27 Des 2009

Malam Iri?


Ya, mungkin malam cuma iri.
Iri melihat awan bercengkerama dengan matahari.
Menangkis angin,
menahan kelompok burung yang terbang menari.
Atau malam cuma tak peduli?
Bintang tak diizinkan lagi hadir di sini.
Membuat semua sepi.
Membiarkan gadis kecil
tertidur tanpa mimpi.

27 Nov 2009

Don't know why, but..

Saya selalu percaya, semua benda mati punya bahasa.
Kursi bisa aja berbisik kepada meja, ngomongin betapa munafiknya manusia.

Saya selalu percaya, ada saya yang lain di diri saya.
Dan itu menjelaskan kenapa saya sering nggak sadar akan apa yang sedang saya lakuin.

Saya selalu percaya, surga itu ada.
Bagaimanapun wujudnya, saya yakin ada.

Saya selalu percaya, mimpi dalam tidur itu akan terjadi, suatu hari.
Dan itu yang bikin saya senang setiap saya mimpi bagus dan sedih berkepanjangan saat mimpi saya buruk.

Saya selalu percaya, di luar Bimasakti ada Bumi yang lain.
Mereka juga berpikir hal yang sama kayak manusia di dunia yang saya tinggalin ini.

Saya selalu percaya, ada negeri di atas awan.
Ini impian masa kecil saya yang terus membantu saya berimajinasi kalo lagi suntuk.

Saya selalu percaya, memaafkan itu memudahkan segalanya.
Tapi akhir-akhir ini kata maaf terlalu biasa dan jadi nggak ada artinya.

Saya selalu percaya, Tuhan mendengar doa saya.
Hanya saja, sisi manusiawi saya belum selalu siap menerima jawab-Nya.

14 Okt 2009

Random Questions

"Apa rasanya waktu saya di dalem perut ibu?"
"Kalo saya nggak dilahirin di dunia saya jadi apa?"
"Kalo saya muncul jadi orang lain, hidup saya bakal gimana?"
"Kalo Newton nggak mikir tentang gravitasi, anak SMA jaman sekarang belajar fisika apa?"
"Apa yang muncul di otak Albert Einstein waktu mikir tentang foton dan persamaan populer itu?"
"Kenapa Tuhan pengen saya lahir di sini?"
"Apa yang diomongin sama benda-benda kayak sepatu, laptop, kacamata tentang saya?"
"Gimana rasanya jadi semut yang super kecil dan harus jalan super jauh?"
"Baju-baju saya iri nggak kalo saya lebih suka pake baju yang lain?"
"Apa yang dirasain sama orang yang nggak bisa ngeliat?"
"Melahirkan bakal sesakit apa?"
"Saya bakal nikah sama siapa?"
"Nanti saya bakal bisa kayak keluarga saya sekarang apa nggak?"
"Tuhan bosen nggak ya karena saya selalu minta dan ngeluh terus?"
"Kayak gimana ya kehidupan di luar bumi?"
"Kayak apa hidup di akhirat?"
"Kalo saya meninggal, siapa yang bakal jadi orang paling sedih selain keluarga saya?"
"Kalo saya meninggal, siapa yang bakal dateng di pemakaman saya?"
"..."

dan masih banyak jutaan pertanyaan yang terus muncul tanpa jawaban.

24 Sep 2009

Kenapa

Semua selalu ada akhirnya. Saya tau, dan saya yakin semua orang juga pasti tau. Dan di saat saya lagi sangat emosional ini banyak pikiran yang muncul di kepala saya. Banyak "kenapa" disertai tanda tanya yang minta untuk dijawab alasannya.

Kenapa saya nggak bisa nggak sedih,
padahal saya juga pernah ngerasain hal yang sama dan saya yakin nanti akan selalu ada hal yang sama sampai hidup saya sendiri yang berakhir.

Dan saya juga selalu nggak habis pikir

kenapa kita selalu berusaha bikin kenangan yang bagus
sementara kita tahu pas semuanya selesai,
good memories itu justru senjata paling mematikan yang bikin sangat makan hati kalo diinget-inget lagi.

Kenapa?

19 Agt 2009

Drama queen

Beberapa waktu yang lalu, temen sekelas saya, Nia, membuat notes di Facebook. Maaf saya nggak punya url nya, tapi ini sedikit repost dari apa yang dia tulis di situ.

