadapi. Maaf, saya mungkin sok tahu untuk berusaha tahu menjadi kamu. 

Mungkin presensi saya tak berarti, tapi setidaknya saya di sini. Izinkan saja telinga saya mendengarkan keluh dan amarah. Atau sekedar helaan napas jika vokal dan konsonan tak mampu berkolaborasi menyampaikan emosi.

Mungkin ini rasanya seperti saat dini hari. Semakin dingin, gelap, hingga sampai di titik hitam paling pekat. "The night is darkest just before the dawn", Harvey Dent berujar. Tetaplah kuat, sayang. Pasti, matahari akan terbit kembali.

19 Nov 2011

Obsession

Kakak saya bilang, "wisata kuliner itu adalah gabungan wisata alam dan budaya. Alam menentukan bahan apa yang dipakai di masakan itu, dan budaya menunjukkan bagaimana makanan tersebut diolah sedemikian rupa." Brilian menurut saya. Ternyata, kesukaan pada makanan itu memang sudah mendarah daging di keluarga. Beruntung, kami punya kesempatan menikmati berbagai macam makanan. Setiap kami pergi, nggak ada hal lain yang kami lakukan selain makan. Jadi ya wajar aja kalo kalian ikut keluarga saya pergi, pasti ya makan lagi makan lagi :D

Nah, kalo saya cerita ke teman-teman saya tentang apa yang saya makan, nggak sedikit yang masih terheran-heran. Entah karena makanan tersebut yang kelihatannya terlalu 'ajaib' atau ya karena mereka nggak pernah menemukan itu di pasaran modern sekarang. Dimulai dari situlah saya terdorong untuk bikin blog ini. Rasanya saya semangat banget pengen nunjukin ini lho yang namanya "..." dan rasanya tuh gini lho.. Oh, dan untuk konsisten dengan keinginan saya sharing, foto-foto yang dipakai pun asli dari kamera saya sendiri :) 

Dan kenapa harus buat akun baru dari blog sebelah? Yah, supaya konsisten aja tema blognya nggak campur-campur... Tapi kayaknya faktor lain pendorongnya adalah salah satu 'penyakit' saya akan media sosial deh haha.

Anyway, silakan mengunjungi :)



4 Nov 2011

Iya, kan?

Saya dan dia bertemu dengan pakaian yang berbeda. Saya percaya ini pakaian terbaik saya. Begitu juga dengannya, yang punya keyakinan kuat bahwa itu pakaian terbaik untuknya. Tidak ada yang memaksa siapa harus berpakaian seperti apa. Kami dipertemukan. Bukan kebetulan, kan?

Saya dan dia berjalan ke arah yang sama. Saling menyamakan kecepatan. Supaya seiring, supaya dapat melangkah bersebelahan. Mungkin irama langkah kami berbeda. Mungkin saya memulai dengan kaki kiri dan ia mulai dengan kaki kanan. Mungkin sebaliknya. Tapi kami berdampingan. Sejalan. Searah. Tidak masalah, kan?

Apa salah kalau saya dan dia tidak sama?
Apa salah kalau berbeda tapi bersama?

2 Okt 2011

Jalan Lain

Beberapa waktu yang lalu saya seperti disadarkan kalo emang jalan setiap orang berbeda. Klise, tapi emang setiap orang punya talent yang nggak sama.. Dalam konteks ini, yang saya bicarakan adalah jalan karier yang nggak lama lagi akan saya tempuh.
Sebagai mahasiswa di sekolah bisnis, pastilah (hampir) semua orang berpikir kami akan mendirikan suatu bisnis dan menjadi pengusaha. Paradigma itu jugalah yang menghampiri pikiran saya sampai dengan sekarang. Rasanya kok gagal banget ya kalo mahasiswa bisnis kok nggak bisa bisnis..

Tapi fyi, di sekolah saya itu ada sedikit kecenderungan umum. Mereka yang aktif di bidang akademis dan organisasi, ternyata belum tentu berhasil di bisnisnya. Begitu juga sebaliknya. Tapi nggak jarang juga ada yang bisa bagus di semua bidangnya. Itulah yang kemudian membuat saya sempet minder. Ngeliat sodara-sodara dan temen-temen lain, yang juga bersekolah di tempat yang lain, kok kayaknya iri ya mereka bisa meraih sukses ini itu. Entah kakak saya yang produknya udah muncul di berbagai majalah, sepupu saya yang jadi finalis Puteri Indonesia, teman-teman saya lain yang udah melanglang buana ke mana-mana... Rasanya saya kok nothing banget.

