31 Des 2014

Episode Penutup Tahun

Matahari terbit dan tenggelam mungkin hanya pertanda hari
tapi ini menjadi simbol satuan waktu yang pasti
bahwa hidup berjalan tidak berhenti.

Maka izinkan saya berterima kasih
kepada setiap luka yang menyisakan perih
kepada setiap tawa yang pernah dibagi,
kepada  setiap air mata yang harus terjadi,
kepada  setiap mimpi yang masih dicari,
dan kepada setiap jawaban yang hadir di sini.

Selamat memulai tahun baru!

24 Des 2014

Cara Bersama yang Berbeda

Jika diumpamakan mobil dan kamu pengemudinya,
Jangan biarkan saya jadi tujuan ke mana kamu berjalan.
Jadikan saya penumpang yang duduk di sebelahmu
Mengingatkan jika kamu berkendara terlalu cepat atau menerobos lampu merah.

Jika kamu adalah sebuah kapal,
Jangan biarkan saya jadi pelabuhan terakhir kamu berhenti.
Jadikan saya penunjuk arah dan penanda bahaya
Memastikan kamu di jalur yang benar sampai nanti tiba pada tempatnya.

Jika kamu adalah penulis puisi,
Jangan biarkan saya jadi alasan kamu berkarya.
Jadikan saya kertas dan pena
Menjadi media tempat kamu berkeluh dan tertawa karena yang lainnya.

Karena bisa jadi memang begini cara kita bersama
Saling mengisi saat hidup terlalu rumit untuk dilalui sendiri
Tapi mungkin akan tersisih saat akhirnya kita menemukan teman hidup abadi.

Mungkin :)

18 Nov 2014

Hari Itu, Hari Istimewa

Hari itu hari istimewa. Ada yang tidak biasa di sana, di rumah kedua di gang nomor dua. Bangunan yang sudah berusia empat puluh tahun itu disesaki kerabat dan sanak saudara. Bahkan, mereka yang merantau di ibukota juga ikut berkumpul di sana, padat memenuhi setiap lorong dan jeda yang ada.

Di antara mereka, beliau hadir dengan gagah tanpa ragu. Tubuhnya tegap mengenakan kemeja putih dengan dasi kelabu, serasi dengan setelan jasnya yang masih baru. Untuk menyempurnakan penampilannya, khusus dikenakanlah sepatu kesayangannya, sepatu yang hanya biasa beliau pakai di momen tertentu seperti hari itu: hari di mana semua orang datang untuk bertemu.

Kami adalah salah satu dari yang datang dari jauh untuk berjumpa. Tapi karena hari itu hari istimewa, pemandangannya serba berbeda. Kami tidak lagi menemukan beliau duduk di teras depan sambil menikmati suara burung seperti biasa. Ratusan pot tanaman hijau kesayangannya kini juga makin semarak dengan berbagai bunga yang sebelumnya tidak pernah ada. Saya sebenarnya sedikit tidak terbiasa.. Apalagi, saat masuk pun pagar sudah terbuka. Padahal biasanya kami harus mengetuk pintu membangunkan tukang becak yang sering parkir di garasi depan untuk berjaga.

Tapi karena hari itu hari istimewa, semua memang menjadi tidak sama. Saat saya menyapa, perbincangan yang ada tidak lagi berwujud bahasa. Segalanya muncul berupa memori yang terbayang di depan mata.

Dari percakapan singkat di telepon setiap hari raya hingga update berita sepak bola.

Dari ketika beliau bersemangat membawa saya menonton wayang hingga saat terakhir berlibur harus banyak beristirahat berkompromi dengan usia.

Seperti berkelana di mesin waktu tapi ditampar realita.

Seperti mengucapkan sampai jumpa,

tapi tak tahu kapan lagi bertemunya.

______________________________________________________
salam "sampai jumpa" untuk Mbah Kung :) 
Kenangan 12 November 2014
Solo, Jawa Tengah

29 Okt 2014

Sapaan Malam

"Permisi", suara lirih memecah keheningan. Tuan Bulan mengintip dari balik malam, heran. Dilihatnya sesosok bayangan, sedikit familiar tapi masih diraba-raba dalam ingatan.

