19 Agt 2011

The clock is ticking

Dan sekarang saya sadar bahwa umur saya dalam beberapa hari akan mendekati kepala dua. Kepanikan yang saya rasakan pasti sama dengan temen-temen seangkatan dan orang-orang lain yang telah melewati fase ini.
Sebagian kita panik, belum melakukan apapun padahal hidup udah seperlima abad. Tapi kemudian ada tiga tipe orang yang muncul setelah benar-benar menginjak umur 20:
1. Mereka yang panik, membuat plan, dan langsung melakukan hal-hal untuk membuat hidupnya makin berarti di usia kepala dua ini
2. Mereka yang panik, membuat plan, dan setelah itu hanya menganggap: "ah, ternyata umur 20 biasa aja, kok"
3. Mereka yang menganggap kita yang panik ini berlebihan dan berkata: "apalah arti angka?"
Buat saya, angka itu penting. Itu menunjukkan apa saja yang telah saya habiskan selama 19 tahun ke belakang dan kemudian ada satu hal yang saya sadari: I always play safe and do not like risks.
Dari seluruh keputusan yang saya ambil, seperti tentang ingin ikut les, ekskul, memilih jurusan, memilih sekolah, ikut lomba, sampai keputusan kecil seperti memilih makanan dan membeli baju dan sepatu, hampir 80% yang saya pilih adalah sesuatu yang pernah saya lakukan sebelumnya atau orang terdekat saya pernah lakukan. Tapi bukan berarti saya tidak pernah mencoba mengambil risiko lho.
Sampai usia 19 tahun lebih 11 bulan beberapa hari ini, ada tiga keputusan terbesar dalam hidup yang saya pernah saya ambil:
1. Saya memilih untuk bersekolah di SMA negeri
Budayanya ternyata emang beda banget sama yang pernah saya rasakan selama sekolah dari TK sampai SMP (dan kuliah). Apalagi, di keluarga, cuma saya satu-satunya yang sekolah di negeri. Perjuangan sekolah di sini nggak cuma saya yang ngerasain (belajar gila-gilaan, pulang malem, menghadapi heterogenitas yang super variatif) tapi juga sama orang tua dan adek kakak saya (nganterin bolak balik ciputat-tebet, nggak bisa banyak liburan, dan kena omelan kalo saya lagi stres, hehe). Makanya sekarang sering banget masih muncul "kok bisa ya milih di sana?". Well, saya juga nggak tau. Tapi yang pasti, pengalaman tiga tahun di sini itu sangat unik dan nggak bisa dibandingin sama pengalaman remaja lain yang bersekolah di tempat yang lain :) Anyway, I miss my IPABarbarians dan para sahabat...
2. Saya memilih untuk tidak mengambil kesempatan kuliah di universitas negeri
Ini juga termasuk keputusan berisiko besar, apalagi jalur saya yang SMA di negeri.. kok abis itu ngelepas negeri dan milih ke swasta? Saya tau apa yang saya pilih mungkin beda sama yang diharapkan orang-orang. Saya juga ngerasain kok, belajar gila-gilaan selama SMA, terutama di tahun ketiga demi ujian masuk perguruan tinggi. Masih inget banget gimana selama semester dua itu saya dan temen-temen sekelas udah nggak dengerin guru ngajar, tapi sibuk ngerjain soal SNMPTN tahun lalu. Saya juga inget, kita juga jarang keluar istirahat makan siang dan milih untuk belajar. Bahkan kita cabut kelas bukan untuk main, tapi untuk ke BTA dan belajar di sana. Itu pengalaman yang nggak pernah saya lupakan dan saya bangga akan itu haha.
Selain itu, saya juga kecewa banget waktu saya ditolak. Rasanya perjuangan saya sia-sia. Ada juga rasa iri akan keberhasilan teman-teman yang lain.. Tapi kemudian saya juga senang banget pas bisa mendapat kesempatan masuk di universitas negeri paling favorit di muka bumi Indonesia ini, meskipun di jurusan pilihan ketiga.. Tapi kemudian saya sadar kayaknya tempat saya bukan di pilihan ketiga itu. Dan terbukti, sekarang saya tidak menyesal untuk banting setir gila-gilaan berkuliah di sini, sekolah bisnis yang masuk dalam sekolah bisnis terbaik di Indonesia :)
3. Saya memilih untuk mencoba mencalonkan diri dalam pemilihan umum di kampus
Ini juga pengalaman yang saya sampe heran kok waktu itu saya berani ikutan ginian. Padahal siapa saya, nggak kenal siapa-siapa juga. Dan risiko terbesar yang saya pikirkan ternyata menjadi kenyataan. Saya kalah di pemilihan itu dan saya malu, sampai sekarang sebenernya. Beberapa saat saya down, dan itu semua tertulis di beberapa post sini. Tapi itulah yang kemudian membuat saya menjadi belajar dan bisa menjadi bagian dari organisasi kampus. Yah, seperti yang saya tulis di sini.
Ada lah.. beberapa "what ifs" yang muncul, yang kadang kalo saya down banget saya mikir kenapa saya melakukan itu. Tapi kalo lagi mikir sendiri, justru itu yang membuat saya bisa seperti sekarang kan? Buktinya saya bisa survive berada di tempat yang keras, menemukan hal menarik di tempat yang baru, dan memperoleh hal positif dari kekalahan. Ternyata, emang bener, berani ambil risiko itu membuka mata kita untuk melihat sisi lain dari dunia.
Oleh karena itu, untuk resolusi ulang tahun kali ini, atau yang kemudian saya sebut resolusi kepala dua, saya cuma pengen saya mulai berani melakukan apa yang sebelumnya tidak berani saya lakukan. The clock is ticking. Mau sampe kapan lagi saya nunggu untuk melakukan itu? Iya kan?

8 Agt 2011

Membuka Kembali Jendela Dunia


Saya lupa bagaimana serunya membaca (buku). Menelusuri kata demi kata, membayangkan suasana dan membiarkan imajinasi terkuak tanpa terkendali. Tidak peduli perut lupa diisi nasi, atau ternyata sinar matahari sudah berganti dengan cahaya elektronik, halaman demi halaman masih menanti untuk dijelajah. Rasanya, memberhentikan diri sejenak untuk sekedar mengambil air itu seperti menyia-nyiakan petualangan di antara huruf cetakan berspasi rapat.

Saya lupa, bagaimana saya bisa membayangkan diri menjadi orang yang lain ketika terlibat penuh dalam cerita yang saya baca. Tak jarang, emosi ikut terbangun seiring alur cerita berjalan. Bahkan saya terkadang lupa bahwa saya masih berada di ruangan di dalam rumah. Pikiran saya sudah berkeliling ke seluruh dunia melintasi kota-kota yang ada dalam lembaran hidup si pemeran tokoh utama.

Dan satu buku ini telah kembali mengingatkan saya bahwa jejaring sosial dan dunia maya tidak akan pernah bisa mengalahkan mantra sastra. Barisan huruf cetakan rapi, suara gemersik kertas yang beradu dengan jari, kepanikan mencari kertas pembatas, masih nggak ada duanya.