Tapi kemudian saya menyadari, tiap orang punya talent yang beda. Contohnya saya dan kakak saya. Meskipun kami berdua sama-sama sekolah di tempat dan jurusan yang sama, tapi ternyata aplikasinya belum tentu sama.. Apa yang kita dapet di sekolah itu kerangka berpikirnya.

Gimana ke depannya, balik lagi ke orangnya kan?

19 Agt 2011

The clock is ticking

Dan sekarang saya sadar bahwa umur saya dalam beberapa hari akan mendekati kepala dua. Kepanikan yang saya rasakan pasti sama dengan temen-temen seangkatan dan orang-orang lain yang telah melewati fase ini.
Sebagian kita panik, belum melakukan apapun padahal hidup udah seperlima abad. Tapi kemudian ada tiga tipe orang yang muncul setelah benar-benar menginjak umur 20:
1. Mereka yang panik, membuat plan, dan langsung melakukan hal-hal untuk membuat hidupnya makin berarti di usia kepala dua ini
2. Mereka yang panik, membuat plan, dan setelah itu hanya menganggap: "ah, ternyata umur 20 biasa aja, kok"
3. Mereka yang menganggap kita yang panik ini berlebihan dan berkata: "apalah arti angka?"
Buat saya, angka itu penting. Itu menunjukkan apa saja yang telah saya habiskan selama 19 tahun ke belakang dan kemudian ada satu hal yang saya sadari: I always play safe and do not like risks.
Dari seluruh keputusan yang saya ambil, seperti tentang ingin ikut les, ekskul, memilih jurusan, memilih sekolah, ikut lomba, sampai keputusan kecil seperti memilih makanan dan membeli baju dan sepatu, hampir 80% yang saya pilih adalah sesuatu yang pernah saya lakukan sebelumnya atau orang terdekat saya pernah lakukan. Tapi bukan berarti saya tidak pernah mencoba mengambil risiko lho.
Sampai usia 19 tahun lebih 11 bulan beberapa hari ini, ada tiga keputusan terbesar dalam hidup yang saya pernah saya ambil:
1. Saya memilih untuk bersekolah di SMA negeri
Budayanya ternyata emang beda banget sama yang pernah saya rasakan selama sekolah dari TK sampai SMP (dan kuliah). Apalagi, di keluarga, cuma saya satu-satunya yang sekolah di negeri. Perjuangan sekolah di sini nggak cuma saya yang ngerasain (belajar gila-gilaan, pulang malem, menghadapi heterogenitas yang super variatif) tapi juga sama orang tua dan adek kakak saya (nganterin bolak balik ciputat-tebet, nggak bisa banyak liburan, dan kena omelan kalo saya lagi stres, hehe). Makanya sekarang sering banget masih muncul "kok bisa ya milih di sana?". Well, saya juga nggak tau. Tapi yang pasti, pengalaman tiga tahun di sini itu sangat unik dan nggak bisa dibandingin sama pengalaman remaja lain yang bersekolah di tempat yang lain :) Anyway, I miss my IPABarbarians dan para sahabat...
2. Saya memilih untuk tidak mengambil kesempatan kuliah di universitas negeri
Ini juga termasuk keputusan berisiko besar, apalagi jalur saya yang SMA di negeri.. kok abis itu ngelepas negeri dan milih ke swasta? Saya tau apa yang saya pilih mungkin beda sama yang diharapkan orang-orang. Saya juga ngerasain kok, belajar gila-gilaan selama SMA, terutama di tahun ketiga demi ujian masuk perguruan tinggi. Masih inget banget gimana selama semester dua itu saya dan temen-temen sekelas udah nggak dengerin guru ngajar, tapi sibuk ngerjain soal SNMPTN tahun lalu. Saya juga inget, kita juga jarang keluar istirahat makan siang dan milih untuk belajar. Bahkan kita cabut kelas bukan untuk main, tapi untuk ke BTA dan belajar di sana. Itu pengalaman yang nggak pernah saya lupakan dan saya bangga akan itu haha.
Selain itu, saya juga kecewa banget waktu saya ditolak. Rasanya perjuangan saya sia-sia. Ada juga rasa iri akan keberhasilan teman-teman yang lain.. Tapi kemudian saya juga senang banget pas bisa mendapat kesempatan masuk di universitas negeri paling favorit di muka bumi Indonesia ini, meskipun di jurusan pilihan ketiga.. Tapi kemudian saya sadar kayaknya tempat saya bukan di pilihan ketiga itu. Dan terbukti, sekarang saya tidak menyesal untuk banting setir gila-gilaan berkuliah di sini, sekolah bisnis yang masuk dalam sekolah bisnis terbaik di Indonesia :)
3. Saya memilih untuk mencoba mencalonkan diri dalam pemilihan umum di kampus
Ini juga pengalaman yang saya sampe heran kok waktu itu saya berani ikutan ginian. Padahal siapa saya, nggak kenal siapa-siapa juga. Dan risiko terbesar yang saya pikirkan ternyata menjadi kenyataan. Saya kalah di pemilihan itu dan saya malu, sampai sekarang sebenernya. Beberapa saat saya down, dan itu semua tertulis di beberapa post sini. Tapi itulah yang kemudian membuat saya menjadi belajar dan bisa menjadi bagian dari organisasi kampus. Yah, seperti yang saya tulis di sini.
Ada lah.. beberapa "what ifs" yang muncul, yang kadang kalo saya down banget saya mikir kenapa saya melakukan itu. Tapi kalo lagi mikir sendiri, justru itu yang membuat saya bisa seperti sekarang kan? Buktinya saya bisa survive berada di tempat yang keras, menemukan hal menarik di tempat yang baru, dan memperoleh hal positif dari kekalahan. Ternyata, emang bener, berani ambil risiko itu membuka mata kita untuk melihat sisi lain dari dunia.
Oleh karena itu, untuk resolusi ulang tahun kali ini, atau yang kemudian saya sebut resolusi kepala dua, saya cuma pengen saya mulai berani melakukan apa yang sebelumnya tidak berani saya lakukan. The clock is ticking. Mau sampe kapan lagi saya nunggu untuk melakukan itu? Iya kan?

