Langsung ke konten utama

Inspirasi

Inspirasi itu bisa datang dari mana aja. Dan buat saya, bertemu bersama para sahabat adalah sumber inspirasi terbesar. Lucu, ketika kami nggak butuh untuk selalu bertemu dan berkomunikasi, tapi rasa untuk kembali itu selalu ada. Terpisah tempat belajar, terpisah kota bahkan negara, pada akhirnya kami tetap bisa berkumpul dan membahas berjuta hal yang pernah terlewati, yang dulu pernah dibagi, bahkan yang menjadi kekhawatiran untuk masa depan nanti. Mungkin rutinitasnya kemudian berulang: dimulai dari menggali memori terdahulu dan menertawainya, kemudian membahas keadaan hari ini bertanya kabar dan sekitarnya, lalu berdiskusi membahas harapan dan keinginan serta permasalahan yang jadi beban pikiran.

Saya selalu kagum dengan bagaimana mereka bisa menjadi mereka yang sekarang. Mereka bisa menjalani passion masing-masing. Mereka bisa meraih berbagai hal, yang buat saya itu keren banget, yang mungkin bukan tipe hal yang bisa muncul di pikiran saya sekalipun. Mereka... Hebat. Beneran. Saya nggak punya kata lain yang bisa mendefinisikannya selain kata itu.

Menghabiskan waktu bersama mereka selalu membuat saya berefleksi. Rasanya, selalu muncul semangat untuk berbenah diri dan menjalani mimpi.

Saya ingin bisa menjadi sehebat mereka.

Tentunya, dengan cara saya :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Internship Madness Part 1

Dulu waktu SMA, setiap pulang lewat Sudirman saya suka mikir, kapan ya saya bakal menempati salah satu ruang di gedung kaca super tinggi itu? Nggak jarang saya kadang pengen jadi salah satu pegawai yang mondar-mandir di siang hari bareng temen-temennya cari tempat makan siang. Kayaknya seru, entah kenapa.
Dan berkat pilihan saya untuk kuliah di sekolah bisnis di Cilandak ini, saya bisa ngerasain itu bahkan ketika saya baru kuliah 6 bulan! Dalam rangka program On The Job Training dari kampus, akhirnya, sekarang, saya jadi bagian dari mereka selama sebulan. Hasil pengalaman kerja itu bakal jadi bahan presentasi di semester depan. Asik? Listen to my story here.
Setiap jam 8 saya menembus jalur 3 in 1, parkir di salah satu gedung kawasan Sudirman, menyapa Pak Satpam, menunggu lift, membuka pintu (meskpun dibukain karena saya nggak punya ID), menuju bilik saya sendiri (ya, bilik saya!) - meskipun cuma satu bulan, mulai bergaul dengan satu komputer di depan mata, nggak sabar nunggu jam makan …

Si Ndok Krompyang

Hmm.. Sebenernya itu berasal dari Bahasa Jawa. Ndok adalah sebutan untuk anak perempuan dan krompyang itu artinya pecah. Waktu saya kecil, ibu saya memanggil saya dengan sebutan itu berdasarkan kenyataan bahwa saya itu ahli banget ngejatohin barang. Adaaa aja barang yang jatoh, dan kebanyakan barang tersebut akan pecah setelahnya. Bahkan dulu saya itu orang terakhir yang bakal dipercaya untuk dititipin megang apa-apa in case ada yang mintain tolong. Mereka berasumsi saya bakal mecahin barang itu, walaupun benar... 70% kemungkinan barang tersebut emang bakal jatoh dari tangan saya.
Tekanan psikologis dari julukan itu masih membekas sampe sekarang. Makanya saya selalu berusaha menghindari tempat barang pecah belah atau tumpukan kardus gitu. Bawaannya selalu deg-degan kalo ada di daerah kayak gitu. Tapi entah sial atau apa, walaupun udah hati-hati, masih aja suka jatoh juga. Entah kesenggol tas, jatoh dari tangan, atau apalah..
Saya juga nggak ngerti kenapa bisa kayak gitu. Mungkin karena …