21 Jun 2014

Sepenggal Kisah dari Buniayu (part II)

..lanjutan dari sini :)


Panggilan bangun pagi dari para guide di Buniayu yang berkabut menandakan dimulainya petualangan uji nyali (untuk saya). Saya dan teman-teman terbangun dengan menggigil hebat, terlebih di malam sebelumnya kami underestimate udara di sana yang memang tidak dingin saat kami tidur. Kami lupa tempat tidur kami hanya berdindingkan anyaman bambu dan "pintu tanpa daun pintu".

Kurang lebih setengah jam kami mempersiapkan fisik dan mental sampai akhirnya berganti kostum untuk memulai petualangan sebenarnya. Badan saya masih menggigil, tapi sepertinya bukan lagi karena suhu udara tetapi karena rasa takut yang menyergap. Sepanjang jalan ketegangan saya semakin meningkat sampai Max, salah satu sahabat, berpesan: "walaupun takut jangan lupa napas ya!"

Benar saja, sesampainya di mulut goa, napas saya sudah tidak beraturan. Goa ini berada tepat di bawah kaki, dan lubang yang bisa dilalui tidak selebar itu. Kami akan masuk dengan bergantung pada seutas tali dan diturunkan tanpa menjejak apapun. Untuk itu, di sana sudah ada tiga orang guide yang stand by, Kang Iwan dan dua rekannya (maaf saya lupa nama yang lainnya). Satu orang membantu mengikat harnest, satu orang menahan berat badan peserta, satu orang lagi akan ikut turun bersama kami di dalam goa.

Sebagai orang yang paling takut, saya kebagian masuk goa belakangan. Butuh perjuangan (mental) ekstra sampai akhirnya saya menggantung sempurna pada seutas tali yang diikatkan ke tubuh saya. Ketika mata saya terbuka, saya cuma bisa memasrahkan diri diturunkan 18 meter ke bawah sampai kaki saya menjejak tanah nanti. Itu mungkin puluhan detik paling lama yang ada dalam hidup saya, dan sedihnya saya jadi tidak bisa menikmati keajaiban pemandangan sekitar saking sibuk berdoa selamat sampai di tanah hahaha.

Dan sekali lagi, ternyata petualangan baru dimulai. Selama 5 jam menelusuri goa vertikal ini, saya benar-benar dihadapkan pada hal yang selama ini tidak pernah saya bayangkan.





Menggantung pada tali pada ketinggian 18 meter? Cek.
Menuruni tebing sempit dengan punggung? Cek.
Mengalami gelap abadi? Cek.
Melewati zona lumpur 800 meter? Cek.
Menyusuri goa sepanjang 2 km? Cek. 

Tapi memang, di setiap tantangan pasti ada reward-nya. Di sini, saya bisa memandangi secara langsung hal ang biasanya saya lihat dari film ataupun internet. Stalaktit dan stalakmit yang tersusun dengan cantik membuat semua jadi worth it. Selesai dari goa pun, kami masih mendapat kesempatan berendam di air terjun (di mana perjalanan menuju air terjun pun penuh tantangan dan berbatu-batu).



Namun, dibalik keindahannya, alam selalu punya cara untuk mengajarkan manusia. Kang Iwan sempat sharing mengenai pengalamannya terjebak di dalam goa akibat hujan, yang membuat ia dan tamunya harus menggantung di antara stalaktit untuk tetap bernapas di atas permukaan air. Bukan cerita yang menyenangkan tentunya, tetapi ini jadi pengingat bahwa kita tetaplah makhluk kecil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan semesta. 

Seperti yang saya katakan di awal kisah, perjalanan ini memiliki kesan yang sangat mendalam bagi saya.
"You never know how strong you are, until being strong is your only choice"

-Bob Marley
Memang, kutipan di atas adalah motivasi terbesar saya dalam mengikuti perjalanan ini: perjalanan pertama saya menghadap alam yang sebenarnya, perjalanan pertama saya bersama tiga sahabat sejak SD, perjalanan pertama saya dengan lima teman baru lainnya. Perjalanan ini sungguh menguji keberanian diri saya melawan segala ketakutan yang ada, mengingatkan saya untuk tidak mengeluh, dan mengajarkan saya untuk percaya dan saling melindungi.

