19 Jun 2010

Why sky is the limit



Akan ada saatnya, kita sangat menginginkan sesuatu. Satu hal yang awalnya kita pikir mustahil. Bahkan mungkin kita tidak pernah terpikir untuk menginginkan hal itu.

Mimpi itu kita beri wujud, kita beri bentuk. Kita namai menjadi sesuatu yang memacu kita untuk berlari.

Kemudian mimpi itu kita gantung di langit. Ya, langit. Bukan langit-langit. Ini menjadikan kita semakin sadar, hal itu bukanlah hal yang bisa kita raih. Terlalu tinggi.
Seberapa tinggi? Tak tahu, bahkan tidak terukur..

Mimpi itu kemudian menjadi alasan mengapa kita belajar. Mimpi itu menjadi tujuan ke mana kita melangkah. Mimpi itu harusnya akan menjadi hadiah dari segala keringat yang harus kita keluarkan.

Sayangnya, kemustahilan itu kemudian menjadi penghalang. Tak jarang kita terjatuh saat mulai beranjak terbang. Tak jarang kita mengeluh saat mulai merasa lelah.

Tak jarang, kita menyerah di tengah perjalanan yang seakan tak pernah berakhir.

Tapi sadarkah kita,
ketika kita menggantungkan mimpi kita di langit, kita tidak pernah berjalan di dalam ruang yang kosong?

Kita bisa bertemu Bintang.

Menyentuh Awan.

Menyapa Burung-burung yang terbang berkeliaran.

Ikut mewarnai Pelangi.

Kalau beruntung, kita bisa bercengkerama dengan Bulan atau membuka percakapan dengan Matahari.

Ya, ini yang kita harus percaya: tidak ada hal yang sia-sia. Meski kita harus terhenti di satu tingkat atmosfer langit, tapi itu cuma sementara.
Mungkin kita hanya diminta istirahat karena terlalu lelah. Atau diminta meresapi pelajaran yang sudah diperoleh dan mengaplikasikannya dulu sebelum melanjutkan perjalanan.

Jangan berhenti terbang.

17 Jun 2010

Intermezzo

Beberapa minggu ini adalah minggu supersibuk untuk sebagian besar (atau tepatnya, semua) mahasiswa di kampus saya. Di saat anak-anak kampus lain udah berleha-leha libur atau udah bilang "minggu ini terakhir UAS!", saya dan teman-teman senasib masih harus menghabiskan malam bersama menyusun makalah dan segala hal lainnya.

Nggak jarang pada akhirnya saya ngabisin hari-hari saya demi tugas. Bahkan weekend juga! Efeknya sih, saya akhirnya ansos banget nggak bisa ikut temen-temen saya pada pergi jalan-jalan..

Capek? PASTI.

Rasanya semua deadline menumpuk -dan memang menumpuk!- dan saya udah nggak tau lagi harus membagi waktu kayak apa. Skill time management yang mungkin dulu bisa jadi andalan ternyata sekarang nggak ada apa-apanya. Kemampuan organizing yang rapi dan berhasil menciptakan agenda pribadi yang lucu itu jadi sekedar tulisan biasa yang bahkan saya lupa buka pada akhirnya.

Tapi walaupun saya mengeluh kelelahan, menyumpahi tanggal dan hari yang berlalu terlalu cepat, saya masih bisa menikmati kehidupan sibuk ini. Aneh kayaknya. Tapi nggak tau kenapa saya itu lebih suka ada di situasi di mana saya harus ngerjain sesuatu daripada diem nggak ada kerjaan.

Kayaknya sensasi panik dikejar deadline dan semangat untuk ngerjain sampe titik batas penghabisan itu membangkitkan adrenalin. Hahaha.

Dan untungnya, kelompok-kelompok kerja yang saya tempati juga menyenangkan sekali.. Sayang rasanya harus pisah dengan mereka dan dengan kelas 1B ini di tahun depan. Haha jadi melankolis.

Hmm sepertinya tulisan saya ini tanggung banget ya. Maaf deh.. Saya lagi penat banget habis liat angka melulu bikin makalah. Tapi sepertinya saya harus balik ke Ms. Word, jadii...... selamat berlibur teman-teman (yang libur!)