Langsung ke konten utama

Inspirasi

Inspirasi itu bisa datang dari mana aja. Dan buat saya, bertemu bersama para sahabat adalah sumber inspirasi terbesar. Lucu, ketika kami nggak butuh untuk selalu bertemu dan berkomunikasi, tapi rasa untuk kembali itu selalu ada. Terpisah tempat belajar, terpisah kota bahkan negara, pada akhirnya kami tetap bisa berkumpul dan membahas berjuta hal yang pernah terlewati, yang dulu pernah dibagi, bahkan yang menjadi kekhawatiran untuk masa depan nanti. Mungkin rutinitasnya kemudian berulang: dimulai dari menggali memori terdahulu dan menertawainya, kemudian membahas keadaan hari ini bertanya kabar dan sekitarnya, lalu berdiskusi membahas harapan dan keinginan serta permasalahan yang jadi beban pikiran.

Saya selalu kagum dengan bagaimana mereka bisa menjadi mereka yang sekarang. Mereka bisa menjalani passion masing-masing. Mereka bisa meraih berbagai hal, yang buat saya itu keren banget, yang mungkin bukan tipe hal yang bisa muncul di pikiran saya sekalipun. Mereka... Hebat. Beneran. Saya nggak punya kata lain yang bisa mendefinisikannya selain kata itu.

Menghabiskan waktu bersama mereka selalu membuat saya berefleksi. Rasanya, selalu muncul semangat untuk berbenah diri dan menjalani mimpi.

Saya ingin bisa menjadi sehebat mereka.

Tentunya, dengan cara saya :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemanasan

Sebentar lagi kuartal kedua akan dimulai. Saya lupa saya punya ruang ini, tempat di mana saya bicara sendiri dengan sedikit berharap ada pembaca mengerti tapi pura-pura tidak peduli dan tidak perlu dikonfrontasi. Ironis memang; sengaja membuka eksistensi tapi tidak percaya diri, memilih untuk ditemukan dalam ranah maya tapi memilih berkisah dalam metafora. Lalu kemudian saya menulis ini, memilih cara begini dengan membagi prosa dalam spasi menjadi seakan puisi. Padahal, isinya hanya rangkaian kalimat tak berinti, tumpahan kata yang sulit berhenti, tapi terlalu sayang untuk disimpan dalam hati. ------------------------------------ Dua hari sebelum kuartal satu ditutup Rumah, 2016

Pesan untuk Saya Nanti

Akhirnya kembali lagi ke halaman ini.. Akhirnya! Keputusan untuk kembali dan menulis di sini bukan hal yang mudah sebenarnya. Saya sempat ingin menulis beberapa bulan yang lalu, kemudian urung, dan akhirnya lupa. Lalu kemarin, entah bagaimana saya diingatkan untuk menunaikan niat yang dulu pernah terbesit, hingga membawa saya duduk dan meluangkan sepersekian detik hari ini di sini. Tulisan kali ini saya tujukan untuk diri saya sendiri suatu hari nanti: sebagai pengingat untuk bersyukur, jika suatu hari saya terlalu angkuh dan tinggi hati, sebagai pegangan untuk berdiri, jika saya mulai rapuh dan jatuh lain kali, sebagai kekuatan untuk maju, jika saya ingin menyerah dan tidak percaya diri, sebagai garis untuk pedoman, agar tidak tersesat dan terlalu jauh berlari Rasanya masih surreal. Tinggal sendiri jauh dari rumah dan memulai kembali duduk di bangku kuliah. Lebih sulit ketika harus selalu mengkonversi waktu setiap ingin menghubungi mereka di Tanah Air, tapi yang jauh ...

Menantang Hujan

Selama ini ia benci Hujan. Ia beli payung berbagai ukuran, jas hujan dengan warna menawan,  sepatu anti air dengan kualitas tak diragukan. Lalu kemudian Hujan tidak datang selama beberapa pekan. Sial, lalu apa gunanya semua perlengkapan? Ia pikir ia benci Hujan. Memang, tapi bukan dalam bentuk "tanpa pertemuan". Ia perlu Hujan. Untuk dilawan. _____________________________________ Kebon Sirih, 27 Februari 2015 di penghujung musim penghujan