23 Mar 2010

Yang Tadi atau Nanti, Bukan Hari Ini


Selama hampir dua taun mengidap insomnia, produktivitas saya kalo malem itu justru lagi mencapai titik tertinggi. Biasanya kalo lagi semangat belajar ya saya buka buku. Kalo lagi semangat cerita ya saya buka conversation cari temen ngobrol. Kalo lagi semangat stalker ya saya buka profile dan stalking orang-orang. Hahaha.

Nah.. Selain penyakit sulit tidur itu, saya punya penyakit lain. Saya nggak tau disebut apa, tapi saya itu sangat past-minded and future (over)-orientation. Dua penyakit berlawanan makna itu tergabung jadi satu dan menyebabkan saya susah untuk menyadari keberadaan hari sekarang. Dan itulah yang bakal saya bahas di sini.

Kombinasi antara dua paragraf di atas itu terjalin ketika beberapa malam tanpa tidur itu saya gunakan untuk membuka lagi hal-hal lama yang ada, baik di komputer, agenda, album foto, dan semacemnya. Ya, saya punya satu laci cukup besar (kalo nggak mau saya sebut lemari kecil) yang isinya berkotak-kotak barang dari jaman dulu. Ada surat entah kapan dari jaman SD, ada ID card jaman SMP, ada tugas-tugas kaderisasi jaman SMA, dan ya.. segala hal kenangan yang menyangkut orang lain.

Itu baru tentang masa lalu. Nah, kalo yang masa depan.. Ketika seseorang bilang kalo bermimpi itu penting, yang saya lakukan nggak cuma berharap. Saya menulis rencana. Walaupun nggak tertulis secara nyata di agenda saya, tapi di kepala saya itu kayak ada timeline dengan setiap target dan deadline yang harus saya penuhi secara pribadi. Segalanya kayak udah terstruktur dan garis itulah yang jadi penuntun setiap checkpoint hidup saya.

Kegiatan saya yang pertama, tentu membangkitkan sisi super-emosional-nan-melankolis saya. Nggak jarang hal-hal itu menjebak saya ke memori nggak penting yang merusak rasionalitas dalam sekejap. Rasa kangen, marah, nyesel, nyesek, semua jadi satu. Ujung-ujungnyaa... ya taulah ya bakal gimana. Haha.
Sedangkan kegiatan kedua, itu adalah titik sadar setelah berlarut-larut dalam kenangan masa lalu itu. Di saat itulah mata saya terbuka dan semangat diri saya terbangun untuk bisa move on. Untuk maju dan membangkitkan ambisi-tinggi-nan-perfeksionis saya. Kalo diilustrasiin, rasanya kayak di depan mata udah ada tangga panjang yang menunggu dengan kata 'sukses' di atas sana. Bahkan kadang itu bukan seperti rencana kosong, tapi di otak saya tuh udah ada bayangan akan (atau harus) seperti apa masa depan saya nanti.

Nggak nyambung? Yaa.. Mungkin begitu. Tapi bisa nggak sih diliat di sini, saya bermasalah dengan masa sekarang? Ketika saya menjebak diri dengan segala hal yang pernah saya punyai, ataupun ketika saya mengikat diri untuk memiliki hal yang ingin saya miliki. Saya lupa tentang apa yang sedang ada di tangan saya sekarang.

Saya rasa ini bukan cuma saya. Nggak sedikit orang yang terlalu terpaku dengan dua hal yang mengapit mereka dan lupa, kalo apa yang diinjak sekarang adalah jalan hari ini. Bukan kemarin atau nanti. Bukan yang lalu ataupun yang belum tahu.

Gimana kalo kita belajar menyadari itu?


1 komentar:

Stefanus mengatakan...

mending belajar cara cepet tidur dulu haha