16 Des 2012

Yang Terbaik, Katanya

Satu lagi berita kehilangan membangunkan saya, kali ini di akhir minggu penghujung tahun.  Berita ini satu rangkaian dengan berita berantai yang mengisi beberapa bulan terakhir. Yang pergi kali ini adalah sesosok wanita tangguh yang saya kenal sejak sekitar 8-9 tahun yang lalu, yang hanya bertemu lagi sekali dua kali sejak saya harus melepas seragam putih biru muda.

Beliau mungkin bukan orang yang paling lembut yang saya kenal, mengingat nada bicaranya yang tegas dan begitu lugas. Tidak sedikit yang kena semprot ketika kegiatan pembelajaran di kelas dan juga selama kegiatan pramuka.. Bahkan begitu pun masih sifatnya yang galak, yang katanya masih sempat memarahi dokter dan perawatnya. Namun, di balik itu semua, saya melihat ada sosok keibuan yang begitu kuat dalam dirinya. Kepeduliannya mungkin diartikulasikan dengan nada yang keras, tapi kebaikannya selalu membekas.

Satu hal yang selalu saya ingat adalah caranya memanggil saya. Beliau suka sekali menyanyikan nama saya dengan nada lagu lama (yang sampai sekarang saya nggak tau itu lagu apa dan siapa penyanyi aslinya). Setiap kali bertemu, beliau mengungkit kebiasaan buruk saya di bangku menengah. Siapa sangka beliau tau hal itu? Hal ini terus berlanjut sampai saya sudah masuk ke perguruan tinggi. Pertanyaannya selalu sama: "masih suka menangis ga, Tik?"

Sayangnya, panggilan dan pertanyaan yang saya rindukan itu tidak muncul ketika dua minggu yang lalu bertemu. Beliau tidak terlihat seperti yang selama ini saya kenal. Sifat enerjik yang beliau miliki selama ini seakan tersedot oleh tempat tidurnya. Nada tegas masih terdengar saat menyapa, tapi dalam beberapa saat semua berubah mencekam. Rasa sakit yang tak tertahankan sepertinya mulai menyerang, membuatnya merintih dan terus menerus berdoa lirih.

Apa lagi yang bisa saya lakukan? Saya gemetar. 
Mengingatnya pun saya merinding.

Begitulah. Kali terakhir saya berinteraksi dengan beliau mungkin bukan dikemas dalam hari yang indah dan ceria. Tapi kalau kata sahabat saya, setidaknya beliau tau bahwa kami, atas nama para muridnya, hadir dan peduli. Selain itu, beliau juga harus tau bahwa kami selalu mendoakan yang terbaik untuk beliau. Yahh.. Mungkin jawabannya adalah ini, bahwa menurut-Nya beginilah yang terbaik. Agar beliau terbebas dari sakit dan bahagia selamanya :)

Bu, kalau saya menangis karena Ibu, masih termasuk cengeng ga? :')


-didedikasikan untuk sosok guru yang begitu saya hormati.

1 Okt 2012

Sekelebat..

"Ketika kita hanyalah kata, mengucap rindu rasanya terdengar terlalu sendu."


5 Sep 2012

Di Penghujung Agustus..

Menyadari kehilangan
melintasi kenangan
meresapi kesenyapan
mengutuk kebodohan
menyangkal kenyataan
menyerahkan pertahanan
memaklumi keadaan
memaknai perubahan


Sampai bertemu lagi,
suatu hari.

30 Agt 2012

Paradoks Dunia

Rasanya, dunia itu kecil.

Semakin usia bertambah, rasanya orang-orang yang kita temui belakangan ini ternyata punya hubungan erat dengan relasi terdekat kita. Si A, teman baru kita, ternyata sepupunya sahabat kita jaman SD. Si B yang kita sebelin banget ternyata sahabatnya temen deket kita waktu dulu. Atau si C yang baru kita kenal kemarin ternyata temen kosannya tetangga kita. Dan tentu masih banyak ternyata lainnya yang kita temukan.

Semua saling terkoneksi, tidak cuma memunculkan hubungan baru antarpersona tetapi juga membangun rantai yang melintasi waktu. Ketika dirunutkan, bisa saja ternyata semua kejadian yang dulu punya sudut pandang baru karena ada tokoh lain yang baru kita sadari berikutnya.

