Langsung ke konten utama

Si Ndok Krompyang

5-27-broken glass.jpg

Hmm.. Sebenernya itu berasal dari Bahasa Jawa. Ndok adalah sebutan untuk anak perempuan dan krompyang itu artinya pecah. Waktu saya kecil, ibu saya memanggil saya dengan sebutan itu berdasarkan kenyataan bahwa saya itu ahli banget ngejatohin barang. Adaaa aja barang yang jatoh, dan kebanyakan barang tersebut akan pecah setelahnya. Bahkan dulu saya itu orang terakhir yang bakal dipercaya untuk dititipin megang apa-apa in case ada yang mintain tolong. Mereka berasumsi saya bakal mecahin barang itu, walaupun benar... 70% kemungkinan barang tersebut emang bakal jatoh dari tangan saya.

Tekanan psikologis dari julukan itu masih membekas sampe sekarang. Makanya saya selalu berusaha menghindari tempat barang pecah belah atau tumpukan kardus gitu. Bawaannya selalu deg-degan kalo ada di daerah kayak gitu. Tapi entah sial atau apa, walaupun udah hati-hati, masih aja suka jatoh juga. Entah kesenggol tas, jatoh dari tangan, atau apalah..

Saya juga nggak ngerti kenapa bisa kayak gitu. Mungkin karena tangan saya suka basah keringetan sendiri jadi barang yang saya pegang selip. Atau kalo kata adek saya, mungkin karena reflek saya kelewat defensif. Kalo kaget ada barang jatoh bukannya ditangkep malah ditangkis. Ya wajarlah ya..

Sejak beberapa tahun yang lalu, saya udah nggak inget dengan segala krompyang-krompyangan itu. Tapi setahun belakangan, intensitas menjatuhkan barang itu meningkat lagi. Bahkan mungkin tambah sering. Udah nggak kehitung deh Teh Botol yang tumpah pas makan bareng temen atau gelas ice lemon tea yang kesenggol dan merugikan banyak pihak. Nggak jarang juga kalo lagi makan bekal di kelas tiba-tiba sendoknya kebalik sendiri dan nasinya tumpah ke karpet.. Parah yaa..

Sebenernya saya juga capek banget ngejatohin barang terus. Kayak tiap hari tuh nggak afdol kalo nggak ada yang jatoh. Dan seringnya itu terjadi di saat saya berpikir "fiiuhhh.. akhirnya hari ini nggak ngejatohin apa-apa". Tapi beberapa menit kemudian, tiba-tiba buku yang saya pegang kepeleset dari tangan dan jatoh. Kesel nggak sih?

Tapi suatu hari, temen saya tiba-tiba ngasih wejangan tentang kebiasaan ini. Kira-kira isinya sih gini:

"Tik, ati-ati jangan suka selip terus tangan lo. Nggak cuma barang doang yang nanti lo jatohin, tapi hati orang-orang juga lagi."

Hahaa.. Ini saya cuma bisa ketawa. Entah karena tersindir atau miris sendiri....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemanasan

Sebentar lagi kuartal kedua akan dimulai. Saya lupa saya punya ruang ini, tempat di mana saya bicara sendiri dengan sedikit berharap ada pembaca mengerti tapi pura-pura tidak peduli dan tidak perlu dikonfrontasi. Ironis memang; sengaja membuka eksistensi tapi tidak percaya diri, memilih untuk ditemukan dalam ranah maya tapi memilih berkisah dalam metafora. Lalu kemudian saya menulis ini, memilih cara begini dengan membagi prosa dalam spasi menjadi seakan puisi. Padahal, isinya hanya rangkaian kalimat tak berinti, tumpahan kata yang sulit berhenti, tapi terlalu sayang untuk disimpan dalam hati. ------------------------------------ Dua hari sebelum kuartal satu ditutup Rumah, 2016

Pesan untuk Saya Nanti

Akhirnya kembali lagi ke halaman ini.. Akhirnya! Keputusan untuk kembali dan menulis di sini bukan hal yang mudah sebenarnya. Saya sempat ingin menulis beberapa bulan yang lalu, kemudian urung, dan akhirnya lupa. Lalu kemarin, entah bagaimana saya diingatkan untuk menunaikan niat yang dulu pernah terbesit, hingga membawa saya duduk dan meluangkan sepersekian detik hari ini di sini. Tulisan kali ini saya tujukan untuk diri saya sendiri suatu hari nanti: sebagai pengingat untuk bersyukur, jika suatu hari saya terlalu angkuh dan tinggi hati, sebagai pegangan untuk berdiri, jika saya mulai rapuh dan jatuh lain kali, sebagai kekuatan untuk maju, jika saya ingin menyerah dan tidak percaya diri, sebagai garis untuk pedoman, agar tidak tersesat dan terlalu jauh berlari Rasanya masih surreal. Tinggal sendiri jauh dari rumah dan memulai kembali duduk di bangku kuliah. Lebih sulit ketika harus selalu mengkonversi waktu setiap ingin menghubungi mereka di Tanah Air, tapi yang jauh ...

Menantang Hujan

Selama ini ia benci Hujan. Ia beli payung berbagai ukuran, jas hujan dengan warna menawan,  sepatu anti air dengan kualitas tak diragukan. Lalu kemudian Hujan tidak datang selama beberapa pekan. Sial, lalu apa gunanya semua perlengkapan? Ia pikir ia benci Hujan. Memang, tapi bukan dalam bentuk "tanpa pertemuan". Ia perlu Hujan. Untuk dilawan. _____________________________________ Kebon Sirih, 27 Februari 2015 di penghujung musim penghujan