21 Jun 2012

Some things better left un...known?

Tahun ketiga kuliah ini rasanya saya semakin sering menemukan pertanyaan (atau pernyataan?) berbunyi "sepertinya saya salah masuk jurusan (?)". Nggak di keluhan singkat dalam percakapan sehari-hari, diskusi serius tentang kehidupan, dan juga di lini waktu media sosial sebelah yang isinya 80% komplain.

Yang anak DKV merasa belajar bisnis lebih menarik. Yang jurusan kedokteran merasa ilmu politik cukup interesting. Yang anak bisnis pengen banget belajar desain. Berputar aja terus begini, nggak ada habisnya.

Tapi begitulah.. Manusia nggak pernah puas. Rumput tetangga akan selalu lebih hijau.

Ah, klise... Tapi sepertinya memang iya, saya akui. Semakin kita tau sesuatu semakin dalam, semakin kita tau jeleknya, semakin besar kemungkinan kita merasa berada di tempat yang 'salah'. Kita akan melihat hal lain di luar sana itu lebih baik.

Tapi kata siapa?

Di sini, saya nggak mau menggurui apapun. Saya bukan mau menyentil hati nurani untuk perbanyak bersyukur. Hanya saja, coba deh bayangkan. Anggap sekarang saya, berkuliah di satu kampus. Sebut lah P. Saya sudah menjadi bagian dari P ini. Saya tau, P ini punya nama baik di luar sana, tapi karena saya berada di dalamnya, saya juga tau jelek-jeleknya yang mungkin orang lain nggak bisa liat. Lalu kemudian saya melihat teman saya yang kuliah di S. Saya menganggap S itu bagus banget, lebih baik dibandingkan kampus P yang saya tinggali sekarang.

Tapi, siapa yang menjamin kalau saya kuliah di S, saya nggak akan merasa menyesal? Justru hal yang sama akan terjadi juga, di mana saya jadi tau keburukan S yang nggak bisa saya liat dulu sebelum saya menjadi bagian dari S ini.


Sama halnya ketika kita belajar sesuatu. Anggaplah sekarang saya kuliah bisnis. Saya yang sebelumnya buta banget bisnis itu sebenarnya belajar apa, jadi terbuka matanya tentang apa risiko dan tantangan yang dihadapi. Kemudian muncul penyesalan, apa iya saya pantas di sini? Kayaknya belajar teknologi pangan lebih asik.


Tapi, siapa yang menjamin kalau saya waktu itu dijalankan di jurusan yang lain, saya nggak akan merasa menyesal? Pasti hal yang sama akan terjadi, karena saya jadi tau seluk beluknya  seperti apa.

Nah, kalau begini, kapan selesainya?

The more you know, the more confused you get. Apa iya?

Ternyata, ada seorang wise yang menjawab begini:
"Knowledge won't help you with confusion. It will only add more data to the problem you are facing.You need to develop understanding in order to clear up confusion, but knowledge itself is a tool of understanding.
What I'm trying to say is that you need knowledge to help you understand and thereby clear up your confusion. It isn't a volume that you need, it is just the right knowledge to deal with whatever area is causing you confusion." - Derek T (source) 
.......


Silakan merenung :)

18 Jun 2012

Lari, lagi

Benak tersentak, menyadari usia tidak lagi muda. Bayangan para kawan lama mengitarinya. Mereka sudah berlari cepat, berpencar arah menuju pintu masing-masing, meninggalkan warna sendiri yang sebelumnya tidak tampak mata.

Rasanya dia juga bukan hanya berdiri saja. Ia juga melangkah, hanya saja tidak dengan akselerasi yang sama. Ia melangkah, tapi berencana. Ia banyak melangkah, tapi berencana lebih banyak. Akibatnya, ia pun banyak berhenti juga dan besarlah jarak antara mereka.

Seketika ia merasa bodoh karena salah perhitungan. Ternyata ketika di kepala sedang berputar adegan masa depan, kaki ini baru beranjak sekitar satu jengkalan. Kebanyakan membayangkan berakibat tenaga keburu terengah, energi pun sudah mulai habis setengah. Lelah. Padahal, masih ratusan tapak menunggu jauh di sana, tapi masa juga berubah tanpa jeda.

Aduh, harus bagaimana?

Panik merasuk, membuatnya buta. Ia merasa percuma. Ia merasa..... gagal yang nyata.

"Sudah." begitu kata seorang yang menjadi tumpuan keluhnya. "Sabar. Tunggu saja waktunya. Sekarang memang belum saja."

Lelah, baiklah ia pun berhenti sejenak, mengistirahatkan diri meluruskan akal. Perlahan, dibukalah kembali kotak pikiran. Ia coba pisahkan, mana yang mimpi dan mana yang terpercik karena rasa iri.

Sabar. Ia meyakinkan jiwanya yang sempat pudar. Mungkin bukan sekarang saatnya ia berpendar.

Sesaat setelah ini, pasti ia akan berlari. Lagi.

12 Jun 2012

Peduli (?)

Peduli tanpa aksi
sama dengan kosong
cuma bertele-tele membiarkan otak memeras tenaga
tanpa bisa mengubah apa-apa

Tapi bagaimana jika
usaha sebagai aksi sebenarnya sudah terlaksana
hanya saja
ternyata tidak berharga