Kalo meminjam istilah situs jaringan sosial tersohor itu, "mutual friend" ini juga membantu kita untuk kembali menemukan kontak para sahabat yang hilang entah di mana. Terkadang, bukan eksistensi dirinya yang hilang secara harafiah, tetapi eksistensi hubungan yang pernah terjalin. Mereka seakan menyimpulkan kembali ujung tali yang sempat terpisah dunianya. Topik yang tidak lagi sama, kemudian disatukan karena ada penengahnya: ya, si "mutual friend ini".

Rasanya, dunia ternyata kecil.

Kadang suka nggak habis pikir juga.. Bisa-bisanya dari berapa miliar penduduk di muka bumi ini kita ketemu teman kuliah ketika berpetualang ke benua seberang. Atau ketika mudik ke rumah kerabat, tiba-tiba kita ditegur sapa oleh guru Matematika jaman dahulu kala.

Tapi apa benar, dunia itu kecil?

Belakangan, saya tidak lagi merasakannya. Dunia seakan menjadi maze tidak berujung saat yang pernah ada dan selalu ada, kini menghilang lenyap. Tanpa jejak, tanpa bayangan.

9 Agt 2012

About Giving (Too Much)

Mungkin ada saat di mana kita mau menyerah ketika merasa kita terlalu banyak memberi. Ketika itulah, rasanya apa yang kita lakukan semuanya sia-sia, bahwa apa yang kita dapatkan itu nggak sepadan. Terus, muncul satu perasaan paling mengesalkan: penyesalan.

But, is giving too much the actual reason why we quit?

I guess not.

Ketika kita merasa giving too much, saat itulah konsep "hitung-hitungan" sudah muncul di kepala. Padahal, nggak semua hal bisa didasarkan pada hal tersebut. Mungkin, itulah yang dilakukan oleh orang yang rasional. Tapi apa iya, hidup kita semuanya dijalankan hanya dan hanya pada logika?

In my humble opinion, mungkin alasan kenapa kita merasa sia-sia adalah karena kita sudah kehabisan alasan untuk melakukan itu.

Atau,
karena kita sudah nggak lagi percaya alasan itu ada.

21 Jun 2012

Some things better left un...known?

Tahun ketiga kuliah ini rasanya saya semakin sering menemukan pertanyaan (atau pernyataan?) berbunyi "sepertinya saya salah masuk jurusan (?)". Nggak di keluhan singkat dalam percakapan sehari-hari, diskusi serius tentang kehidupan, dan juga di lini waktu media sosial sebelah yang isinya 80% komplain.

Yang anak DKV merasa belajar bisnis lebih menarik. Yang jurusan kedokteran merasa ilmu politik cukup interesting. Yang anak bisnis pengen banget belajar desain. Berputar aja terus begini, nggak ada habisnya.

Tapi begitulah.. Manusia nggak pernah puas. Rumput tetangga akan selalu lebih hijau.

Ah, klise... Tapi sepertinya memang iya, saya akui. Semakin kita tau sesuatu semakin dalam, semakin kita tau jeleknya, semakin besar kemungkinan kita merasa berada di tempat yang 'salah'. Kita akan melihat hal lain di luar sana itu lebih baik.

Tapi kata siapa?

Di sini, saya nggak mau menggurui apapun. Saya bukan mau menyentil hati nurani untuk perbanyak bersyukur. Hanya saja, coba deh bayangkan. Anggap sekarang saya, berkuliah di satu kampus. Sebut lah P. Saya sudah menjadi bagian dari P ini. Saya tau, P ini punya nama baik di luar sana, tapi karena saya berada di dalamnya, saya juga tau jelek-jeleknya yang mungkin orang lain nggak bisa liat. Lalu kemudian saya melihat teman saya yang kuliah di S. Saya menganggap S itu bagus banget, lebih baik dibandingkan kampus P yang saya tinggali sekarang.

Tapi, siapa yang menjamin kalau saya kuliah di S, saya nggak akan merasa menyesal? Justru hal yang sama akan terjadi juga, di mana saya jadi tau keburukan S yang nggak bisa saya liat dulu sebelum saya menjadi bagian dari S ini.