Ya, cerita ini memang tentang liburan singkat pada akhir pekan yang terselip di antara padatnya lembur di kantor. Tapi tidak hanya itu. Ini semua tentang 48 jam yang saya habiskan dengan 8 orang hebat, tentang renungan yang tertinggal dan membekas lebih lama dan lebih dalam dibandingkan lebam, nyeri otot, dan gelaja flu berat yang tersisa setelahnya.




*info tentang Buniayu antara lain bisa dilihat di:http://www.buniayucave.com/
http://www.indonesiangeographic.com/destination/Buniayu_Cave__Sukabumi_1201070402#Buniayu_Caving__Sukabumi_1201070412
**photo credits: Larissa, Dinurrahma



20 Jun 2014

Sepenggal Kisah dari Buniayu (part I)

"You never know how strong you are, until being strong is your only choice"
-Bob Marley


Kutipan di atas mungkin terkesan berlebihan, tapi kalimat tersebut adalah motivasi terbesar saya untuk mengikuti perjalanan yang akan saya kisahkan kali ini. Cerita ini tentang liburan singkat pada akhir pekan yang terselip di antara padatnya lembur di kantor, tentang 48 jam yang saya habiskan dengan 8 orang hebat, tentang renungan yang tertinggal dan membekas lebih lama dan lebih dalam dibandingkan lebam, nyeri otot, dan gejala flu berat yang tersisa setelahnya.

Goa Buniayu, Sukabumi, Jawa Barat. Tujuan yang terdengar eksotis, bukan? Apalagi untuk yang kenal saya secara pribadi.. hahaha. Benar-benar butuh keberanian ekstra sebelum saya memutuskan untuk mengikutinya.

Perjalanan dimulai dengan kereta api Jakarta-Bogor-Sukabumi. Ini pertama kalinya saya naik kereta ekonomi duduk ke luar kota, dan pas sekali saya "terdampar" di gerbong terpisah dengan teman-teman yang lain. Baiklah, ambil hikmahnya: total perjalanan selama hampir 4 jam saya nikmati dengan tidur tanpa gengsi dengan kanan kiri :D

Singkat cerita, setelah bertemu dengan teman-teman yang lain di Sukabumi dan berganti moda transportasi, kami langsung menuju lokasi. Beruntung, dua hari kami di Buniayu sangat cukup untuk menelusuri dua goa yang berbeda: Goa Angin dan Goa Siluman. Goa Angin adalah goa horizontal yang bisa dilalui hanya bermodalkan sepatu boots, helm, dan headlamp. Bisa dikatakan, track ini masih "pemanasan". Meskipun demikian, kami harus menuruni anak tangga yang cukup banyak dan agak licin, plus bertemu dengan serangga dan penunggu goa lainnya seperti kelelawar. Sekitar enam puluh menit yang kami habiskan di sini sudah cukup memperlebar batas toleransi orang-orang OCD** terhadap lumpur. Saya yang tadinya sok pakai sarung tangan akhirnya menyerah dan pasrah menancapkan jari-jari di lumpur super tebal supaya tidak terpeleset.


Menuju Goa Angin


Saat masuk ke dalam goa dan dihadapkan dengan bebatuan besar dan suara aliran air, pikiran saya langsung sibuk bercengkerama. "Gimana ya manusia yang hidup di dalam goa? Apa yang mereka rasakan saat melihat cahaya?" "Hewan di sini katanya buta, hebat juga mereka bisa bertahan.." Masih banyak pemikiran random yang berkecamuk di otak saya. Intinya satu, semua berujung pada rasa syukur berlimpah kepada Sang Pencipta.

Sisa waktu sekitar 20 jam sebelum hari berganti kami habiskan dengan makan, bermain kartu, dan tidur di saung terbuka di mana angin lalu lalang dengan enaknya. Pukul 06.00 pagi hari berikutnya kami pun dibangunkan untuk sarapan dan bersiap. Sejak itu, petualangan dimulai!

berlanjut di post ini:)

*info tentang Buniayu antara lain bisa dilihat di:http://www.buniayucave.com/
http://www.indonesiangeographic.com/destination/Buniayu_Cave__Sukabumi_1201070402#Buniayu_Caving__Sukabumi_1201070412
**OCD: Obsessive Compulsive Disorder
***photo credit: Larissa