8 Agt 2011

Membuka Kembali Jendela Dunia


Saya lupa bagaimana serunya membaca (buku). Menelusuri kata demi kata, membayangkan suasana dan membiarkan imajinasi terkuak tanpa terkendali. Tidak peduli perut lupa diisi nasi, atau ternyata sinar matahari sudah berganti dengan cahaya elektronik, halaman demi halaman masih menanti untuk dijelajah. Rasanya, memberhentikan diri sejenak untuk sekedar mengambil air itu seperti menyia-nyiakan petualangan di antara huruf cetakan berspasi rapat.

Saya lupa, bagaimana saya bisa membayangkan diri menjadi orang yang lain ketika terlibat penuh dalam cerita yang saya baca. Tak jarang, emosi ikut terbangun seiring alur cerita berjalan. Bahkan saya terkadang lupa bahwa saya masih berada di ruangan di dalam rumah. Pikiran saya sudah berkeliling ke seluruh dunia melintasi kota-kota yang ada dalam lembaran hidup si pemeran tokoh utama.

Dan satu buku ini telah kembali mengingatkan saya bahwa jejaring sosial dan dunia maya tidak akan pernah bisa mengalahkan mantra sastra. Barisan huruf cetakan rapi, suara gemersik kertas yang beradu dengan jari, kepanikan mencari kertas pembatas, masih nggak ada duanya.



29 Jun 2011

Satu Tahun Kemarin



Menjadi bagian dari suatu perkumpulan pasti rasanya menyenangkan. Ada satu kebanggaan ketika saya bisa memberikan apa yang saya mampu, dan berbagi semua bersama. I'm just feeling.. useful.