"Kita itu aneh, kita nggak suka untuk jadi sedih tapi kita menikmati itu. Bisa dibilang kita sering memanjakan sisi melankolis kita dan mendramatisasi semuanya. Pas kita abis putus, kita justru sengaja ngeliatin foto-foto bareng mantan pacar, ngeliatin barang kenangan, dengerin lagu mellow. Kita ngelakuin hal yang kita tau bakal bikin kita tambah sedih, tapi tetep aja kita ngelakuin hal itu. Kita menikmatinya!"

Yaa begitulah kira-kira beberapa kalimat yang merangkum notes tersebut. Nggak persis sama sih, tapi intinya begitu.

Dan kemaren, saya abis ngobrol panjang dengan temen dekat saya. Dari dulu saya emang nggak punya kemampuan cukup untuk nahan air mata saya, jadi suatu kali ketika akhirnya saya nggak bisa nahan emosi, temen saya itu nanya "kenapa lo harus nangis kalo bikin lo tambah sedih, Tik?"

Saya bilang kalo saya nggak pernah pengen untuk nangis, tapi saya nggak bisa nahan itu untuk nggak keluar. Nangis itu kan suatu respon otomatis untuk beberapa orang sebagai sarana keluarnya emosi.

Dia bilang lagi, kalo itu bukan keinginan saya kenapa harus saya lakuin? Cuma orang bodoh yang ngelakuin apa yang nggak kita mau.

Dengan membela diri saya pun bilang, saya juga nggak mengharapkan saya nangis. Ini cuma keluar gitu aja.

Dan lagi dia bilang, itu lebih bodoh lagi karena ngebiarin sesuatu yang nggak kita harapkan dan kita inginkan malah tetep kita lakukan.

Dan setelah itu saya diam. Saya pun mikir, kenapa saya harus nangis?

Jawabannya ternyata ada di notes Nia. Karena saya sepertinya menikmati drama. Gawat..

17 Agt 2009

Letters to You

"Tuhan, ini saya. Saya yakin pasti Kamu bertanya-tanya ada masalah apa lagi sehingga saya memanggil-Mu. Dan lalu akan bertanya hal apa lagi yang ingin saya keluhkan, dan berikutnya apa lagi yang saya inginkan..

Karena saya tau, saya begitu kurang ajarnya hanya mencari-Mu di saat seperti ini..

Tapi memang, lagi, saya di sini memang ingin memanggil-Mu. Ya, mungkin sedikit mengeluh, hehe. Maaf ya Tuhan, saya tidak bermaksud menyusahkan. Saya cuma ingin punya teman bicara, dan saat ini saya ingin bicara dengan-Mu.

Saya mungkin tidak bisa mendengar suara-Mu, Tuhan. Tapi tidak apa kok. Saya senang bisa bicara seperti ini. Karena saya tau pasti Kau akan menjawab saya, meski bukan dengan kata-kata tapi dengan tanda-tanda. Saya tau pasti Kau tetap akan mendengarkan saya, meski saya bercerita panjang lebar dan mungkin sudah sering sekali saya mengeluhkan hal yang sama.

Tapi selain itu saya juga ingin bercerita banyak sekali, Tuhan. Tentang hari-hari yang saya lewati sekarang, tentang mimpi-mimpi apa yang muncul kala saya tidur tiap malam, tentang harapan-harapan yang saya ingin wujudkan..

Saya cuma ingin punya teman bicara,
dan saat ini saya ingin bicara dengan-Mu.

Bolehkah? :) "


31 Jul 2009

Bukan Video


Setiap orang pasti pernah menyesal, entah itu perkara besar atau hal yang sangat kecil. Dan biasanya penyesalan itu berasal dari hal yang kurang enak, yang kemudian menimbulkan perasaan bersalah dan nggak jarang juga menyalahkan diri sendiri.

Saya termasuk orang yang sering menyesal. Bahkan dari hal yang kecil. Nggak jarang setelah saya mengucapkan suatu kata yang kurang berkenan (bukan cuma ungkapan kasar, tapi juga misalnya ketika saya menjawab pertanyaan orang dengan juteknya) saya pun menyesal beberapa detik kemudian. Begitu juga dalam keputusan besar, saya butuh waktu untuk meyakinkan diri kalo jalan yang saya ambil udah yang terbaik.

Saya tau, semua orang juga tau,

nggak enak rasanya ketika suatu kejadian yang udah lewat, masih terus berputar di kepala dan membuat suatu if statement. "coba gue waktu itu gini ..." atau "ah, kenapa sih gue harus gitu..."

