Langsung ke konten utama

Obsession

Kakak saya bilang, "wisata kuliner itu adalah gabungan wisata alam dan budaya. Alam menentukan bahan apa yang dipakai di masakan itu, dan budaya menunjukkan bagaimana makanan tersebut diolah sedemikian rupa." Brilian menurut saya. Ternyata, kesukaan pada makanan itu memang sudah mendarah daging di keluarga. Beruntung, kami punya kesempatan menikmati berbagai macam makanan. Setiap kami pergi, nggak ada hal lain yang kami lakukan selain makan. Jadi ya wajar aja kalo kalian ikut keluarga saya pergi, pasti ya makan lagi makan lagi :D

Nah, kalo saya cerita ke teman-teman saya tentang apa yang saya makan, nggak sedikit yang masih terheran-heran. Entah karena makanan tersebut yang kelihatannya terlalu 'ajaib' atau ya karena mereka nggak pernah menemukan itu di pasaran modern sekarang. Dimulai dari situlah saya terdorong untuk bikin blog ini. Rasanya saya semangat banget pengen nunjukin ini lho yang namanya "..." dan rasanya tuh gini lho.. Oh, dan untuk konsisten dengan keinginan saya sharing, foto-foto yang dipakai pun asli dari kamera saya sendiri :) 

Dan kenapa harus buat akun baru dari blog sebelah? Yah, supaya konsisten aja tema blognya nggak campur-campur... Tapi kayaknya faktor lain pendorongnya adalah salah satu 'penyakit' saya akan media sosial deh haha.

Anyway, silakan mengunjungi :)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemanasan

Sebentar lagi kuartal kedua akan dimulai. Saya lupa saya punya ruang ini, tempat di mana saya bicara sendiri dengan sedikit berharap ada pembaca mengerti tapi pura-pura tidak peduli dan tidak perlu dikonfrontasi. Ironis memang; sengaja membuka eksistensi tapi tidak percaya diri, memilih untuk ditemukan dalam ranah maya tapi memilih berkisah dalam metafora. Lalu kemudian saya menulis ini, memilih cara begini dengan membagi prosa dalam spasi menjadi seakan puisi. Padahal, isinya hanya rangkaian kalimat tak berinti, tumpahan kata yang sulit berhenti, tapi terlalu sayang untuk disimpan dalam hati. ------------------------------------ Dua hari sebelum kuartal satu ditutup Rumah, 2016

Pesan untuk Saya Nanti

Akhirnya kembali lagi ke halaman ini.. Akhirnya! Keputusan untuk kembali dan menulis di sini bukan hal yang mudah sebenarnya. Saya sempat ingin menulis beberapa bulan yang lalu, kemudian urung, dan akhirnya lupa. Lalu kemarin, entah bagaimana saya diingatkan untuk menunaikan niat yang dulu pernah terbesit, hingga membawa saya duduk dan meluangkan sepersekian detik hari ini di sini. Tulisan kali ini saya tujukan untuk diri saya sendiri suatu hari nanti: sebagai pengingat untuk bersyukur, jika suatu hari saya terlalu angkuh dan tinggi hati, sebagai pegangan untuk berdiri, jika saya mulai rapuh dan jatuh lain kali, sebagai kekuatan untuk maju, jika saya ingin menyerah dan tidak percaya diri, sebagai garis untuk pedoman, agar tidak tersesat dan terlalu jauh berlari Rasanya masih surreal. Tinggal sendiri jauh dari rumah dan memulai kembali duduk di bangku kuliah. Lebih sulit ketika harus selalu mengkonversi waktu setiap ingin menghubungi mereka di Tanah Air, tapi yang jauh ...

Menantang Hujan

Selama ini ia benci Hujan. Ia beli payung berbagai ukuran, jas hujan dengan warna menawan,  sepatu anti air dengan kualitas tak diragukan. Lalu kemudian Hujan tidak datang selama beberapa pekan. Sial, lalu apa gunanya semua perlengkapan? Ia pikir ia benci Hujan. Memang, tapi bukan dalam bentuk "tanpa pertemuan". Ia perlu Hujan. Untuk dilawan. _____________________________________ Kebon Sirih, 27 Februari 2015 di penghujung musim penghujan