Satu tahun dengan tim yang luar biasa, duapuluh tiga orang yang luar biasa dengan karakter yang beda-beda udah pasti nggak segampang itu. Yah, tapi itulah yang namanya pendewasaan. Dealing with people (and also: DEADLINE!) Dan itu adalah hal yang selalu jadi tantangan berat buat saya, dan mungkin buat sebagian dari kita juga : menekan ego masing-masing, mencoba membawa ide menjadi realita dengan sumber daya yang terbatas.

Pengalaman satu tahun kemaren itu bener-bener pengalaman yang berharga banget buat saya. Berharga, karena dengan apa yang saya jalanin kemaren, saya jadi bisa lebih mengerti apa arti sebuah komitmen. Satu kata yang nggak bisa dideskripsikan dengan kalimat karena cuma bisa dibuktikan dengan tindakan. Satu kata yang memaksa saya untuk tetap menyelesaikan semua sampai akhir dengan sisa tenaga yang saya punya.

Satu tahun di situ memang butuh perjuangan ekstra, terlihat tidak nyaman mungkin bagi sebagian orang. Tapi sebenarnya buat saya, itu adalah zona nyaman. Seperti yang saya bilang di atas, tempat-tempat seperti itulah yang akan saya datangi karena di sana saya bisa memberikan kontribusi dan merasa berguna.

Dan sekarang saatnya saya mengambil sedikit waktu untuk mengistirahatkan raga. Mohon maaf untuk tidak memanfaatkan kesempatan berada di situ satu tahun lagi. Mungkin saya akan sedikit kehilangan. Tapi ketika semangat saya muncul kembali, saya akan mencoba berjuang di tempat lain dan mencoba menjadi berguna. Lagi.


Terima kasih untuk pengalaman satu tahun kemarin, SB team :)

20 Jun 2011

Pilihan

Membicarakan pilihan emang nggak pernah gampang, terutama buat orang yang kebanyakan mikir kayak saya. Dan ya beginilah, rasanya tiap saat ketemu orang pengen diskusi, tapi ketika mereka ngasih pandangan pilihan A, saya bersikeras memilih B. Ketika saya didukung untuk memilih B, saya ragu.

Hingga akhirnya kemarin, di tengah makan malam keluarga hari Minggu, muncullah pembicaraan mengenai ini.

Dan beginilah ibu saya berkata:
"Nantinya hidup itu emang bukan lagi masalah suka nggak suka. Mau pilih yang mana itu sama aja. Intinya adalah gimana kamu survive di situ, karena pasti ada aja hal yang kamu nggak suka dari setiap jalan yang kamu pilih."

Dan beginilah kakak saya menanggapi:
"Pokoknya jangan kebanyakan mikir. Nggak maju-maju ntar, nggak yakin-yakin karena hampir yakin yang ini lu bakal balik lagi mikir ke awal."

Yah semoga saya diberi pencerahan.

15 Jun 2011

Mungkin?

Mungkin begitulah, ada sebagian kita yang punya mimpi dan memilih untuk mengejarnya dari sekarang. Melakukan segala cara untuk menemukan jalan terdekat. Menutup mata dari pandangan dan pendapat orang-orang. Mengetahui dengan pasti apa yang harus dilalui dan rute mana yang harus dipilih.

Dan ada sebagian kita ada yang terjebak di jalur yang berbeda dari harapan semula. Bisa jadi kita memang memutuskan exploring dunia baru dan menghadapi apa saja yang ada di depan kita dengan berani. Bisa jadi, cita-citanya memang berubah.

Tapi ada juga yang menjebak diri karena nggak punya keteguhan hati untuk menentukan sendiri. Mereka nggak pernah berhenti bertanya. 'Harus ke mana?' 'Kenapa ke sana?' dan berbagai tanda tanya lainnya. Padahal, belum tentu juga ada yang bisa menjawabnya, karena sebenarnya hal itu harusnya dijawab oleh dirinya sendiri.

Siapa yang tau mimpi kita apa? Siapa yang ngerti kita mau hidup yang kayak gimana?
Ya cuma kita sendiri.

Udah tau gimana cara ke sana? Udah ngerti jalan mana yang harus dilewati?
Sudah...

Terus kenapa memilih jalan yang berbeda?

Mungkin orang itu terlalu takut menjalani apa yang dia suka karena ia takut kecewa pada akhirnya.

