23 Jan 2011

Dalam sebuah kompetisi, akan selalu ada yang menang dan kalah. Itu namanya mutlak, hukum alam, nggak bisa diganggu gugat. Dan biasanya untuk membesarkan hati ke yang kalah, kemudian akan muncul nasihat yang berbunyi "yang penting bukan menang atau kalahnya, yang penting kita udah kerja semaksimal yang kita bisa".

Mungkin menjadi kalah itu emang nggak buruk. Yang bikin itu terasa buruk ketika yang kalah nggak bisa menerima kekalahannya.

Biasanya, setelah luapan kemarahan dan kekecewaan muncul (ada yang menyumpah serapah, ada yang menghabiskan air mata, ada yang menyalahkan sekitarnya), pertanyaan-pertanyaan akan muncul. Pertanyaan dimulai dengan kata "kenapa", dan diikuti dengan subjek: si yang kalah itu sendiri dan si pemenang.

Kenapa saya kalah?
Kenapa dia yang malah menang?
Kenapa saya nggak pernah menang?

Mungkin itu teguran, biar nggak sombong. Seenggaknya jadi tau bahwa kerja keras yang udah dilakukan belum cukup untuk memperoleh hasil yang maksimal. Seenggaknya bisa belajar untuk ke depannya. Seenggaknya bisa punya motivasi untuk mengembangkan diri.

Mungkin menjadi kalah emang nggak buruk, andaikan saya bisa berpikir sepositif tulisan saya ini. Ups.. Jadi curhat. Hahaha.

Tidak ada komentar: