Langsung ke konten utama

Pilihan

Membicarakan pilihan emang nggak pernah gampang, terutama buat orang yang kebanyakan mikir kayak saya. Dan ya beginilah, rasanya tiap saat ketemu orang pengen diskusi, tapi ketika mereka ngasih pandangan pilihan A, saya bersikeras memilih B. Ketika saya didukung untuk memilih B, saya ragu.

Hingga akhirnya kemarin, di tengah makan malam keluarga hari Minggu, muncullah pembicaraan mengenai ini.

Dan beginilah ibu saya berkata:
"Nantinya hidup itu emang bukan lagi masalah suka nggak suka. Mau pilih yang mana itu sama aja. Intinya adalah gimana kamu survive di situ, karena pasti ada aja hal yang kamu nggak suka dari setiap jalan yang kamu pilih."

Dan beginilah kakak saya menanggapi:
"Pokoknya jangan kebanyakan mikir. Nggak maju-maju ntar, nggak yakin-yakin karena hampir yakin yang ini lu bakal balik lagi mikir ke awal."

Yah semoga saya diberi pencerahan.

Komentar

Hans Sanjaya mengatakan…
hihi as usual..

Postingan populer dari blog ini

Pemanasan

Sebentar lagi kuartal kedua akan dimulai. Saya lupa saya punya ruang ini, tempat di mana saya bicara sendiri dengan sedikit berharap ada pembaca mengerti tapi pura-pura tidak peduli dan tidak perlu dikonfrontasi. Ironis memang; sengaja membuka eksistensi tapi tidak percaya diri, memilih untuk ditemukan dalam ranah maya tapi memilih berkisah dalam metafora. Lalu kemudian saya menulis ini, memilih cara begini dengan membagi prosa dalam spasi menjadi seakan puisi. Padahal, isinya hanya rangkaian kalimat tak berinti, tumpahan kata yang sulit berhenti, tapi terlalu sayang untuk disimpan dalam hati. ------------------------------------ Dua hari sebelum kuartal satu ditutup Rumah, 2016

Pesan untuk Saya Nanti

Akhirnya kembali lagi ke halaman ini.. Akhirnya! Keputusan untuk kembali dan menulis di sini bukan hal yang mudah sebenarnya. Saya sempat ingin menulis beberapa bulan yang lalu, kemudian urung, dan akhirnya lupa. Lalu kemarin, entah bagaimana saya diingatkan untuk menunaikan niat yang dulu pernah terbesit, hingga membawa saya duduk dan meluangkan sepersekian detik hari ini di sini. Tulisan kali ini saya tujukan untuk diri saya sendiri suatu hari nanti: sebagai pengingat untuk bersyukur, jika suatu hari saya terlalu angkuh dan tinggi hati, sebagai pegangan untuk berdiri, jika saya mulai rapuh dan jatuh lain kali, sebagai kekuatan untuk maju, jika saya ingin menyerah dan tidak percaya diri, sebagai garis untuk pedoman, agar tidak tersesat dan terlalu jauh berlari Rasanya masih surreal. Tinggal sendiri jauh dari rumah dan memulai kembali duduk di bangku kuliah. Lebih sulit ketika harus selalu mengkonversi waktu setiap ingin menghubungi mereka di Tanah Air, tapi yang jauh ...

Menantang Hujan

Selama ini ia benci Hujan. Ia beli payung berbagai ukuran, jas hujan dengan warna menawan,  sepatu anti air dengan kualitas tak diragukan. Lalu kemudian Hujan tidak datang selama beberapa pekan. Sial, lalu apa gunanya semua perlengkapan? Ia pikir ia benci Hujan. Memang, tapi bukan dalam bentuk "tanpa pertemuan". Ia perlu Hujan. Untuk dilawan. _____________________________________ Kebon Sirih, 27 Februari 2015 di penghujung musim penghujan