Mungkin buat dia lebih gampang belajar menyukai hal yang nggak pernah kepikiran sebelumnya,
daripada belajar menerima kalo hal yang disuka nggak berjalan sebagaimana mestinya.

...

Mungkin itu cuma alasan orang plin plan yang pengecut.

Mungkin itu cuma alasan saya.

11 Apr 2011

Demotivasi 2

Saya masih dalam kondisi putus asa yang sama ketika saya menulis post sebelum ini. Tapi setidaknya, hari ini saya seperti dicurahkan berbagai nasihat, pembenaran, dan 'jendela-jendela' lain yang dibukakan untuk saya.

"Experience is what you get when you didn't get what you wanted" - Randy Pausch
Ini adalah suatu kutipan dari sebuah video tentang mewujudkan mimpi. Mungkin, ketika kita berpikir kita ada di tempat yang salah, seenggaknya kita pernah ngerasain bagaimana berada di situ. Dan kemudian kita punya pilihan, berputar arah atau tetap melanjutkan. Siapa tau sebenarnya ini tempat yang tepat, tapi kita nggak pernah tau kan?

"Wait long enough and people will surprise you. When you got piss off with somebody, that's because you didn't give them enough time" - Randy Pausch
Masih dari video yang sama, kutipan ini menendang satu aspek kehidupan saya yang lain. Yah, kutipan itu sudah menjawab semuanya kan?

"Rambut boleh sama hitam, tapi nasib bermacam-macam" - Samuel Mulia
Nah yang ini saya dapat dari koran Minggu pagi. Topiknya sedang membicarakan bagaimana kesuksesan itu berbeda-beda bagi tiap orang. Mungkin itu yang harus saya sadari sekarang. Saya nggak bisa berdoa hal yang sama dan berharap dijawab dengan cara yang sama kayaknya.

Kalo mereka yang nggak sekolah bisa sukses jadi pebisnis, mungkin saya yang sekolah ini bisa sukses juga tapi jadi...... ibu rumah tangga, mungkin? Hahahaa..

29 Mar 2011

Belajar Berdiri

Ah.. siapa saya yang mencoba berdiri menantang langit di atas sana. Sepertinya ini tamparan besar setelah merasa selalu benar dan sok tahu hingga pada akhirnya sekarang terpaku di jalan yang seakan buntu.

Ya, saya bilang seakan karena terkadang sering ada keajaiban di mana tiba-tiba muncul pintu keluar yang terbuka entah dari mana. Atau sebenarnya pintu itu memang ada, namun mata saya sedang kalut dalam kesombongan dan tertutup?

Dan begitulah seperti manusia pada umumnya, sekarang saya cuma bisa bertanya dan meminta. Lagi. Dan lagi. Meminta ditunjukkan jalan oleh-Nya, meminta diberi kekuatan dari-Nya, meminta dipermudah jalannya.

Nggak tau diri. Tapi saya nggak tau lagi.

"Why do we fall? So we learn to pick ourselves up"
Tiba-tiba kata-kata Alfred yang ditujukan untuk tuannya itu terngiang-ngiang di kepala. Mencoba menampar saya untuk menjejakkan kaki dan mencoba berdiri lagi.

Ughh.. Susah. Tenaga saya habis.

Tapi mana cukup waktu kalau saya cuma menunggu ada orang yang melongok ke lubang ini dan mau mengulurkan tangannya?

Ah.....

Capek.


8 Mar 2011

Kita, Sempurna

Kadang, kita terlalu berusaha menjadi sempurna
Berusaha menjadi apa yang diharapkan,
memberi apa yang diinginkan,
menjadi jawaban apa yang diminta

Sayangnya, kita kemudian kecewa ketika kerja keras kita sia-sia
Apa yang kita pikir sudah yang terbaik ternyata belum cukup baik
Dan selalu, tidak akan pernah cukup..