Nggak enak rasanya ketika suatu kesalahan yang udah diperbuat, terus ngejar-ngejar kita dan minta untuk dihilangkan gitu aja.

Lebih nggak enak lagi ketika kita udah punya suatu keputusan tapi tiba-tiba karena suatu hal keteguhan yang kita punya mulai terguncang.

Rasanya pengen punya mesin waktu!

Tapi yaaa itu dia. Sekali lagi kenyataan kan harus kita hadapi, hidup bukan video yang bisa kita ulang, atau di-cut, rewind, forward, pause. Juga bukan game RPG yang bisa di-save dulu dan kalo kita kalah mau di-load game berapa kali masih bisa.

Sulit untuk dilalui? Ya, pasti. Tapi kita juga harus merasa beruntung bahwa hidup bukan video,
jadi kita bisa belajar melangkah terus dan nggak stuck meratapi yang udah lewat,
jadi kita bisa belajar bermimpi dan berusaha mewujudkan itu,
jadi kita bisa belajar mensyukuri apa yang udah kita dapet,
jadi kita bisa belajar menikmati setiap detik yang terus bertambah,
dan yang terpenting,
kita bisa belajar bertindak lebih hati-hati untuk nggak mengulang kesalahan yang sama.

Lagipula saya selalu inget satu quotes yang sangat saya suka, bahwa katanya
"happiness isn't a purpose, it's just a method of life"

Setuju nggak?

10 Jul 2009

Tour de Java

Akhirnya, I'm home! Ternyata kadang-kadang rumah bisa jadi sangat menyenangkan ya. Hehe. Jadi ceritanya saya baru pulang dari Jawa Tengah nih, niatnya kan cuma ke Solo menengok eyang, tapi ternyata perhentiannya banyak banget.

Jadi di hari pertama saya berangkat dari Jakarta emang udah agak siang, jam 1an gitu. Saya sekeluarga emang udah biasa bermobil ke Solo, tapi untuk yang ini baru pertama kalinya kita lewat jalur selatan. Ternyata jalur selatan tuh beda banget sama Pantura. Jalannya kelok-kelok, bikin mual. Jarang ada toilet lagi, mana kalo gelap tuh ya beneran gelap dan berbahaya. Jadi yaaa.. susah deh pokoknya.

Perhentian pertama kita adalah Purwokerto. Kami baru sampe hotel jam setengah 2an pagi setelah melewati perjalanan yang panjang sekali. Ngantuk banget, mual, bokap ngomel-ngomel pula. Lengkap deh capeknya. Niatnya siangnya kita mau ke Baturaden, tapi karena ternyata nggak sedekat yang kami kira, akhirnya abis breakfast kita langsung checkout dan menuju perhentian kedua.

Perhentian kedua kami adalah Magelang. Dan ini adalah tempat favorit saya sepanjang perjalanan ini! Jadi di sini kita nginep semalem di suatu tempat yang bernama: Losari Coffee Plantation, Resort and Spa. Bagus banget, beneran deh. Baik dari segi desain, konsep, environment, makanan, pokoknya semuanya baguuussss.. Mending sambil saya cerita dan liat foto-fotonya aja kali ya, jadi bisa dibayangin sendiri. Hehe.

Di Losari ini saya baru nyampe sekitar pukul 17.30. Padahal kalo saya lebih cepet setengah jam saya masih kebagian afternoon tea. (kata bude saya makanannya enak semua!). Kita baru sampe dan disambut di lobby depan which they said tadinya adalah sebuah stasiun kereta. Lucu banget sih emang keliatannya. Abis itu kita dapet welcome drink tamarind soda. Rasanya exotic banget hahaha lucu gitu asem asem soda gimanaa gitu.

lobby yang katanya dari stasiun itu

Terus kita ditunjukkin deh cottage nya, bagus desainnya Jawa kuno gitu. View juga enak, dan akhirnya setelah semaleman kita nginep disana, besoknya kita diajak Coffee Plantation Tour. Keliling kebun kopi terus akhirnya diajak ke pabrik kopinya. Di sini kita bisa giling kopi seenak jidat dan boleh dibawa pulang gratis. Cool deh pokoknya hahah.

tampak depan cottage

pohon kopi

mesin giling

Selesai bersantai di Losari sehari semalem, saya sekeluarga beranjak ke Solo. Di perjalanan, kita makan enthok, sejenis unggas kayak itik atau bebek gitu. Enak, dagingnya menurut saya lebih kenyal dan lebih gurih, tapi karena saya agak sakit gigi jadi saya cuma makan dikit.

