Langsung ke konten utama

Membuka Kembali Jendela Dunia


Saya lupa bagaimana serunya membaca (buku). Menelusuri kata demi kata, membayangkan suasana dan membiarkan imajinasi terkuak tanpa terkendali. Tidak peduli perut lupa diisi nasi, atau ternyata sinar matahari sudah berganti dengan cahaya elektronik, halaman demi halaman masih menanti untuk dijelajah. Rasanya, memberhentikan diri sejenak untuk sekedar mengambil air itu seperti menyia-nyiakan petualangan di antara huruf cetakan berspasi rapat.

Saya lupa, bagaimana saya bisa membayangkan diri menjadi orang yang lain ketika terlibat penuh dalam cerita yang saya baca. Tak jarang, emosi ikut terbangun seiring alur cerita berjalan. Bahkan saya terkadang lupa bahwa saya masih berada di ruangan di dalam rumah. Pikiran saya sudah berkeliling ke seluruh dunia melintasi kota-kota yang ada dalam lembaran hidup si pemeran tokoh utama.

Dan satu buku ini telah kembali mengingatkan saya bahwa jejaring sosial dan dunia maya tidak akan pernah bisa mengalahkan mantra sastra. Barisan huruf cetakan rapi, suara gemersik kertas yang beradu dengan jari, kepanikan mencari kertas pembatas, masih nggak ada duanya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Internship Madness Part 1

Dulu waktu SMA, setiap pulang lewat Sudirman saya suka mikir, kapan ya saya bakal menempati salah satu ruang di gedung kaca super tinggi itu? Nggak jarang saya kadang pengen jadi salah satu pegawai yang mondar-mandir di siang hari bareng temen-temennya cari tempat makan siang. Kayaknya seru, entah kenapa.
Dan berkat pilihan saya untuk kuliah di sekolah bisnis di Cilandak ini, saya bisa ngerasain itu bahkan ketika saya baru kuliah 6 bulan! Dalam rangka program On The Job Training dari kampus, akhirnya, sekarang, saya jadi bagian dari mereka selama sebulan. Hasil pengalaman kerja itu bakal jadi bahan presentasi di semester depan. Asik? Listen to my story here.
Setiap jam 8 saya menembus jalur 3 in 1, parkir di salah satu gedung kawasan Sudirman, menyapa Pak Satpam, menunggu lift, membuka pintu (meskpun dibukain karena saya nggak punya ID), menuju bilik saya sendiri (ya, bilik saya!) - meskipun cuma satu bulan, mulai bergaul dengan satu komputer di depan mata, nggak sabar nunggu jam makan …

Si Ndok Krompyang

Hmm.. Sebenernya itu berasal dari Bahasa Jawa. Ndok adalah sebutan untuk anak perempuan dan krompyang itu artinya pecah. Waktu saya kecil, ibu saya memanggil saya dengan sebutan itu berdasarkan kenyataan bahwa saya itu ahli banget ngejatohin barang. Adaaa aja barang yang jatoh, dan kebanyakan barang tersebut akan pecah setelahnya. Bahkan dulu saya itu orang terakhir yang bakal dipercaya untuk dititipin megang apa-apa in case ada yang mintain tolong. Mereka berasumsi saya bakal mecahin barang itu, walaupun benar... 70% kemungkinan barang tersebut emang bakal jatoh dari tangan saya.
Tekanan psikologis dari julukan itu masih membekas sampe sekarang. Makanya saya selalu berusaha menghindari tempat barang pecah belah atau tumpukan kardus gitu. Bawaannya selalu deg-degan kalo ada di daerah kayak gitu. Tapi entah sial atau apa, walaupun udah hati-hati, masih aja suka jatoh juga. Entah kesenggol tas, jatoh dari tangan, atau apalah..
Saya juga nggak ngerti kenapa bisa kayak gitu. Mungkin karena …