Perlahan Tuan Bulan memastikan pengelihatannya. Di balik kaca kecil pondok sederhana, terduduklah sang pemilik suara. Tuan Bulan terkejut bukan main mengenalinya. Gadis Kecil di pinggir jendela! Gadis Kecil, yang kini sudah dewasa!

Tidak bertemu selama lima tahun tentu bukan masa yang sebentar. Tuan Bulan sadar, bertanya apa kabar hanyalah basa basi yang cuma membuat semua makin pudar. Terlalu banyak senyum terpaksa yang akan diumbar. Terlalu banyak kebencian yang menunggu untuk disebar. Dari pengamatannya, Tuan Bulan yakin sekarang pasti Gadis Kecilnya sedang menghadapi badai yang besar. Makanya Ia pun hanya membelainya hangat dalam cahaya redup yang terpendar.

Mata di hadapannya sebenarnya tidak pernah berubah. Membulat dan bersinar, tapi kini semakin lemah.Mungkin hidup terlalu keras menempanya hingga lelah. Atau, angin meniupnya terlalu kencang hingga pilihan satu-satunya hanya berpasrah? Entahlah.....

Kepala Gadis Kecil menengadah, memandang langit di atasnya. Menelusuri garis semesta. Mengurutkan jejak benda angkasa. Tak lama ia pun menggeleng, menghancurkan kristal kaca yang terbentuk di matanya karena pantulan cahaya.

"Tidak ada. Sudah tidak ada," kata Tuan Bulan perlahan.

Gadis Kecil tersenyum kecil dan berbisik lirih, "malam juga bisa kesepian ya, Tuan?"

20 Sep 2014

Jangan Menyerah Katanya

"Jangan menyerah"
"What doesn't kill you makes you stronger"
"Lo kuat, pasti bisa"

Begitulah kira-kira sekian dari jutaan kalimat motivasi yang dulu menjadi senjata ketika saya merasa terpuruk dan tersesat di rimba kehidupan. Itu klise, memang. Tapi karena orang-orang terdekat selalu menanamkannya, sekarang diri saya sudah begitu menyatu dan berusaha meresapinya sepenuh hati.

Dengan segala cara pikir tersebut, "bertahan" seakan menjadi pilihan paling heroik yang bisa saya lakukan. Menjadi "pejuang" mulai didefinisikan sebagai "hadapi walaupun harus setengah mati". Saya pun menjadi pengikut sejati suatu peribahasa yang bilang, "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian".

Lihat, saya tidak menyerah.
I AM stronger.
Saya bisa kok, kan saya kuat.

Sayangnya, dengan kondisi sekarang, sepertinya kegigihan ini mulai salah makna. Semua justru mempertanyakan kenapa harus menikmati menderita. Semua meminta saya menyerah, karena saya sudah terlihat terlalu lelah.

Tapi kalau saya pergi dan memilih berhenti, saya takut menyesal di kemudian hari. Saya cuma berpikir, kalau begitu, bukankah artinya saya kalah?

24 Agt 2014

Menu Hari Ini

Kali ini kamu memilih teri. Diselingi dengan ayam goreng dan sambal terasi. Sederhana, tapi membantu menambah variasi dari kehidupan nyata yang monoton dan tanpa henti.

Lain waktu kamu hanya mengambil tahu. Dengan sedikit siraman kuah labu, menyantapnya datar sekadar mengisi waktu. Terlihat jelas itu bukan favoritmu.

Ketika ada perayaan besar, daging panggang mewah terhidang bersama pendamping saus tartar. Kamu menikmatinya dengan sabar, memotongnya perlahan agar tidak cepat habis tanpa sadar.

Satu hal yang selalu saya perhatikan, selalu ada nasi putih yang jadi pasangan. Apapun yang jadi pilihan, nasi putihmu dengan setia menemani setiap suapan.

Saya percaya kamu tidak lupa dengan kehadirannya. Kamu hanya terlalu terbiasa ia ada. Kamu percaya dan tahu pasti ia akan selalu di sana, tanpa kamu minta.
Mendengarkan keluhanmu tentang masakan yang kurang asin,
Tersenyum melihatmu menghabiskan sayur dengan lahap,
Tertawa diam-diam atas perjuanganmu melawan duri halus dalam ikan kali itu

Saya hanya membayangkan,
jika nasimu pergi, apa kamu kehilangan?
Jika ia habis, apa kamu akan cari pelarian?

