30 Agt 2012

Paradoks Dunia

Rasanya, dunia itu kecil.

Semakin usia bertambah, rasanya orang-orang yang kita temui belakangan ini ternyata punya hubungan erat dengan relasi terdekat kita. Si A, teman baru kita, ternyata sepupunya sahabat kita jaman SD. Si B yang kita sebelin banget ternyata sahabatnya temen deket kita waktu dulu. Atau si C yang baru kita kenal kemarin ternyata temen kosannya tetangga kita. Dan tentu masih banyak ternyata lainnya yang kita temukan.

Semua saling terkoneksi, tidak cuma memunculkan hubungan baru antarpersona tetapi juga membangun rantai yang melintasi waktu. Ketika dirunutkan, bisa saja ternyata semua kejadian yang dulu punya sudut pandang baru karena ada tokoh lain yang baru kita sadari berikutnya.

Kalo meminjam istilah situs jaringan sosial tersohor itu, "mutual friend" ini juga membantu kita untuk kembali menemukan kontak para sahabat yang hilang entah di mana. Terkadang, bukan eksistensi dirinya yang hilang secara harafiah, tetapi eksistensi hubungan yang pernah terjalin. Mereka seakan menyimpulkan kembali ujung tali yang sempat terpisah dunianya. Topik yang tidak lagi sama, kemudian disatukan karena ada penengahnya: ya, si "mutual friend ini".

Rasanya, dunia ternyata kecil.

Kadang suka nggak habis pikir juga.. Bisa-bisanya dari berapa miliar penduduk di muka bumi ini kita ketemu teman kuliah ketika berpetualang ke benua seberang. Atau ketika mudik ke rumah kerabat, tiba-tiba kita ditegur sapa oleh guru Matematika jaman dahulu kala.

Tapi apa benar, dunia itu kecil?

Belakangan, saya tidak lagi merasakannya. Dunia seakan menjadi maze tidak berujung saat yang pernah ada dan selalu ada, kini menghilang lenyap. Tanpa jejak, tanpa bayangan.

9 Agt 2012

About Giving (Too Much)

Mungkin ada saat di mana kita mau menyerah ketika merasa kita terlalu banyak memberi. Ketika itulah, rasanya apa yang kita lakukan semuanya sia-sia, bahwa apa yang kita dapatkan itu nggak sepadan. Terus, muncul satu perasaan paling mengesalkan: penyesalan.

But, is giving too much the actual reason why we quit?

I guess not.

Ketika kita merasa giving too much, saat itulah konsep "hitung-hitungan" sudah muncul di kepala. Padahal, nggak semua hal bisa didasarkan pada hal tersebut. Mungkin, itulah yang dilakukan oleh orang yang rasional. Tapi apa iya, hidup kita semuanya dijalankan hanya dan hanya pada logika?

In my humble opinion, mungkin alasan kenapa kita merasa sia-sia adalah karena kita sudah kehabisan alasan untuk melakukan itu.

Atau,
karena kita sudah nggak lagi percaya alasan itu ada.