Dari Magelang ke Solo, kita mampir dulu ke Borobudur. Tadinya emang saya yang usul ke sana, karena sodara saya yang masih kecil, Daniel, belum pernah ke candi yang sempat masuk Seven Wonders ini. Ehh pas sampe Borobudur, gila ya cendol banget! Penuh, rameeee, wuiih. Malah kata tante saya, pas naik ke puncak, aroma-aroma kurang enak dari pengunjung lain seliweran di sekitar hidung. Hahhaa, untung saya nggak kena. Dan satu hal yang saya pelajarin, kalo mau ke tempat beginian emang paling enak kalo lagi study tour sekolah! Dunia serasa milik sendiri ahhaha.

ramenya Borobudur!

Dan akhirnya kita sampe deh perhentian terakhir, kota Solo! Saya berdiam di Solo kira-kira lima hari. Banyak banget yang dilakuin, dan yang terutama tentunya adalah makan. Nggak lengkap ke Solo tanpa wisata kuliner. Makanan yang nggak pernah saya lewatkan kalo lagi di sana tuh adalah Sate Kere. Ini cuma dijual penjaja keliling yang pake gerobak, satenya juga isinya banyakan (hampir semua) jeroan. Ya mungkin karena itu namanya kere ya haha (sok tau).

sate kere yang lagi dibakar

Menu berikutnya adalah sate buntel, yaitu sate kambing yang dagingnya digiling dan dibungkus lemak terus dibakar. Hmmm... Oh iya. Tapi ati-ati yang punya darah tinggi atau kolesterol tinggi, haha. Parah banget tuh makanan, yang nggak kuat bisa langsung pusing kebanyakan kambing.

Ada lagi, sarapan pagi yang nggak terlewatkan: bubur gudeg, pecel ndeso, dan nasi liwet! Mau dibahas satu-satu? Hmm.. Kalo bubur gudeg itu, ya mirip gudeg jogja terus dimakannya pake bubur nasi, bukan nasi putih biasa. Buburnya pake santan jadi rasanya cukup gurih. Kalo nasi liwet, ya mungkin sejenis nasi uduk di Jakarta, tapi bumbunya beda. Rasanya gurih juga, dan dimakan pake krecek, ayam suwir, telur rebus, sama sayur labu. Kalo pecel ndeso? Ini yang agak beda. Saus pecelnya beda sama yang kebanyakan, kalo ini sausnya pake saus wijen, warna item. Bukan saus kacang coklat gitu. Terus dimakannya pake nasi beras merah, dilengkapi kerupuk karak! Duh enak banget deh yang ini, saya bisa nambah beberapa pincuk kalo pagi haha.

Selain makanan berat di atas, di Solo juga ada wedangan. Wedangan itu kalo bahasa indonesianya minuman, ada warung wedangan di sepanjang suatu jalan di Solo, dan biasanya menunya itu wedang ronde, wedang kacang, gempol pleret.. Bentuknya mungkin sejenis kolak, tapi nggak semanis itu. Umumnya terdiri dari air jahe dan isinya macem-macem bisa kacang tanah, kacang kedelai, macem-macem deh tergantung namanya. Dani biasanya sih disajikan panas. Lumayan buat menghangatkan badan malem-malem hehe.

Di Solo juga nggak bakal lengkap kalo nggak ke Pasar Klewer. Ini pasar pusat jual beli batik, crowded banget deh. Udah gitu tempatnya panas, sempit, tapi asik. Jualannya selain batik ada juga kaos biasa gitu sama aksesoris macem-macem. Mungkin kayak Malioboro ya kalo di Jogja.

Oh iya, saya juga sempet ke Keraton Kartasura. Nggak masuk sih, karena kesorean. Tapi sempet lah motret-motret dikit. Hehhe. Seru deh pokoknyaaaa.

di keraton

Setelah kecapekan di Solo dan mengorbankan hak pilih saya, jadinya saya baru pulang hari Rabu, tepat saat pilpres dilaksanakan. Sedih sih, nggak bisa vote, tapi yaa udah lah. Saya dari Solo berangkat jam 11 siang, dan setelah makan sana sini, berhenti di pom bensin beberapa kali, beli oleh-oleh, akhirnya saya sekeluarga sampe di Jakarta pukul 04.00 pagi keesokan harinya.