Apa ia masih ingin ada lagi, dalam menu hari ini?

1 Agt 2014

Malam Kelam, Diam.

Kali ini ia hanya duduk di pinggir jendela, menikmati malam di dalam secangkir kopi hitam. Perlahan diaduknya cairan penuh kafein yang sudah mendingin, sekadar membentuk pusaran agar tidak membosankan. Tidak ada suara. Hanya denting besi sendok beradu dengan melamin murahan yang jadi pasangannya.

Kali ini ia hanya duduk di pinggir jendela, menikmati kelam di dalam secangkir kopi hitam. Perlahan diketuknya kenangan yang sudah berkarat tersimpan, sekadar memastikan mereka masih ada dan tidak lenyap dimakan zaman. Tidak ada kejutan. Hanya putaran video lama berulang-ulang dengan luka dan tawa yang sama.

Kali ini ia masih duduk di pinggir jendela, menikmati diam di dalam secangkir kopi hitam. Perlahan dipanggilnya jiwa yang sedang melanglang buana entah di mana.

.. tidak ada balasan..

Maka kini ia pun tetap terduduk di pinggir jendela. Tanpa nyawa.



-tulisan acak pada salah satu malam bulan sabit

6 Jul 2014

Mungkin harusnya sesederhana itu. Sesederhana menulis tanpa berpikir. Membiarkan jari-jari menekan tuts merangkai huruf menjadi diksi. Membiarkan logika berbaur dengan imajinasi dan membentuk fiksi, membangun kerangka cerita yang seakan nyata padahal fana, atau sebaliknya: seakan dongeng padahal harap.

21 Jun 2014

Sepenggal Kisah dari Buniayu (part II)

..lanjutan dari sini :)


Panggilan bangun pagi dari para guide di Buniayu yang berkabut menandakan dimulainya petualangan uji nyali (untuk saya). Saya dan teman-teman terbangun dengan menggigil hebat, terlebih di malam sebelumnya kami underestimate udara di sana yang memang tidak dingin saat kami tidur. Kami lupa tempat tidur kami hanya berdindingkan anyaman bambu dan "pintu tanpa daun pintu".

Kurang lebih setengah jam kami mempersiapkan fisik dan mental sampai akhirnya berganti kostum untuk memulai petualangan sebenarnya. Badan saya masih menggigil, tapi sepertinya bukan lagi karena suhu udara tetapi karena rasa takut yang menyergap. Sepanjang jalan ketegangan saya semakin meningkat sampai Max, salah satu sahabat, berpesan: "walaupun takut jangan lupa napas ya!"

Benar saja, sesampainya di mulut goa, napas saya sudah tidak beraturan. Goa ini berada tepat di bawah kaki, dan lubang yang bisa dilalui tidak selebar itu. Kami akan masuk dengan bergantung pada seutas tali dan diturunkan tanpa menjejak apapun. Untuk itu, di sana sudah ada tiga orang guide yang stand by, Kang Iwan dan dua rekannya (maaf saya lupa nama yang lainnya). Satu orang membantu mengikat harnest, satu orang menahan berat badan peserta, satu orang lagi akan ikut turun bersama kami di dalam goa.

Sebagai orang yang paling takut, saya kebagian masuk goa belakangan. Butuh perjuangan (mental) ekstra sampai akhirnya saya menggantung sempurna pada seutas tali yang diikatkan ke tubuh saya. Ketika mata saya terbuka, saya cuma bisa memasrahkan diri diturunkan 18 meter ke bawah sampai kaki saya menjejak tanah nanti. Itu mungkin puluhan detik paling lama yang ada dalam hidup saya, dan sedihnya saya jadi tidak bisa menikmati keajaiban pemandangan sekitar saking sibuk berdoa selamat sampai di tanah hahaha.

Dan sekali lagi, ternyata petualangan baru dimulai. Selama 5 jam menelusuri goa vertikal ini, saya benar-benar dihadapkan pada hal yang selama ini tidak pernah saya bayangkan.