Sama halnya ketika kita belajar sesuatu. Anggaplah sekarang saya kuliah bisnis. Saya yang sebelumnya buta banget bisnis itu sebenarnya belajar apa, jadi terbuka matanya tentang apa risiko dan tantangan yang dihadapi. Kemudian muncul penyesalan, apa iya saya pantas di sini? Kayaknya belajar teknologi pangan lebih asik.


Tapi, siapa yang menjamin kalau saya waktu itu dijalankan di jurusan yang lain, saya nggak akan merasa menyesal? Pasti hal yang sama akan terjadi, karena saya jadi tau seluk beluknya  seperti apa.

Nah, kalau begini, kapan selesainya?

The more you know, the more confused you get. Apa iya?

Ternyata, ada seorang wise yang menjawab begini:
"Knowledge won't help you with confusion. It will only add more data to the problem you are facing.You need to develop understanding in order to clear up confusion, but knowledge itself is a tool of understanding.
What I'm trying to say is that you need knowledge to help you understand and thereby clear up your confusion. It isn't a volume that you need, it is just the right knowledge to deal with whatever area is causing you confusion." - Derek T (source) 
.......


Silakan merenung :)

18 Jun 2012

Lari, lagi

Benak tersentak, menyadari usia tidak lagi muda. Bayangan para kawan lama mengitarinya. Mereka sudah berlari cepat, berpencar arah menuju pintu masing-masing, meninggalkan warna sendiri yang sebelumnya tidak tampak mata.

Rasanya dia juga bukan hanya berdiri saja. Ia juga melangkah, hanya saja tidak dengan akselerasi yang sama. Ia melangkah, tapi berencana. Ia banyak melangkah, tapi berencana lebih banyak. Akibatnya, ia pun banyak berhenti juga dan besarlah jarak antara mereka.

Seketika ia merasa bodoh karena salah perhitungan. Ternyata ketika di kepala sedang berputar adegan masa depan, kaki ini baru beranjak sekitar satu jengkalan. Kebanyakan membayangkan berakibat tenaga keburu terengah, energi pun sudah mulai habis setengah. Lelah. Padahal, masih ratusan tapak menunggu jauh di sana, tapi masa juga berubah tanpa jeda.

Aduh, harus bagaimana?

Panik merasuk, membuatnya buta. Ia merasa percuma. Ia merasa..... gagal yang nyata.

"Sudah." begitu kata seorang yang menjadi tumpuan keluhnya. "Sabar. Tunggu saja waktunya. Sekarang memang belum saja."

Lelah, baiklah ia pun berhenti sejenak, mengistirahatkan diri meluruskan akal. Perlahan, dibukalah kembali kotak pikiran. Ia coba pisahkan, mana yang mimpi dan mana yang terpercik karena rasa iri.

Sabar. Ia meyakinkan jiwanya yang sempat pudar. Mungkin bukan sekarang saatnya ia berpendar.

Sesaat setelah ini, pasti ia akan berlari. Lagi.

12 Jun 2012

Peduli (?)

Peduli tanpa aksi
sama dengan kosong
cuma bertele-tele membiarkan otak memeras tenaga
tanpa bisa mengubah apa-apa

Tapi bagaimana jika
usaha sebagai aksi sebenarnya sudah terlaksana
hanya saja
ternyata tidak berharga

20 Mei 2012

Mimpi



Mereka bilang itu ambisi
Saya bilang ini mimpi




Bedanya?
Entahlah..

(lyrics: Imagine - John Lennon)

7 Apr 2012

Selera yang Salah (?)

"Kok pada suka makanan ini, sih? Kan nggak enak banget!"
"Orang yang nggak suka ini tuh aneh, kan bagus.."
..
Siapa yang nggak pernah melewati debat kusir kayak contoh di atas? Saya sering banget, nggak di rumah, nggak sama teman-teman. Pasti ada aja yang adu argumen tentang sesuatu yang disuka dan tidak disuka, yang nggak jarang bernada ofensif dan dibalas dengan defensif. Diskusinya selalu panjang, nggak jelas, dan nggak pernah ada kata setuju. Malah kadang-kadang berakhir dengan nggak enak dan harus ada yang mengalah untuk rela disampah-sampahin. Rasanya gemes banget untuk bisa menetralisasi perdebatan nggak penting ini, tapi ya udah saya tumpahkan di sini aja deh.