Capek? Iya. Seneng? Iyaa! Tapi mungkin satu hal yang nanti nggak boleh saya lupa kalo liburan adalah bawa modem internet! Gila saya tersiksa banget seminggu nggak bisa online, apalagi HP saya masih konvensional jadi nggak bisa seenak jidat online dimana-mana. Mahalll gila.

Dan akhirnya berakhir juga posting liburan saya. Huaah capek juga hehe. Happy holiday you guys :)

Cheers :)

20 Jun 2009

Filosofi laut (part 2)

sambungan dari: filosofi laut (2006)

img searched by google

Akhirnya tiga taun udah saya abisin untuk berenang di laut ini sebagai ikan. Ikan kecil yang juga ketemu dengan segerombolan ikan kecil yang lain. Bareng-bareng menelusuri tempat yang penuh kejutan, yang tiba-tiba ada badai dan tiba-tiba tenang lagi.

Tahun pertama, tahun kedua. Masing-masing punya cerita sendiri. Kita udah mulai bisa menentukan gerombolan mana yang bisa kita ikutin, yang bisa bantu kita dan bareng-bareng berenang beriringan. Kita juga udah mulai tau busuk-busuknya di balik karang-karang itu. Tahun kedua bagi saya adalah fase di mana saya udah di tengah-tengah, memutuskan untuk ikut arus menuju tujuan akhir karena udah terlambat untuk mundur dan balik ke belakang. Perjalanan yang cukup panjang dan saya nikmati meskipun cukup menghabiskan energi.

Tapi tahun ketiga semua seperti terlalu cepat. Arus begitu hebat dan memaksa saya ikut berenang lebih kuat. Melihat kanan-kiri, teman seperjuangan udah berenang jauh di depan, akan tertinggal kalo saya nggak lebih berjuang. Yang lebih sulit adalah ketika terjadi pergantian kemudi kapal. Hal tersebut ikut bikin ritme kami berubah. Sayangnya semua terlalu mendadak, di saat kami butuh penuntun kami justru harus adaptasi lagi dengan semuanya.

Arus terlalu kuat.

Waktu berputar cepat!

Mungkin kita bersarang di karang yang berbeda. Tapi ternyata tujuan kita sama. Samudera !

Maaf. Ternyata saya salah, laut saya belum seberapa. Di depan saya membentang samudera yang lebih luas, penghubung antarbenua dari berbagai belahan dunia. Saya udah di ujung dan sudah mengucapkan "semoga berhasil" untuk teman seperjuangan yang udah berenang di tempatnya sendiri.

Dan saya?

Saya masih berhenti sejanak, menunggu beberapa hari lagi sampai arus ini membawa saya ke tempat yang terbaik.



dedicated to my 2009: Our journey is over but the memories will last forever

4 Mei 2009

What do you think

Saya baru sadar kalo saya ternyata sangat gampang kebawa trend. No, no, I don't mean fashion and those kinda stuffs. What I mentioned here is: cyber-social network.

Looks familiar, huh? Zaman sekarang rasanya eksistensi orang nggak cuma diitung dari panjangnya meja kantin yang mereka butuhin buat makan bareng se-geng nya (notes: no offense), atau banyaknya vote dari adek kelas pas polling majalah sekolah "kakak ter-...". Keberadaan di dunia maya juga dipertanyakan.

Coba deh, kalo ada yg kenalan, pasti nggak berapa lama bakal nanya:
"punya facebook nggak?" atau "ada msn nggak?"

Jawaban negatif dari pertanyaan ini bakal mengundang pemikiran yang setara dengan:
"hari gini nggak punya handphone?"


Pergaulan sekarang udah meluas. Dulu orang cari temen lewat surat, cari sahabat pena. Beberapa waktu kemudian, HP udah jadi pegangan wajib bahkan merambah ke babysitter dan anak TK. Pacaran pun dimulai dengan kenalan lewat sms-an. Sekarang? Facebook answers all you need. Cari pacar, cari mantan, bahkan iklan caleg. Terbukti, technology rules the world.

Di balik itu semua, ada satu hal yang selalu
saya pikir, yaitu dampaknya ke emosi kita sendiri. Karena kita mikir teknologi memudahkan kita, ikatan emosional kita sama temen-temen atau saudara kita jadi cuma sebatas jarak mata kita ke monitor aja.

