26 Des 2011

Natal Kali Ini

Sekarang sudah tanggal 26 Desember, Natal sudah lewat 14 menit yang lalu. Tamu-tamu yang tadi memenuhi ruangan sepertinya sudah berselimut dan berkelana di mimpi masing-masing. Lampu kelap kelip di pohon natal sekarang menyala sendirian, canda tawa yang tadi menemaninya sudah hilang ditelan malam. Di kamar, saya berusaha menyimpan memori hari ini dalam tulisan agar tidak menguap seiring berlalunya hari.

Natal kali ini terasa berbeda dari natal kemarin. Yah, tentu saja setiap tahun pasti akan terasa tidak sama. Orang datang dan pergi, hiasan gantung juga terus berganti, apalagi menu makanan yang tersaji. Tapi rasanya ada hal lain yang membuat saya terusik untuk merekam Natal kali ini dalam tulisan.

Ini Natal pertama yang saya habiskan dengan beberapa anggota keluarga baru. Lucu, ketika tanpa sadar dalam kejapan mata, orang yang sama sekali asing bagi kita kemarin, sekarang sudah menjadi bagian di silsilah yang sama. Ironis juga, ketika ternyata kehadiran mereka tidak mengubah jumlah anggota. Yah mungkin itulah hukumnya.. Ada yang datang, hilang, pergi, dan kembali. Sudahlah.. 

Ini Natal pertama sejak saya menginjak kepala dua. Mungkin, cara pikir saya sudah berbeda dari sebelumnya, entahlah. Tapi mudah-mudahan saja ini merupakan salah satu pertanda dalam menjadi lebih dewasa.Tentu saja, pertambahan usia saya berbarengan dengan usia saudara sebaya. Lucu rasanya ketika membandingkan bagaimana dulu dan sekarang kami berinteraksi. Topik games PS, Lego, komik, kartun, dan segala atribut masa kecil yang menjadi bahan perbincangan kini pun beralih ke topik yang lebih serius. Arogansi yang ada pun tidak pernah hilang, hanya berubah wujud. 
Dulu, kami tidak mau kalah memamerkan games terbaru yang sudah diselesaikan atau seri komik terbaru yang baru diterbitkan. Kini, kemasannya tentu lebih elegan, dengan menyanding nama universitas, jabatan pekerjaan, atau bisnis yang menjadi bahan perbincangan. Tidak ada yang masalah dengan hal itu, toh kita semua punya "sesuatu" untuk dibanggakan.Justru hal itu memperkaya suasana, menjadi bahan wacana dan pengungkit percaya diri supaya lebih bercahaya. Dan untungnya, kedekatan itu pun tetap ada.

Ini pun Natal pertama, sepanjang ingatan saya, di mana saya tidak mengharapkan apa-apa. Yah, saya tidak punya wish khusus pada Natal tahun ini. Semua berjalan begitu saja.. Tanpa menuntut apapun, dan entah kenapa lebih lega rasanya. Dan itu membuat saya bersyukur karena Natal kali ini terasa begitu bahagia.

Sekarang sudah tanggal 26 Desember, Natal sudah lewat 48 menit yang lalu. Rangkaian kata yang tadi menumpuk sudah mulai tersalurkan, meski ucapan syukur masih belum dapat sepenuhnya dapat tertuliskan. Pikiran mulai melayang ke dalam selimut, menunggu kapan pergi ke negeri mimpi. Lampu pohon natal masih menyala sendirian, menunggu waktu kapan saatnya kembali beristirahat di dalam lemari. Di kamar, saya pun akhirnya selesai mengemas Natal kali ini agar tidak menguap seiring berlalunya hari.


Sampai jumpa tahun depan, pohon dan lampu!

23 Des 2011

Sepenggal bait

Dan kini seperti fajar yang menanti mentari
Dan hujan yang menunggu pelangi..

18 Des 2011

Itu Saja

Saya ingin menjadi ada
Memiliki wujud, memiliki rupa
Tidak hanya sekadar nama, tapi juga punya maknanya
Tidak hanya sekadar aksara, tapi juga terangkai dalam kata
Lalu menjadi cerita

Saya ingin menjadi ada
Yang bukan hanya sekadar karena terbiasa

Saya ingin menjadi ada
Itu saja

-bukan untuk siapa-siapa, murni asal belaka

16 Des 2011

Pasti..

Mungkin saya tidak bisa melihat segelap apa di sana. Apa sehitam antariksa? Atau terang tapi berdebu seperti jalanan Jakarta berasap Kopaja?

Saya mungkin tidak bisa merasakannya juga. Saya cuma bisa berasumsi, memberdayakan segala emosi, berempati, mencoba menempatkan diri di posisi yang sama seperti yang kini kamu hadapi. Maaf, saya mungkin sok tahu untuk berusaha tahu menjadi kamu. 

Mungkin presensi saya tak berarti, tapi setidaknya saya di sini. Izinkan saja telinga saya mendengarkan keluh dan amarah. Atau sekedar helaan napas jika vokal dan konsonan tak mampu berkolaborasi menyampaikan emosi.

Mungkin ini rasanya seperti saat dini hari. Semakin dingin, gelap, hingga sampai di titik hitam paling pekat. "The night is darkest just before the dawn", Harvey Dent berujar. Tetaplah kuat, sayang. Pasti, matahari akan terbit kembali.