Selalu merasa salah
Selalu merasa kalah

Yah.. pada akhirnya kita akan selalu lelah

Tapi kita nggak bisa menyalahkan siapa-siapa
Karena mata kita bukan mata mereka

Apa yang dilihat tentu saja akan berbeda
Mungkin saja saya melihat biru dan kamu melihat merah
Di sisi lain ada orang yang melihatnya ungu karena ia berada di tengah

Sekarang tergantung darimana kita melihatnya,
apakah itu kekurangan atau keunikan
apakah itu perubahan atau kepalsuan

Karena kesempurnaan tak akan pernah ada
Dan ketika kita ingin menjadi sempurna,
berarti ingin menjadi
tidak ada



8 Maret 2011
untuk saya dan semua perempuan
Selamat Hari Perempuan Sedunia :)
(terinspirasi dari tweet @mrskurtcher )

20 Feb 2011

Satu yang sama

Saya bukan seorang yang sangat religius. Kewajiban-kewajiban yang harus saya penuhi sebagai penganut agama yang taat sejujurnya bahkan belum bisa saya jalankan semua. Kebanyakan alasannya adalah faktor M (=malas) yang menguasai diri saya sehingga menggerakkan hati sedikit untuk itu kok ya.... susah banget.

Tapi saya selalu percaya, ada kekuatan besar di Atas Sana yang menggerakkan alam semesta kita. Ada yang menyebut-Nya Allah, Allah Bapa, Tuhan, dan sebagai macamnya. Yang pasti, saya selalu mempercayai Dia Yang Berkuasa Di Sana Hanyalah Satu Dia yang kita percaya..

Iya, saya percaya kita semua sama. Iya kan?
Kenapa harus membedakan diri?


Saya dan kamu..
Nggak ada bedanya kan?

26 Jan 2011

Summary

"Dasar lugu lo"
-S.A.N

"Dunia nggak senaif itu kali"
- F.I

"Lo tuh polos bener. Kayak mie ayam nggak pake ayam...""
-P.S

"...bahkan nggak pake mie, mangkok doang!"
-L.S.M

25 Jan 2011

Keep the faith

When life treats you bad and you've got nothing left, just keep the faith.
That was they said.

23 Jan 2011

Dalam sebuah kompetisi, akan selalu ada yang menang dan kalah. Itu namanya mutlak, hukum alam, nggak bisa diganggu gugat. Dan biasanya untuk membesarkan hati ke yang kalah, kemudian akan muncul nasihat yang berbunyi "yang penting bukan menang atau kalahnya, yang penting kita udah kerja semaksimal yang kita bisa".

Mungkin menjadi kalah itu emang nggak buruk. Yang bikin itu terasa buruk ketika yang kalah nggak bisa menerima kekalahannya.

Biasanya, setelah luapan kemarahan dan kekecewaan muncul (ada yang menyumpah serapah, ada yang menghabiskan air mata, ada yang menyalahkan sekitarnya), pertanyaan-pertanyaan akan muncul. Pertanyaan dimulai dengan kata "kenapa", dan diikuti dengan subjek: si yang kalah itu sendiri dan si pemenang.

Kenapa saya kalah?
Kenapa dia yang malah menang?
Kenapa saya nggak pernah menang?

Mungkin itu teguran, biar nggak sombong. Seenggaknya jadi tau bahwa kerja keras yang udah dilakukan belum cukup untuk memperoleh hasil yang maksimal. Seenggaknya bisa belajar untuk ke depannya. Seenggaknya bisa punya motivasi untuk mengembangkan diri.

Mungkin menjadi kalah emang nggak buruk, andaikan saya bisa berpikir sepositif tulisan saya ini. Ups.. Jadi curhat. Hahaha.

9 Jan 2011

Hentakan Singkat

Samuel Mulia dengan cerdasnya berhasil lagi menghentak akal pikir saya.

1) Bahwa manusia itu tempat bertemunya sifat positif DAN negatif, bukan atau.
Kalo gitu, memang setiap orang berhak punya sifat negatif dan positif kan? Kalo gitu, kenapa kita susah untuk menerimanya?

2) Bahwa kejadian buruk yang terjadi itu cobaan yang bisa menguatkan kita untuk jadi lebih baik. Tapi kenapa kita lebih suka meminta untuk dimudahkan jalannya, bukan dikuatkan kitanya?

3) Bahwa janganlah kecewa ketika orang yang sangat kita percaya ternyata bertindak buruk.. Karena memang cuma Yang Satu yang bisa dipercaya.



berdasarkan rubrik Parodi, Kompas 9 Januari 2010