Langsung ke konten utama

Postingan

Jangan Menyerah Katanya

"Jangan menyerah" " What doesn't kill you makes you stronger " "Lo kuat, pasti bisa" Begitulah kira-kira sekian dari jutaan kalimat motivasi yang dulu menjadi senjata ketika saya merasa terpuruk dan tersesat di rimba kehidupan. Itu klise, memang. Tapi karena orang-orang terdekat selalu menanamkannya, sekarang diri saya sudah begitu menyatu dan berusaha meresapinya sepenuh hati. Dengan segala cara pikir tersebut, "bertahan" seakan menjadi pilihan paling heroik yang bisa saya lakukan. Menjadi "pejuang" mulai didefinisikan sebagai "hadapi walaupun harus setengah mati". Saya pun menjadi pengikut sejati suatu peribahasa yang bilang, "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian". Lihat, saya tidak menyerah. I AM stronger . Saya bisa kok, kan saya kuat. Sayangnya, dengan kondisi sekarang, sepertinya kegigihan ini mulai salah makna. Semua justru mempertanyakan kenapa harus menikmati menderita. Semua memi...

Menu Hari Ini

Kali ini kamu memilih teri. Diselingi dengan ayam goreng dan sambal terasi. Sederhana, tapi membantu menambah variasi dari kehidupan nyata yang monoton dan tanpa henti. Lain waktu kamu hanya mengambil tahu. Dengan sedikit siraman kuah labu, menyantapnya datar sekadar mengisi waktu. Terlihat jelas itu bukan favoritmu. Ketika ada perayaan besar, daging panggang mewah terhidang bersama pendamping saus tartar. Kamu menikmatinya dengan sabar, memotongnya perlahan agar tidak cepat habis tanpa sadar. Satu hal yang selalu saya perhatikan, selalu ada nasi putih yang jadi pasangan. Apapun yang jadi pilihan, nasi putihmu dengan setia menemani setiap suapan. Saya percaya kamu tidak lupa dengan kehadirannya. Kamu hanya terlalu terbiasa ia ada. Kamu percaya dan tahu pasti ia akan selalu di sana, tanpa kamu minta. Mendengarkan keluhanmu tentang masakan yang kurang asin, Tersenyum melihatmu menghabiskan sayur dengan lahap, Tertawa diam-diam atas perjuanganmu melawan duri halus dalam ikan ka...

Malam Kelam, Diam.

Kali ini ia hanya duduk di pinggir jendela, menikmati malam di dalam secangkir kopi hitam. Perlahan diaduknya cairan penuh kafein yang sudah mendingin, sekadar membentuk pusaran agar tidak membosankan. Tidak ada suara. Hanya denting besi sendok beradu dengan melamin murahan yang jadi pasangannya. Kali ini ia hanya duduk di pinggir jendela, menikmati kelam di dalam secangkir kopi hitam. Perlahan diketuknya kenangan yang sudah berkarat tersimpan, sekadar memastikan mereka masih ada dan tidak lenyap dimakan zaman. Tidak ada kejutan. Hanya putaran video lama berulang-ulang dengan luka dan tawa yang sama. Kali ini ia masih duduk di pinggir jendela, menikmati diam di dalam secangkir kopi hitam. Perlahan dipanggilnya jiwa yang sedang melanglang buana entah di mana. .. tidak ada balasan.. Maka kini ia pun tetap terduduk di pinggir jendela. Tanpa nyawa. -tulisan acak pada salah satu malam bulan sabit

Mungkin

Mungkin harusnya sesederhana itu. Sesederhana menulis tanpa berpikir. Membiarkan jari-jari menekan tuts merangkai huruf menjadi diksi. Membiarkan logika berbaur dengan imajinasi dan membentuk fiksi, membangun kerangka cerita yang seakan nyata padahal fana, atau sebaliknya: seakan dongeng padahal harap.

Sepenggal Kisah dari Buniayu (part II)

..lanjutan dari sini :) Panggilan bangun pagi dari para guide di Buniayu yang berkabut menandakan dimulainya petualangan uji nyali (untuk saya). Saya dan teman-teman terbangun dengan menggigil hebat, terlebih di malam sebelumnya kami underestimate udara di sana yang memang tidak dingin saat kami tidur. Kami lupa tempat tidur kami hanya berdindingkan anyaman bambu dan "pintu tanpa daun pintu". Kurang lebih setengah jam kami mempersiapkan fisik dan mental sampai akhirnya berganti kostum untuk memulai petualangan sebenarnya. Badan saya masih menggigil, tapi sepertinya bukan lagi karena suhu udara tetapi karena rasa takut yang menyergap. Sepanjang jalan ketegangan saya semakin meningkat sampai Max, salah satu sahabat, berpesan: "walaupun takut jangan lupa napas ya!" Benar saja, sesampainya di mulut goa, napas saya sudah tidak beraturan. Goa ini berada tepat di bawah kaki, dan lubang yang bisa dilalui tidak selebar itu. Kami akan masuk dengan bergantung pad...

Sepenggal Kisah dari Buniayu (part I)

" You never know how strong you are, until being strong is your only choice " -Bob Marley Kutipan di atas mungkin terkesan berlebihan, tapi kalimat tersebut adalah motivasi terbesar saya untuk mengikuti perjalanan yang akan saya kisahkan kali ini. Cerita ini tentang liburan singkat pada akhir pekan yang terselip di antara padatnya lembur di kantor, tentang 48 jam yang saya habiskan dengan 8 orang hebat, tentang renungan yang tertinggal dan membekas lebih lama dan lebih dalam dibandingkan lebam, nyeri otot, dan gejala flu berat yang tersisa setelahnya. Goa Buniayu, Sukabumi, Jawa Barat. Tujuan yang terdengar eksotis, bukan? Apalagi untuk yang kenal saya secara pribadi.. hahaha. Benar-benar butuh keberanian ekstra sebelum saya memutuskan untuk mengikutinya. Perjalanan dimulai dengan kereta api Jakarta-Bogor-Sukabumi. Ini pertama kalinya saya naik kereta ekonomi duduk ke luar kota, dan pas sekali saya "terdampar" di gerbong terpisah dengan teman-teman yang...