Ngomongin selera nggak pernah ada habisnya. Setiap orang punya preferensi yang nggak harus semua orang mengerti. Ada yang cinta mati sama artis korea, ada yang mending mati daripada nonton mereka. Ada yang suka film berat dan mikir, ada yang sukanya film drama ringan daripada ketiduran di bioskop. Yaudahlah, emang sukanya beda kenapa harus jadi masalah? Mau dijelasin kayak gimana, mereka yang berbeda selera sama kita nggak akan kemudian berpindah dan jadi suka hal yang sama. 

Selera itu relatif. Siapa kita yang bisa menyatakan selera bagus dan jelek? Selera tinggi dan rendah? Kita ngomong begitu karena kita berada dalam kelompok yang sama. Kita cuma berbeda, tapi bukan berarti mereka lebih rendah dan tidak lebih bagus. Mungkin, kita yang belum bisa menemukan hal spektakuler yang mereka temukan. Atau mungkin, kita terlalu gengsi untuk mengakuinya?

Satu hal lagi, selera juga bukan logika yang bisa dinilai benar salah. Ini semua tentang subjektivitas, bukan hal absolut yang jelas batasnya. Satu-satunya yang salah menurut saya, adalah mereka yang menganggap dirinya yang paling benar.

4 Apr 2012

Diam saja

tak perlulah lagi muncul "kenapa"
segala "karena" sudah hilang, menguap ke angkasa
masalahnya kini bukan lagi "bagaimana"
jutaan "tetapi" membuatnya tak bermakna
lalu "apa"
hening.. seakan bimbang si kata
tak ingin keluar jadi nyata

11 Mar 2012

Seperti Hugo Berkata..

"I'd imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured if the entire world was one big machine... I couldn't be an extra part. I had to be here for some reason."
"Maybe that's why a broken machine always makes me a little sad, because it isn't able to do what it was meant to do... Maybe it's the same with people. If you lose your purpose... it's like you're broken." - Hugo Cabret 
Termenung. Saya mengutip kalimat itu di sebuah film adopsi dari sebuah novel karangan Brian Selznick. Yang berbicara adalah anak kecil, yang pintar mengutak-atik sebuah mesin, yang selalu memiliki keinginan untuk memperbaiki sesuatu. Tapi buat saya, kata-kata itu bukan sepele. Bukan sekadar dialog film yang kemudian lewat begitu saja, atau yang dinilai bagus dan dikutip ulang di media sosial sebelah. Kalimat itu dengan hebatnya terngiang-ngiang dan menciptakan tanda tanya besar.

Apa alasan saya ada di sini?
Apa tujuan saya?

Rasanya saya butuh beberapa saat untuk merunut kembali keputusan-keputusan yang saya ambil sampai sekarang. Rasanya saya butuh lembaran kertas yang panjang, untuk menghubungkannya dengan mimpi-mimpi yang terbesit sampai detik ini. Kalau saya sadari, ada yang sebenarnya sejalan. Tapi tak sedikit yang bertolak belakang.

Lalu muncul pemikiran, kenapa menghabiskan waktu di tempat yang tidak sesuai dengan tujuan awal?

Kenapa tidak berani untuk berjalan sesuai passion? Kenapa harus gengsi?

Lagi-lagi saya menyalahkan diri sendiri. Tapi yasudah, tidak berguna rasanya untuk menyesal. Sekarang saatnya menikmati apa yang sedang saya jalani, mungkin saya di sini supaya bisa tau ada apa di luar sana, selain yang selama ini saya cari. Tak lupa juga mulai sekarang saya harus mencari 'jalan tembus' lain. Bukan untuk lari.. Saya cuma ingin menghubungkan titik saya berdiri sekarang dengan cita-cita yang selalu ada di dalam hati.

6 Mar 2012

Salam dari Babakan Sari

Tiga puluh hari saya tinggal di rumah seorang juragan sawah dan dua cucunya, ditambah sebelas orang lainnya: sesama mahasiswa satu kampus yang punya karakter berbeda dan tak jarang menimbulkan drama.