Berdasarkan pengalaman pribadi
saya aja nih, ada beberapa contacts saya yang kalo ketemu cuma say hi doang atau malah nggak pernah kenal sebelumnya (mungkin beberapa dari readers merasakan seperti itu hehe). Tapi pas chat misalnya, saya bisa ngobrol panjang lebar sama mereka. Untuk beberapa orang, saya lebih comfort ngomong lewat tulisan. Dan saya melewatkan nilai silaturahmi yang ditekankan dalam setiap relationship.
saya bisa merasa kenal banget sama seseorang ketika saya ngeliat status Facebooknya dia. saya bisa ngerasa kesel banget sama orang yang diomongin sama dia, saya bisa ngetawain kesialan dia hari itu. Padahal dalam kenyataannya saya cuma tau namanya dan.. that's it. Nothing more.

Dan sekali lagi,
saya melewatkan nilai silaturahmi tersebut.


Oh, FYI.
saya nggak menjelek-jelekkan trend ini kok. Banyak juga nilai positif yang didapet dengan mudahnya berkomunikasi lewat dunia maya ini. Too much to mention.
Dan
saya sendiri juga tipe orang yang menikmati ini. Hahahaa. Nggak munafik deh, saya punya banyak banget account di cyber-social network yang saya omongin itu. Ada yang saya urus, ada yang sekedar join and then goodbye. Kalo ditanya kenapa saya segitu kerajinannya signup dimana-mana.. Yaa emang sebenernya saya kebawa temen-temen saya . Hahaha. Dari Friendster, Hi5 Myspace, WindowsLive Space, Facebook, Multiply, Plurk.. dan... Oh! Bahkan saya baru sadar saya ternyata juga sign up Twitter!! Hahaha.

Eh btw, Blogger termasuk nggak?

12 Apr 2009

Painter of Life

img searched in Google

saya baru baca notes dari temen SMP saya, namanya Vincent. Tapi kita manggil dia Opaz. I won't talk about him but the notes itself. saya copy aja yaa:

"Suatu hari ada pelukis yang sedang menyelesaikan gambarnya di atap suatu gedung tinggi. Lukisannya sangat indah, menggambarkan pemandangan langit dan seisi kota. Di sekitarnya juga ada orang-orang lain yang ikut melukis. Mereka juga mengagumi kepiawaian sang pelukis tadi.Ketika gambar sang pelukis hampir jadi, ia mundur untuk melihatnya dari jauh. Mundur, mundur, semakin lama semakin jauh. Ia tidak sadar bahwa selangkah lagi ia bisa terjatuh dari gedung tinggi itu.Seseorang yang sedang memperhatikan lukisannya tersadar akan bahaya tersebut. Namun ia berpikir, jika ia berteriak siapa tahu justru sang pelukis akan terjatuh karena kaget. Oleh karena itu ia mengambil kuas dan mencoret-coret lukisan sang pelukis. Tentu saja sang pelukis marah, ia pun berlari dan hampir memukul orang itu. Tapi setelah tahu akan maksud dari perbuatannya, ia pun berterima kasih karena ia tidak jadi terjatuh."


Arti dari ceritanya,

kalo sebenernya pelukis itu kita sendiri, lukisan itu harapan kita, dan orang yang mencoret itu Tuhan Yang Di Atas Sana. Bahwa mungkin kita udah melukiskan masa depan kita seindah mungkin, semua cita-cita kita, semua harapan. Udah kita atur sesuai rencana kita. Tapi ternyata semuanya harus hancur gitu aja dan kita ngerasa bahwa lukisan kita dicoret-coret sama Dia. Wajar kalo kita marah, tapi kita harus mikir. Tuhan pasti punya maksud yang lebih baik, yang menyelamatkan kita dari sesuatu.


Pas saya baca itu, saya bener-bener tersadar. Mungkin udah jutaan kali saya dibilangin "God knows the best". Tapi tetep aja, setiap hari saya dapet segala hal yang menurut saya gagal, setiap hari itu juga saya tersadarkan. Dan mungkin, sekarang gue udah bisa bilang : "Wherever tomorrow brings, I'll be there, God"

1 Feb 2009

Hujan


Hujan bukan cuma punya langit.
Dingin bukan cuma punya malam.
Malam ini hujan lagi,
deras.
Dingin lagi menggigit,
menggigil.
Percuma diri berpayung,
hujan sendiri lebih deras.
Lebih dingin,
lebih pekat dari gelap.

Jakarta, 01 Feb 09