Menggantung pada tali pada ketinggian 18 meter? Cek.
Menuruni tebing sempit dengan punggung? Cek.
Mengalami gelap abadi? Cek.
Melewati zona lumpur 800 meter? Cek.
Menyusuri goa sepanjang 2 km? Cek. 

Tapi memang, di setiap tantangan pasti ada reward-nya. Di sini, saya bisa memandangi secara langsung hal ang biasanya saya lihat dari film ataupun internet. Stalaktit dan stalakmit yang tersusun dengan cantik membuat semua jadi worth it. Selesai dari goa pun, kami masih mendapat kesempatan berendam di air terjun (di mana perjalanan menuju air terjun pun penuh tantangan dan berbatu-batu).



Namun, dibalik keindahannya, alam selalu punya cara untuk mengajarkan manusia. Kang Iwan sempat sharing mengenai pengalamannya terjebak di dalam goa akibat hujan, yang membuat ia dan tamunya harus menggantung di antara stalaktit untuk tetap bernapas di atas permukaan air. Bukan cerita yang menyenangkan tentunya, tetapi ini jadi pengingat bahwa kita tetaplah makhluk kecil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan semesta. 

Seperti yang saya katakan di awal kisah, perjalanan ini memiliki kesan yang sangat mendalam bagi saya.
"You never know how strong you are, until being strong is your only choice"

-Bob Marley
Memang, kutipan di atas adalah motivasi terbesar saya dalam mengikuti perjalanan ini: perjalanan pertama saya menghadap alam yang sebenarnya, perjalanan pertama saya bersama tiga sahabat sejak SD, perjalanan pertama saya dengan lima teman baru lainnya. Perjalanan ini sungguh menguji keberanian diri saya melawan segala ketakutan yang ada, mengingatkan saya untuk tidak mengeluh, dan mengajarkan saya untuk percaya dan saling melindungi.

Ya, cerita ini memang tentang liburan singkat pada akhir pekan yang terselip di antara padatnya lembur di kantor. Tapi tidak hanya itu. Ini semua tentang 48 jam yang saya habiskan dengan 8 orang hebat, tentang renungan yang tertinggal dan membekas lebih lama dan lebih dalam dibandingkan lebam, nyeri otot, dan gelaja flu berat yang tersisa setelahnya.




*info tentang Buniayu antara lain bisa dilihat di:http://www.buniayucave.com/
http://www.indonesiangeographic.com/destination/Buniayu_Cave__Sukabumi_1201070402#Buniayu_Caving__Sukabumi_1201070412
**photo credits: Larissa, Dinurrahma



20 Jun 2014

Sepenggal Kisah dari Buniayu (part I)

"You never know how strong you are, until being strong is your only choice"
-Bob Marley


Kutipan di atas mungkin terkesan berlebihan, tapi kalimat tersebut adalah motivasi terbesar saya untuk mengikuti perjalanan yang akan saya kisahkan kali ini. Cerita ini tentang liburan singkat pada akhir pekan yang terselip di antara padatnya lembur di kantor, tentang 48 jam yang saya habiskan dengan 8 orang hebat, tentang renungan yang tertinggal dan membekas lebih lama dan lebih dalam dibandingkan lebam, nyeri otot, dan gejala flu berat yang tersisa setelahnya.

Goa Buniayu, Sukabumi, Jawa Barat. Tujuan yang terdengar eksotis, bukan? Apalagi untuk yang kenal saya secara pribadi.. hahaha. Benar-benar butuh keberanian ekstra sebelum saya memutuskan untuk mengikutinya.

