11 Mar 2012

Seperti Hugo Berkata..

"I'd imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured if the entire world was one big machine... I couldn't be an extra part. I had to be here for some reason."
"Maybe that's why a broken machine always makes me a little sad, because it isn't able to do what it was meant to do... Maybe it's the same with people. If you lose your purpose... it's like you're broken." - Hugo Cabret 
Termenung. Saya mengutip kalimat itu di sebuah film adopsi dari sebuah novel karangan Brian Selznick. Yang berbicara adalah anak kecil, yang pintar mengutak-atik sebuah mesin, yang selalu memiliki keinginan untuk memperbaiki sesuatu. Tapi buat saya, kata-kata itu bukan sepele. Bukan sekadar dialog film yang kemudian lewat begitu saja, atau yang dinilai bagus dan dikutip ulang di media sosial sebelah. Kalimat itu dengan hebatnya terngiang-ngiang dan menciptakan tanda tanya besar.

Apa alasan saya ada di sini?
Apa tujuan saya?

Rasanya saya butuh beberapa saat untuk merunut kembali keputusan-keputusan yang saya ambil sampai sekarang. Rasanya saya butuh lembaran kertas yang panjang, untuk menghubungkannya dengan mimpi-mimpi yang terbesit sampai detik ini. Kalau saya sadari, ada yang sebenarnya sejalan. Tapi tak sedikit yang bertolak belakang.

Lalu muncul pemikiran, kenapa menghabiskan waktu di tempat yang tidak sesuai dengan tujuan awal?

Kenapa tidak berani untuk berjalan sesuai passion? Kenapa harus gengsi?

Lagi-lagi saya menyalahkan diri sendiri. Tapi yasudah, tidak berguna rasanya untuk menyesal. Sekarang saatnya menikmati apa yang sedang saya jalani, mungkin saya di sini supaya bisa tau ada apa di luar sana, selain yang selama ini saya cari. Tak lupa juga mulai sekarang saya harus mencari 'jalan tembus' lain. Bukan untuk lari.. Saya cuma ingin menghubungkan titik saya berdiri sekarang dengan cita-cita yang selalu ada di dalam hati.

6 Mar 2012

Salam dari Babakan Sari

Tiga puluh hari saya tinggal di rumah seorang juragan sawah dan dua cucunya, ditambah sebelas orang lainnya: sesama mahasiswa satu kampus yang punya karakter berbeda dan tak jarang menimbulkan drama.

Program yang bahasa kerennya disebut "Community Development 2" ini adalah salah satu mata kuliah yang harus saya ambil di semester genap ketiga ini. Kami diwajibkan live in di desa selama satu bulan dalam rangka mewujudkan visi mulia untuk membantu kesejahteraan penduduk sekitar, dan harus memantau perkembangannya selama lima bulan ke depan. Tahun ini, lokasi program adalah Cianjur, Jawa Barat. Sudah dua kali tempat ini dijadikan sebagai tempat pelaksanaan in village living dari Comdev 2. Saya pikir, mungkin salah satu faktornya adalah roda perekonomian daerah ini mulai sedikit seret. Lihat saja, jalanan Cianjur yang tadinya ramai mulai kosong karena bergantinya akses favorit penduduk ibukota ketika ingin berkunjung ke kota bunga..

Sebagai sekolah bisnis, tentu saja cara kami adalah membangun jiwa kewirausahaan itu sendiri. Kami terbagi menjadi 19+1 kelompok:

Ada 19 kelompok yang disebut builder, di mana tiap kelompok tinggal bersama penduduk asli, yang kemudian menjadi mitra mereka. Berbekal ilmu yang kami dapat dari sekolah, bersama mitranya mereka menjalankan bisnis. Produknya bermacam-macam, dari kerudung sampai keripik. Dari ikan sampai kulit singkong.

Ada 1 kelompok lain yang disebut energizer, di mana tugasnya berbeda dengan tugas 19 builder lainnya. Energizer bertugas sebagai distributor, membuka jalur distribusi di mana produk hasil buatan builder nantinya akan dipasarkan. Selain itu, energizer juga memiliki tugas-tugas khusus seperti bertindak sebagai penanggung jawab acara sosial angkatan, bazaar, dan juga membantu pendirian organisasi dari mitra itu sendiri.

Untuk saya pribadi, kegiatan ini sungguh merupakan kesempatan yang membuka mata saya. Banyak hal yang baru saya sadari ketika saya berada dalam lingkungan ini. Belajar adaptasi? Sudah pasti. Bukan saja masalah infrastruktur yang tentu nggak bisa saya bandingkan dengan kemewahan ibukota. Kultur dan karakter masyarakatnya sendiri adalah hal menarik. Beruntung, saya berkesempatan berinteraksi dengan berbagai macam orang di sini. Yang pahit jadi pelajaran, yang manis jadi teladan :)

Pembelajaran pun sebenarnya tidak hanya bergulir dalam relasi dengan masyarakat desa. Interaksi di dalam kelompok yang notabene sama-sama mahasiswa pun menjadi suatu cerita tersendiri. Kebersamaannya nyata, karena tiga puluh hari rasanya terlalu lama untuk bersembunyi dalam image yang berusaha dijaga. 

Masih ada lima bulan yang menunggu untuk dijajal bersama.. 
Masih ada waktu untuk menjadi semakin dewasa.

Salam dari Babakan Sari

Rumah Ibu Rohmah, Cianjur 2012 - by F.A.L.K