Program yang bahasa kerennya disebut "Community Development 2" ini adalah salah satu mata kuliah yang harus saya ambil di semester genap ketiga ini. Kami diwajibkan live in di desa selama satu bulan dalam rangka mewujudkan visi mulia untuk membantu kesejahteraan penduduk sekitar, dan harus memantau perkembangannya selama lima bulan ke depan. Tahun ini, lokasi program adalah Cianjur, Jawa Barat. Sudah dua kali tempat ini dijadikan sebagai tempat pelaksanaan in village living dari Comdev 2. Saya pikir, mungkin salah satu faktornya adalah roda perekonomian daerah ini mulai sedikit seret. Lihat saja, jalanan Cianjur yang tadinya ramai mulai kosong karena bergantinya akses favorit penduduk ibukota ketika ingin berkunjung ke kota bunga..

Sebagai sekolah bisnis, tentu saja cara kami adalah membangun jiwa kewirausahaan itu sendiri. Kami terbagi menjadi 19+1 kelompok:

Ada 19 kelompok yang disebut builder, di mana tiap kelompok tinggal bersama penduduk asli, yang kemudian menjadi mitra mereka. Berbekal ilmu yang kami dapat dari sekolah, bersama mitranya mereka menjalankan bisnis. Produknya bermacam-macam, dari kerudung sampai keripik. Dari ikan sampai kulit singkong.

Ada 1 kelompok lain yang disebut energizer, di mana tugasnya berbeda dengan tugas 19 builder lainnya. Energizer bertugas sebagai distributor, membuka jalur distribusi di mana produk hasil buatan builder nantinya akan dipasarkan. Selain itu, energizer juga memiliki tugas-tugas khusus seperti bertindak sebagai penanggung jawab acara sosial angkatan, bazaar, dan juga membantu pendirian organisasi dari mitra itu sendiri.

Untuk saya pribadi, kegiatan ini sungguh merupakan kesempatan yang membuka mata saya. Banyak hal yang baru saya sadari ketika saya berada dalam lingkungan ini. Belajar adaptasi? Sudah pasti. Bukan saja masalah infrastruktur yang tentu nggak bisa saya bandingkan dengan kemewahan ibukota. Kultur dan karakter masyarakatnya sendiri adalah hal menarik. Beruntung, saya berkesempatan berinteraksi dengan berbagai macam orang di sini. Yang pahit jadi pelajaran, yang manis jadi teladan :)

Pembelajaran pun sebenarnya tidak hanya bergulir dalam relasi dengan masyarakat desa. Interaksi di dalam kelompok yang notabene sama-sama mahasiswa pun menjadi suatu cerita tersendiri. Kebersamaannya nyata, karena tiga puluh hari rasanya terlalu lama untuk bersembunyi dalam image yang berusaha dijaga. 

Masih ada lima bulan yang menunggu untuk dijajal bersama.. 
Masih ada waktu untuk menjadi semakin dewasa.

Salam dari Babakan Sari

Rumah Ibu Rohmah, Cianjur 2012 - by F.A.L.K















22 Jan 2012

Inspirasi

Inspirasi itu bisa datang dari mana aja. Dan buat saya, bertemu bersama para sahabat adalah sumber inspirasi terbesar. Lucu, ketika kami nggak butuh untuk selalu bertemu dan berkomunikasi, tapi rasa untuk kembali itu selalu ada. Terpisah tempat belajar, terpisah kota bahkan negara, pada akhirnya kami tetap bisa berkumpul dan membahas berjuta hal yang pernah terlewati, yang dulu pernah dibagi, bahkan yang menjadi kekhawatiran untuk masa depan nanti. Mungkin rutinitasnya kemudian berulang: dimulai dari menggali memori terdahulu dan menertawainya, kemudian membahas keadaan hari ini bertanya kabar dan sekitarnya, lalu berdiskusi membahas harapan dan keinginan serta permasalahan yang jadi beban pikiran.

Saya selalu kagum dengan bagaimana mereka bisa menjadi mereka yang sekarang. Mereka bisa menjalani passion masing-masing. Mereka bisa meraih berbagai hal, yang buat saya itu keren banget, yang mungkin bukan tipe hal yang bisa muncul di pikiran saya sekalipun. Mereka... Hebat. Beneran. Saya nggak punya kata lain yang bisa mendefinisikannya selain kata itu.

Menghabiskan waktu bersama mereka selalu membuat saya berefleksi. Rasanya, selalu muncul semangat untuk berbenah diri dan menjalani mimpi.

Saya ingin bisa menjadi sehebat mereka.

Tentunya, dengan cara saya :)