Perjalanan dimulai dengan kereta api Jakarta-Bogor-Sukabumi. Ini pertama kalinya saya naik kereta ekonomi duduk ke luar kota, dan pas sekali saya "terdampar" di gerbong terpisah dengan teman-teman yang lain. Baiklah, ambil hikmahnya: total perjalanan selama hampir 4 jam saya nikmati dengan tidur tanpa gengsi dengan kanan kiri :D

Singkat cerita, setelah bertemu dengan teman-teman yang lain di Sukabumi dan berganti moda transportasi, kami langsung menuju lokasi. Beruntung, dua hari kami di Buniayu sangat cukup untuk menelusuri dua goa yang berbeda: Goa Angin dan Goa Siluman. Goa Angin adalah goa horizontal yang bisa dilalui hanya bermodalkan sepatu boots, helm, dan headlamp. Bisa dikatakan, track ini masih "pemanasan". Meskipun demikian, kami harus menuruni anak tangga yang cukup banyak dan agak licin, plus bertemu dengan serangga dan penunggu goa lainnya seperti kelelawar. Sekitar enam puluh menit yang kami habiskan di sini sudah cukup memperlebar batas toleransi orang-orang OCD** terhadap lumpur. Saya yang tadinya sok pakai sarung tangan akhirnya menyerah dan pasrah menancapkan jari-jari di lumpur super tebal supaya tidak terpeleset.


Menuju Goa Angin


Saat masuk ke dalam goa dan dihadapkan dengan bebatuan besar dan suara aliran air, pikiran saya langsung sibuk bercengkerama. "Gimana ya manusia yang hidup di dalam goa? Apa yang mereka rasakan saat melihat cahaya?" "Hewan di sini katanya buta, hebat juga mereka bisa bertahan.." Masih banyak pemikiran random yang berkecamuk di otak saya. Intinya satu, semua berujung pada rasa syukur berlimpah kepada Sang Pencipta.

Sisa waktu sekitar 20 jam sebelum hari berganti kami habiskan dengan makan, bermain kartu, dan tidur di saung terbuka di mana angin lalu lalang dengan enaknya. Pukul 06.00 pagi hari berikutnya kami pun dibangunkan untuk sarapan dan bersiap. Sejak itu, petualangan dimulai!

berlanjut di post ini:)

*info tentang Buniayu antara lain bisa dilihat di:http://www.buniayucave.com/
http://www.indonesiangeographic.com/destination/Buniayu_Cave__Sukabumi_1201070402#Buniayu_Caving__Sukabumi_1201070412
**OCD: Obsessive Compulsive Disorder
***photo credit: Larissa 

8 Mar 2014

Ketika maksud dari "mencari" sebenarnya mungkin bukan "menilik yang baru" tetapi "melihat lebih teliti"

25 Jan 2014

Garis dan Lembaran Putih

Umpamakan setiap orang adalah garis dan dunia adalah lembaran putih.

Seperti hakikatnya, garis adalah pertemuan dua titik. Begitu juga kita. Kita memulainya dari titik mula, titik di mana kita pertama hadir di kertas ini, lalu selesai di titik akhir, titik di mana kita lenyap dan pergi. Cerita yang kita punya berada di antara kedua titik itu. Kenangan indah, mimpi buruk, kisah yang selalu ingin kita ulang, aib yang selalu ingin kita lupakan, semua berada di antaranya.

Mungkin ini yang menjadikan mustahil untuk menghapus sejarah. Karena kita harus menjadi garis, bukan garis putus-putus. Apa yang ada, suka tidak suka, begitulah adanya. Setiap hal yang kita lakukan menjejak dan membentuk satu garis, membawa diri kita mendekati ujungnya.

Seperti hakikatnya, garis adalah pertemuan dua titik. Begitu juga kita. Begitu juga saya, dan kamu, dan semuanya. Selagi sibuk menelusuri arah sampai ke titik akhir, bertemulah garis kita semua. Bisa jadi hanya sekali beririsan, kemudian terpisah dan tidak pernah bersilangan lagi. Atau mungkin, di masa depan, kita tidak sengaja kembali berpotongan, entahlah. 

Garis kita bisa juga justru bertumpukan, jalan bersamaan dan seakan membentuk satu garis yang sama. Hanya saja, sekali lagi... "seakan". Garis saya, kamu, dan mereka tetap garis-garis yang berbeda. Entah berapa lama bertumpukan, titik ujung kita tidak sama. Tinggal kita yang memutuskan, kapan keluar dari jalur sebelumnya.

Umpamakan setiap orang adalah garis dan dunia adalah lembaran putih.
Dua dimensi yang sederhana, tapi mungkin begitu adanya.